Minggu, 09 Maret 2014

Home » » Polemik The Act of Killing (2)

Polemik The Act of Killing (2)

Adegan The Act of Killing | (Foto: theactofkilling.com)
Tertipu Sang Sutradara

Mafaza-Online.Com|FEATURE - Empat tahun lalu, datang seorang bule ke Kota Medan, Sumatera Utara. Dia mencari narasumber untuk membuat film dokumenter soal pembantaian anggota Partai Komunis Indonesia dan etnis Tionghoa di provinsi itu hampir setengah abad lalu.

Setelah bertanya ke sana kemari, lelaki kelahiran Austin, Negara Bagian Texas, Amerika Serikat, bernama Joshua Lincoln Oppenheimer ini mendapat arahan buat menemui Anwar Congo. Dia bersama rekan-rekannya dari sebuah organisasi pemuda pada 1965 ikut membasmi ribuan anggota PKI dan warga keturunan China di seantero Sumatera Utara. "Saya waktu itu orang lapangan dan selalu hadir dalam tiap acara organisasi," kata Anwar saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya, Rabu pekan lalu.

Kepada Anwar, Oppenheimer fasih berbahasa Indonesia, menyatakan ingin membuat film mengenai pengalaman pria yang kini 72 tahun ini saat membantai anggota dan simpatisan organisasi terlarang itu. Oppenheimer mengaku film itu bagian dari disertasinya.

Oppenheimer pernah berkuliah di jurusan film di Universitas Harvard, Massachusetts, Amerika. Dia menyelesaikan program doktornya di bidang seni di Central Santi Martins College of the Art and Design, University of the Art London.

Anwar antusias mendengar hal itu dan dia langsung menyetujui rencana pembuatan film mengenai pembantaian itu. Apalagi, dia menjadi tokoh utama dalam film berjudul The Act of Killing itu. "Tidak pernah ada yang bikin sejarah kehidupan saya. Tentu ada kebanggaan. Makanya saya bercerita spontan dan blak-blakan saja," ujar pria mengaku lulusan kelas 4 SD ini.

Menurut Anwar, syuting berlangsung sekitar dua tahun mulai 2008. Selama itu pula, Oppenheimer bersama Anwar menjelajahi sejumlah lokasi pembantaian di Sumatera Utara, seperti Labuan Batu, Tanah Karo, dan Langkat.

Tiga bulan lalu, seingat dia, Oppenheimer datang menyodorkan surat perjanjian dalam bahasa Inggris. Tentu saja, Anwar tidak memahami isinya. Dia hanya meneken setelah Oppenheimer bilang mereka tidak ada lagi ikatan setelah pembuatan film selesai. "Saya merasa kalau saya dirugikan saya tidak bisa menuntut."

Dia mengaku sudah mewanti-wanti agar film itu diputar setelah dia meninggal. Ternyata, Openheimer pekan lalu menghubungi Anwar dan memberitahukan dokumenter soal pembantaian PKI itu bakal diputar dalam Festival Film Internasional Toronto. The Act of Killing mendapat jadwal pemutaran pada 8, 10, dan 16 September.



"Saya merasa tertipu. Ini memang kekeliruan saya. Film ini bisa saja berdampak buruk buat saya," ujar Anwar. Dia menegaskan hingga kini Oppenheimer tidak bisa dihubungi.

Merasa tertipu juga dialami Adi Zulkadry yang terlibat dalam film itu. "Saya merasa ditipu karena film itu dikomersialkan. Dia dapat untung, saya nggak dapat apa-apa," ujarnya saat dihubungi secara terpisah Kamis pekan lalu.

Seperti kepada Anwar, Oppenheimer juga mengaku terhadap Adi, film itu dibuat untuk menyelesaikan disertasi. Dia menyatakan senang mau membantu pembuatan film itu karena ingin kebenaran sejarah Indonesia diketahui dunia.

Adi mengakui ketika pembantaian PKI, dia termasuk pimpinan sebuah organisasi pemuda di Sumatera Utara. Dia menyatakan ikut pula membantai. "Saya tidak ingat karena itu pembantaian massal dan tidak dikerjakan sendiri-sendiri," ujarnya saat ditanya berapa orang dia bantai saat itu.

Namun dia menegaskan tidak menyesali keterlibatannya dalam pembantaian itu. "Ini bukan kemauan saya pribadi, ini kemauan sejarah," katanya. Menurut dia, pemerintah seharusnya bertanggung jawab memulihkan nama baik dan memberi ganti rugi kepada keluarga korban.

Ada kesan Oppenheimer - hingga tulisan ini dilansir belum bisa dimintai komentar - mengakui telah menipu kedua orang itu, terutama Anwar. "Dia mungkin suka atau tidak suka terhadap hasil akhir film," tulis dia dalam situs theactofkilling.com. Namun, dia memuji keberanian Anwar berbicara blak-blakan soal keterlibatannya dalam pembasmian PKI.


Faisal Assegaf | Merdeka.com | Senin, 3 September
 

Sebelumnya: Mengail Kontroversi Lewat PKI



Silakan diklik:
 
Share this article :

Posting Komentar