Minggu, 23 Februari 2014

Home » » Maqam Taubat

Maqam Taubat

Pintu gerbang menuju Jalan kepada Allah

Mafaza-Online.Com | TAFAKUR - Dalam kajian ilmu tasawuf ada istilah مقامات maqamat (jamak dariمقام  maqam). Maqam artinya tempat (berdiri). Yang dimaksud dengan maqamat adalah maqam-maqam yang mesti dilalui oleh seorang salik (murid) dalam rangka meraih keridhaan Allah di dunia dan akhirat. Dari sekian maqam-maqam yang harus ditempuh sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ruhani di hadapan Allah tersebut adalah maqam taubat.

Seorang hamba tidak akan bisa beribadah dengan sungguh-sungguh dan diterima Allah apabila jiwanya belum ditempa dalam maqam taubat. Shalat, puasa, zikir dan seluruh ibadah yang ditetapkan Allah atasnya tidak akan berfungsi dengan baik apabila tidak melalui pintu taubat.

Yang dimaksud taubat adalahرجوع إلى الله  Ruju’ ilallah (kembali kepada Allah). Seluruh manusia memiliki potensi untuk berbuat kesalahan, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits, kullu banii aadam khot-thoo-uun wa khoyrol khoth-thoo-iin at-tawwaabuun[1] (Setiap anak Bani Adam bedosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala [bertaubat]).

Taubat adalah bentuk usaha  jiwa (ruhani), batiniyah kita agar tetap berdiri pada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika ia melenceng dari jalan tersebut maka ia kembali lagi kepada rel kebenaran yang lurus.

Maqam taubat mesti dilalui sebagai sarana perbaikan diri dan pembersihan jiwa. Usaha taubat bukanlah kegiatan tahunan, melainkan rutinitas harian seseorang yang telah ditetapkan memiliki kekurangan dan kesalahan.

Esensi taubat pertama adalah al I’tiraf yakni pengakuan jujur dan tulus di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala kezhamilan, kemaksiatan, kesalahan yang telah dilakukannya. Dengan pengakuan obyektif tersebut ada harapan akan bimbingan dan pemeliharaan Allah.
  


Saat seseorang duduk merenungi kekurangan diri dan melakukan taubat adalah saat yang sangat mahal dan berharga dalam kehidupannya. 

Waktu di mana seseorang merasa hina, berlumur dosa, mengakui kesalahan di hadapan Allah merupakan momentum yang tinggi nilainya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena jiwa yang diselimuti kondisi tersebut akan senantiasa dalam bimbingan dan rahmat-Nya.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam memberikan informasi kepada umatnya bahwa waktu yang berbahaya bagi seseorang adalah di saat ia sedang merasakan sombong, ‘ujub (bangga), merasa hebat dan pintar, jiwanya tidak merasa butuh akan ampunan Allah SWT. Kondisi tersebut menyebabkan bimbingan dan rahmat Allah terputus kepadanya.

Dengan melakukan taubat dengan diiringi esensi I’tiraf-nya, ia akan menaiki maqam selanjutnya berupa seluruh rangkaian ibadah. Seluruh rangkaian ibadah hakikatnya jalan menuju Allah SWT dan Ridha-Nya. Shalat, puasa, membaca Quran, berzikir, berbuat kebaikan adalah jalan-jalan menuju kepada Allah. Begitu banyak jalan menuju kepada-Nya tapi pintu gerbangnya adalah satu, yakni taubat kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Qod aflaha man tazakkaa wa dzakarosma robbihii fashollaa[2] Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri, dan menyebut Nama Tuhannya lalu ia melaksanakan sholat. Akan berbahagia orang yang selalu membersihkan dirinya lewat taubat. Sholat, puasa, zikir, dan seluruh rangkaian ibadah yang dilakukannya akan menjadi efektif karena terlebih dahulu memasuki maqam taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sholat akan bermakna (berfungsi), dan menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘wa qimish sholaata lidzikrii’ dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku,[3] sholatnya akan menyambung kepada Allah sejak takbir hingga salam. Efek positif sesudahnya pun masih mewarnai sepak terjang dalam kehidupannya. Karena sholatnya didahului oleh maqam taubat. Sholatnya akan mampu memproteksi diri dari perbuatan fahsyaa dan munkar.

