Rabu, 12 Maret 2014

Home » » Walhi: Hanya 7 Persen Caleg yang Pro-Lingkungan

Walhi: Hanya 7 Persen Caleg yang Pro-Lingkungan

Pengguna jalan melintas di depan baliho Alat Peraga Kampanye (APK) Caleg di Kudus, Jateng, Rabu (20/11) | (FOTO: ANTARA/Andreas Fitri Armoko)

Mafaza-Online.Com|JAKARTA - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abetnego Tarigan mengatakan hanya segelintir calon legislator yang pro-lingkungan. "Hanya 7 persen caleg yang pro-lingkungan," kata Abet seusai Seminar Nasional Melestarikan Hutan Melalui Pemilu 2014 di Jakarta, Senin, 10 Maret 2014.

Abet menuturkan indikasi calon legislator yang dianggap peduli terhadap isu lingkungan hidup dapat dilihat dari hasil pantauan mereka pada kepemimpinan, integritas, data atau berita mengenai caleg yang bersangkutan terkait dengan lingkungan, komitmen, dan curriculum vitae. Namun Abet mengatakan masih belum bisa menyebutkan nama-nama caleg yang dimaksud.

Menurut Abet, hanya 45 persen calon legislator yang mengumpulkan curriculum vitae ke Komisi Pemilihan Umum. Padahal, kata dia, curriculum vitae yang lengkap dari para caleg penting untuk diketahui. Sebab, setidaknya dari situlah Walhi dapat menyortir siapa caleg yang peduli lingkungan.

Pemilu 2014 dianggap sebagai momentum penting untuk mendapatkan pemerintah yang pro-kelestarian lingkungan. Terutama sektor kehutanan yang kerap kali menjadi lahan korupsi, penggundulan (deforestasi), dan perusakan (degradasi). Dilaporkan, saat ini laju deforestasi telah meningkat tajam dalam 12 tahun terakhir. Pada periode 2000-2012, Indonesia telah kehilangan 15,8 juta hektare lahan hutan.

Dalam kesempatan yang sama, koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, mengatakan berdasarkan hasil investigasi ICW dan Koalisi Antimafia Hutan pada 2012, potensi kerugian negara dari 22 kasus korupsi sektor kehutanan mencapai Rp 9,24 triliun.

"Modusnya adalah alih fungsi lahan, seperti menjadi perkebunan sawit, pemanfaatan hasil hutan secara tidak sah, serta penghindaran dan manipulasi pajak," kata Emerson.

APRILIANI GITA FITRIA | TEMPO.CO

Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI.org)



Silakan diklik:
 



Share this article :

Poskan Komentar