Senin, 17 Maret 2014

Home » » Tragedi GBK

Tragedi GBK

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat menggelar kampanye akbar di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Ahad (16/3). | (Foto: Ricardo/JPNN.com)
Tak lama, aku berusaha bangkit, tiba-tiba kepala menjadi pusing dan pandangan mata gelap. Dalam keadaan setengah sadar aku digotong ke tenda medis

Mafaza-Online.Com|CITIZEN JOURNALISM - Dug! "Aaaaa!" Aku berteriak, kejadian itu sangat cepat. Tiba-tiba pipiku mendarat dengan keras di atas semen. Aku masih belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, setelah menengok ke belakang barulah mengerti.

Ternyata aku menginjak beton penutup selokan yang tidak stabil, ketika diinjak, beton itu menganga. aku terpelanting, menyisakan sedikit lecet-lecet di pipi, tangan dan kaki.

Sepasang suami istri mendekati, "Mba ga papa?"

"Iya, ga papa." Ucapku sambil duduk selonjor.

Tak lama, aku berusaha bangkit, tiba-tiba kepala menjadi pusing dan pandangan mata gelap. Dalam keadaan setengah sadar aku digotong ke tenda medis.

Saat itu sempat terlintas di dalam hati, "Apakah hari ini aku akan mati?" 

Sayup-sayup terdengar suara Maila bertanya, "Ummi kenapa?"

Ternyata suara mungilnya menjadi suntikan amunisi, aku berusaha untuk tetap sadar. Setelah dibaringkan di tenda medis sepasang suami istri itu pergi, aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.

Sepanjang perjalanan pulang kejadian itu membuatku berpikir, seandainya saat itu aku benar-benar mati, teriakan,"Aaaaa!" akan menjadi kalimat terakhir yang aku ucapkan, kalimat penutup di penghujung usia.

Jujur saja, bukan kalimat itu yang aku inginkan sebagai kalimat penutup usia. Kejadian itu membuat aku mengerti bahwa tidak mudah mengucapkan kalimat yang baik dalam kondisi yang serba cepat, mengejutkan, dan datang tiba-tiba. Semuanya merupakan spontanitas.

Bagaimanakah dengan kematian? Dia datang tiba-tiba, tanpa pemberitahuan, mengejutkan dan sangat cepat. Akankah lisan ini mampu mengucapkan kata-kata yang baik ketika kematian itu datang? Hanya keimanan yang jujur yang mampu memudahkan seseorang untuk berkata baik di penghujung usia.

Teringat olehku kisah kematian Ustz. Yoyoh Yusroh saat mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di tol Cileunyi. Sebelum hembusan nafasnya yang terakhir Ustz. Yoyoh Yusroh masih sempat mengucapkan kalimat syahadat. Kalimat itulah yang menjadi kalimat penutup usianya.

Lagi-lagi, hanya keimanan yang jujurlah yang memudahkan lisan seseorang untuk berkata baik di penghujung usianya. (FB Ummu Maila)



Silakan di Klik:

Share this article :

Posting Komentar