Sholat tidak akan bermakna apabila jiwa kita merasa hebat, tidak butuh akan ampunan Allah, merasa suci atau bersih di hadapan-Nya. Maqam taubat menjadi penting sebagai pintu gerbang jalan-jalan menuju kepada Allah, karena seluruh rangkaian ibadah tidak akan berfungsi dengan baik apabila tidak melewatinya.

Dari sekian jalan menuju kepada Allah terdapat satu jalan yang paling cepat untuk sampai kepada-Nya. Yakni zikir (aqrobut thuruq ilallaah). Dengan zikir akan menggerakkan hati tersambung kepada Allah. Zikir dilakukan dalam berbagai keadaan, baik berdiri, duduk maupun berbaring (qiyaaman wa qu’uudan wa’alaa junuubihim).[4] Kondisi demikian menunjukkan cara berzikir yang dapat dilakukan secara jahar (suara keras), khafi (suara perlahan) dan sir (dalam hati).

Dalam sebuah hadits disebutkan Kaana Rosuulullaahi Shallallahu ’alaihi wa sallam yadzkurullaaha fii kulli ahyaanih,[5] Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam hatinya selalu tersambung kepada Allah di setiap waktu, kapan pun dan di mana pun. Inilah puncak kualitas ruhaniyah seorang hamba di hadapan Allah. Hatinya rindu dan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir demikian merupakan jalan yang terdekat menuju Ridha Allah. Seluruh panca inderanya berada dalam bimbingan Allah. Akan muncullah sifat-sifat positif dalam setiap tindakannya. Inilah fungsi diturunkannya agama kepada manusia.

Dalam hadits disebutkan Innamaa bu’itstu li utammima makaarimal akhlaaq,[6] sesungguhnya aku (Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Tanda orang yang sudah sampai kepada Allah (al wushul ilallaah) bukanlah makna dalam pengertian fisik, tapi seluruh rangkaian ibadahnya telah diperkenankan (diterima) Allah. Tanda diterimanya ibadah adalah ketika hati dan kesadaran jiwa tersambung kepada Allah, merasakan kenikmatan dan kebahagiaan beserta Allah. Di balik kegiatan ibadah-ibadah ada kenikmatan dan kebahagiaan yang bersifat batin (ukhrawi). Itulah tanda yang pasti.

Semoga melalui taubat setiap saat (hari) Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima seluruh ibadah kita. Dengan taubat yang sungguh-sungguh Allah akan memberikan jaminan 3 (tiga) perkara, 


Pertama ja’alallaahu min kulli hammain farojaa Allah jadikan bingung dan gelisahnya menjadi ketenangan dan kedamaian. Sebab bingung dan gundah gulana merupakan efek dosa. 

Kedua, ja’alallaahu likulli dhiiqin makhrojaa, Allah jadikan jalan keluar atas segala problem-problem yang menghimpitnya. 

Ketiga, warozaqohu min haytsu laa yahtasib, Allah berikan rizqi yang tidak di luar jangkauan (perhitungan)nya. Yakni rizqi yang ada dalam perhitungan Allah, lengkap (lahir batin), dan tidak bisa dihitung oleh manusia.[7]

Demikianlah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang mau mengistiqamahkan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sumber: Khutbah 14 Februari 2014
Al-Idrisiyyah



[1] كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ. رَوَاهُ التِّرْمـِذِيُّ
[2] قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى سورة الأعلى - الآية 14

[3] وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي طـه:14
[4] الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ سورة آل عمران - الآية 191

[5] كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ. رَوَاهُ مُسلِمٌ
[6] إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق. رواه أحمد

[7] مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.  رواه أبو داود

 



Silakan di Klik:
Share this article :

Poskan Komentar