Minggu, 22 Desember 2013

Home » » Most Wanted Leader : H. AGUS SALIM

Most Wanted Leader : H. AGUS SALIM

Berdamai dengan kemelaratan dan hidup zuhud seolah telah menjadi pilihan hidupnya, padahal dengan pernah menjadi menteri luar negeri sebanyak tiga kali

Mafaza-Online.Com | MAFAZAPEDIA - Indonesia kini sedang mengalami krisis para pemimpin yang dapat diteladani. Jika hanya pemimpin saja, banyak. Tapi untuk diteladani, amat sedikit. Pernah di masa lalu, Indonesia berkelimpahan pemimpin yang menjadi teladan. 

Pemimpian teladan dalam pandangan tasawuf ciri utamanya adalah  zuhud , amanah dan atau  berani  berkorban . Redaksi Tqnnews.com   mengangkat kisah para pemimpin teladan ini secara berseri dengan tema Most Wanted Leader.

Tujuannya,  agar dapat menjadi pelajaran dan referensi bagi kita semua dalam memilih pemimpin, baik legistlatif maupun eksekutif, terutama di pemilu tahun 2014 nanti. Untuk seri pertama mengangkat sosok H. Agus Salim. Selamat membaca!

Pria dengan ciri khas peci, kaca mata, berkumis putih melintang  dan berjenggot putih ini lahir di Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Orang mengenalnya dengan nama Haji Agus Salim.

Namun, nama lahirnya adalah  Mashudul Haq  yang artinya “Pembela kebenaran”. Namanya berkibar di pentas nasional antara antara tahun 1946-1950 . Ia seperti bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man).

Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhirnya ia wafat di Jakarta tanggal 4 November 1954  pada usia 70 tahun tetap menjabat  sebagai Penasihat Menteri Luar Negeri. 

Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia  pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.

Berdamai dengan kemelaratan dan hidup zuhud seolah telah menjadi pilihan hidupnya, padahal dengan pernah menjadi menteri luar negeri sebanyak tiga kali, bisa saja ia memiliki harta berlimpah. Itu dibuktikannya pada 4 November 1954, saat bapak pendiri bangsa tertua itu menutup mata selamanya. Tak ada warisan harta dan kemilau materi yang diwariskan kepada anak-anaknya.

Ya, hidup sederhana seolah telah “dihitung” sang diplomat tua sejak jauh hari.  Ajaran zuhud ini sangat besar dipengaruhi ketika  pada tahun 1906  pergi ke Jeddah, Arab  Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode ini, ia tidak hanya bekerja, tetapi berguru  kepada Syaikh Ahmad Khatib Al -Minangkabawi, di Makkah yang masih merupakan pamannya. 

Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah salah seorang ulama terkemuka mazhab Syafi`i di dunia Islam pada masa itu dan seorang sufi yang menjabat imam besar Masjidil Haram pertama dari non Arab.  ( Tqnnews.com  )


Minum Madu Manjakani: Agar tetap Cantik, Sehat dan Bugar
Share this article :

Poskan Komentar