Minggu, 22 Desember 2013

Home » » Keruhnya Imaji Sang Proklamator dalam Film "Indonesia Merdeka"

Keruhnya Imaji Sang Proklamator dalam Film "Indonesia Merdeka"

MENGGAMBARKAN tokoh seorang Proklamator Indonesia ke dalam layar lebar, tentunya tidak bisa dilepaskan dari tujuan sang pembuat film. Industri film merupakan industri imaji yang tampil melalui penggambaran karakter tokoh dan kehidupan dan permasalahan yang dilaluinya.
Oleh: Lily Tjahjandari*

Namun setidaknya upaya untuk menampilkan imaji seorang tokoh proklamator Indonesia oleh Hanung Bramantyo dalam film "Indonesia Merdeka" tak terasa menggigit, bahkan imaji tokoh besar itu tampak keruh oleh penggambaran-penggambaran permasalahan privasi yang sesungguhnya sangat mengganggu. Soekarno lebih dominan digambarkan sebagai "womanizer" dibandingkan pejuang yang mempertaruhkan segalanya demi kemerdekaan Indonesia.

Dan hal itulah yang mencederai "imaji sang proklamator".

Bahkan penggambaran hubungan Soekarno dan Fatmawati sebagai hubungan guru dan murid ditampilkan tanpa romantisme malah upaya Soekarno untuk mendekati Fatmawati lebih digambarkan sebagai "penggunaan kuasa" seorang guru terhadap murid (misalnya dalam adegan adalah upaya Soekarno yang berupaya diam-diam memeluk Fatmawati, saat ia dan keluarganya berlibur bersama di pantai) dan pada bagian lain dalam film ini imaji yang lebih kuat yang tampil adalah upaya Soekarno untuk menggunakan kekuasaan sebagai pemimpin masyarakat untuk meminang Fatmawati.

Upaya menampilkan biografi Soekarno dalam sebuah tema film " Indonesia Merdeka" selayaknya menitikberatkan pada aspek perjuangan dan pemikiran sang proklamator untuk kemerdekaan Indonesia daripada penonton membuang waktu (khususnya remaja Indonesia) pada pertikaian asmara yang sesungguhnya tidak terlalu perlu untuk ditonjolkan, dan urusan mencapai kemerdekaan tampak menjadi hal yang terkesan "sekedar tempelan" dalam film ini.

Penonton tidak dapat memperoleh gambaran Soekarno yang dibebani oleh rumitnya konstelasi politik pada saat menjelang proklamasi kemerdekaan. Bahkan perasaan getir sebagai penonton saya rasakan saat Soekarno dengan entengnya memperoleh kemerdekaan dengan mediasi Jepang. Tidak tampak kekalutan dan pergulatan pemikiran.

Soekarno digambarkan sebagai tokoh yang 'datar' dan tanpa perjuangan, sangat sentimental terhadap masalah-masalah yang bersifat privasi, dan sangat sensitif terhadap kritik. Tentunya keruhnya imaiji tokoh besar proklamator Soekarno sangat disayangkan dalam upaya membangun karakter generasi penerus Indonesia yang akan mengisi kemerdekaan dengan memori kolektif masa perjuangan merebut kemerdekaan yang penuh dengan kegetiran. 

Sumber :  rmol.co

*Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI)


Minum Madu Manjakani: Agar tetap Cantik, Sehat dan Bugar
Share this article :

Poskan Komentar