Senin, 10 Maret 2014

Home » » Ajak Warga Melawan Tanpa Konflik dengan Jurnalisme Kampung

Ajak Warga Melawan Tanpa Konflik dengan Jurnalisme Kampung

PEMBERDAYAAN: Alexander Mering (topi) mendorong warga untuk budidaya karet. Ia juga memberikan pelatihan jurnalisme kampung | (FOTO: Indopos)
Alexander Mering atau biasa disapa Mering berupaya menggerakkan pemuda putus sekolah dan perambah hutan di di Kampung Loncek, Kabupaten Kubu Raya. Kini, warga di sana tak lagi tergantung sepenuhnya dengan hutan. Mereka menjadi pembudidaya karet. Pemuda di sana juga menulis buku sejarah kampung dan adat istiadatnya. Mering pun terpilih menjadi Pelita Nusantara dan mendapat penghargaan dari Presiden Bambang Susilo Yudhoyono

Mafaza-Online.Com|FEATURE - KAMPUNG Loncek berada di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Letaknya sekitar 75 kilometer dari Kota Pontianak. Beruntung tak sulit untuk mencapai kampung yang didiami sedikitnya 200 kepala keluarga itu. Jalan yang ada dapat dilalui kendaraan bermotor. Kampung Loncek masuk dalam kawasan hutan produksi. Mereka pun tak bisa mengakses tanah mereka sendiri.

Akibatnya penduduk di sana tak ada alternatif pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka terpaksa menjadi perambah hutan dengan cara tradisional. Sesekali, penduduk di sana berburu. Sebenarnya warga Kampung Loncek juga menyadap karet. Tetapi karena produksi rendah, hasil yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi yang serba sulit membuat pemuda di sana ingin bangkit dan melawan.

Mering yang ketika itu menjabat sebagai Manager PNPM Peduli untuk Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara Kalbar pun mengajak mereka melawan dengan cara yang cerdas dan positif. “Sebab warga desa tidak ada pengacara. Perusahaan pasti bisa membayar pengacara. Akhirnya kami rapat kampung atau bahaump,” ujar Mering. Mereka pun melihat kondisi kampung. Mereka mengidentifikasi potensi yang bisa dilakukan di sana.

Salah satunya budidaya karet. Warga kampung tidak bisa menyertifikasikan tanahnya karena masuk dalam kawasan hutan produksi. Akhirnya tanah kosong yang ada ditanami dengan karet. Mereka pun membudidaya karet. Sebanyak tujuh warga desa diikutkan pelatihan pertanian organik di Bogor. Program yang didanai PNPM Peduli tersebut dilakukan dalam waktu singkat. Hanya setahun, dari 2011 sampai 2012.

Kini, terdapat 30 ribu bibit karet hasil budidaya. Warga pun menanam karet pada lahan rata-rata seluas seperempat hingga setengah hektar. “Sambil menunggu tanaman karet besar, mereka membuat kolam lele. Mereka membudidaya ikan, menjual sayuran, dan cabai,” kata suami dari Lidia Meidiana ini. Kini, terdapat Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas. Sebelumnya anggotanya hanya segelintir, kini bertambah menjadi 15 orang.

Sebelumnya mereka dicemooh oleh orangtuanya. Kini setelah terampil, giliran ibu-ibu yang belajar okulasi karet pada anaknya. Mering juga mengajak pemuda desa mendokumentasikan sejarah kampungnya. Paling tidak, jika suatu saat Kampung Loncek tak ada lagi, ada sejarah dan tulisan bahwa kampung tersebut pernah ada. Pemuda dilatih teknis menulis beberapa bulan. Tak hanya sejarah kampung, tulisan juga tentang adat dan istiadat di sana.

“Hasilnya, terbitlah buku (hasil tulisan) orang kampung pertama di Kalbar. Buku ini ditulis oleh anak-anak kampung,” katanya sambil tersenyum. 

Launching buku dilakukan di Yogyakarta pada Desember 2013. Buku itu tidak diperjualbelikan, melainkan didistribusikan ke sekolah-sekolah di Kalbar. Diharapkan buku tersebut dapat menginspirasi warga kampung lainnya agar berbuat hal yang sama.

Aktivitas warga Kampung Loncek pun menjadi perhatian masyarakat luas. Bahkan mendapat perhatian dari media cetak di Jerman. Dua sutradara terkenal dari Amerika juga berkunjung ke sana. Mering yang kini bekerja di USAID IFACS ini terpilih menjadi salah satu Pelita Nusantara, sumber inspirasi dan motor penggerak yang dapat memotivasi masyarakat untuk turut berbuat sesuatu bagi pembangunan.

Ia pun mendapatkan penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Mering, tak ada persiapan khusus untuk bertemu Presiden SBY. Ia hanya sibuk mencari pakaian batik lengan panjang. “Saya belum punya batik lengan panjang. Kalau lengan pendek ada. Rambut juga tidak saya potong. Tetap gondrong seperti ini,” kata Mering sambil menunjukkan rambut gondrongnya. 


CHAIRUNNISYA, Pontianak | Indopos


Silakan di Klik: 


Share this article :

Poskan Komentar