Sabtu, 07 Desember 2013

Home » » Ketika Otot Mengalahkan Otak di Parlemen

Ketika Otot Mengalahkan Otak di Parlemen

JurnalParlemen/Andri Nurdriansyah
Sejumlah anggota Dewan mendatangi podium pimpinan DPR untuk memprotes jalannya sidang paripurna, Sabtu, 12 Maret 2012



Mafaza-Online.Com | KOLOM - Aksi kekerasan di kalangan legislator bukan sekali terjadi. Sejak mulai dilantik hingga menjelang turun kursi, ada saja anggota Dewan yang berantem. Padahal di saat tugas legislasi masih menumpuk, adu otak lebih dibutuhkan ketimbang adu otot alias jotos-jotosan.

Anggota Fraksi PPP Irgan Chairul Mahfiz menyangkal telah berkelahi dengan M Nasir, anggota Fraksi Partai Demokrat. Padahal sejumlah orang menyaksikan dirinya berantem di ruangan Komisi IX DPR. Bahkan salah seorang saksi mata mengatakan terjadi adegan meludah.

Poempida Hidayatullah, anggota Komisi IX DPR, mengaku tahu ada perkelahian itu tapi tak melihatnya sendiri. Rupanya, menurut dia, adu fisik antarpihak berseberangan adalah hal biasa. "Saya juga sering, walaupun baru hampir beradu fisik," katanya.

Pengakuan Poempida mengingatkan kembali pada perilaku anggota DPR RI di Senayan. Pada 2010 silam, politisi Partai Golkar Markus Nari naik ke podium tempat pimpinan DPR memimpin sidang paripurna. Kesal, Markus mengambil botol minuman mineral dan mau melemparkannya ke wajah Ketua DPR Marzuki Alie.

Dalam kesehariannya saat masih duduk di Komisi IV DPR, Markus Nari yang mengaku anak polisi, suka marah-marah kepada mitra kerja saat rapat. Saat rapat dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, misalnya, ia memaki seorang dirjen dengan sebutan, "Bodoh!"

Ketika Pansus Century masih bekerja, Gayus Lumbuun dari Fraksi PDIP dan Ruhut Sitompul dari Fraksi Partai Demokrat juga saling serang. Tak sampai beradu fisik, keduanya saling melontar kata-kata busuk. Ruhut menyebut Gayus dengan kata, "Bangsat!" Kasus ini kemudian dibawa ke Badan Kehormatan DPR. Keduanya diberi sanksi berupa teguran keras. Mereka lantas berbaikan.

Saat rapat paripurna penentuan RUU Perubahan Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 yang salah satu agendanya mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak, lain lagi ceritanya. Saat itu terjadi kericuhan yang nyaris berujung adu jotos antara anggota fraksi penolak dan pendukung kenaikan BBM. Demikian panas suasana rapat itu sampai Pamdal turun tangan untuk melerai para anggota Dewan.

Sejak dilantik pada 2009 hingga menjelang berakhir tugas pada 2014, penggunaan otot ketimbang otak dalam menyelesaikan masalah nampaknya tak berkurang di kalangan Dewan. Padahal saat ini, ketika tugas legislasi masih menumpuk, otak mereka lebih dibutuhkan ketimbang otot. Itu kalau mereka ingin khusnul khatimah… (Iman Firdaus-Jurnal Parlemen)





Silakan di Klik:
Share this article :

Posting Komentar