Rabu, 20 November 2013

Home » » Terowongan Gaza Efek Blokade Berkepanjangan

Terowongan Gaza Efek Blokade Berkepanjangan

Mati satu tumbuh seribu, peribahasa ini sepertinya sangat melekat di benak para penggali terowongan yang memisahkan tanah Gaza dari Mesir. Buktinya, meskipun telah berkali-kali diratakan Israel, terowongan ini terus saja bermunculan. Bahkan, saat ini “lubang” itu menjelma menjadi sebuah pusat transaksi ekspor-impor yang sangat sibuk di dalam maupun di permukaannya

Mafaza-Online.Com | KAUNI - Jika Anda berkunjung ke perbatasan antara Rafah dan Mesir, jangan tertipu melihat ratusan tenda putih dan mengira itu adalah tenda pengungsi Rafah. Tenda tersebut sebenarnya untuk menutupi “mulut” ratusan terowongan yang selama lima tahun terakhir telah memainkan peran penting dalam memberikan kelangsungan hidup bagi warga Gaza yang terkena blokade Israel. Di bawahnya, ada ribuan pekerja yang mengangkut bermacam material untuk rekonstruksi Gaza.

Selama ribuan tahun, Rafah telah menjadi stasiun bagi para pedagang yang melintasi gurun pasir dari Afrika ke Asia. Berdirinya Israel pada 1948 akhirnya membuat Mesir menyerahkan Gaza pada 1967 saat pendudukan Israel. Setelah Perjanjian damai di tahun 1979 antara Israel dan Mesir, kota Rafah, yang terletak di bagian selatan Jalur Gaza, terpecah menjadi dua. Setengah milik Mesir, dan setengah lainnya berada di bawah kendali militer Israel sampai tahun 2005. Sejak itu masyarakat Gaza mulai menyelundupkan bahan makanan hingga senjata dari Rafah ke Mesir sampai saat ini.

Pertama kali ditemukan Israel di tahun 1983, warga Gaza pertama kali menggali terowongan dari ruang bawah tanah rumah mereka hingga kedalaman sekitar lima belas meter, dengan panjang beberapa puluh meter lalu kemudian muncul kembali di sisi perbatasan Mesir dalam rumah seorang warga Mesir atau kandang ayam. Pada akhir 1980-an, operator terowongan yang mengimpor bahan makanan mendapat subsidi di Mesir namun dikenakan pajak di Israel.

Musim panas 2007, pengambilalihan Jalur Gaza oleh Hamas menandai titik balik bagi perdagangan terowongan. Blokade terhadap 1,4 juta populasi Gaza makin diperketat. Mesir menutup terminal Rafah. Israel pada November 2007, memutus pasokan pangan dan memutus impor bahan bakar. Pada Januari 2008, Israel mengumumkan total blokade bahan bakar setelah roket ditembakkan di Sderot, melarang semua impor kecuali tujuh kategori bantuan kemanusiaan.

Akibat pasokan bensin mengering, warga Gaza meninggalkan mobil di pinggir jalan dan mulai membeli keledai. Blokade Israel di laut dan pengepungan Mesir - Israel di tanah, membuat krisis kemanusiaan di Gaza meningkat, mengancam kehidupan rakyat Gaza.

Dengan akses bawah tanah dilarang, Hamas kemudian berinisiatif mengawasi industri penggalian bawah tanah. Dengan penggalian  terowongan mencapai biaya US $ 80.000 sampai US $ 200.000. Mahmud Zahar, pemimpin Hamas Gaza, menjelaskan bahwa 

"Tidak ada listrik, tidak ada air, tidak ada makanan datang dari luar. Itu sebabnya kami harus membangun terowongan."

Investor swasta juga dilibatkan dalam proyek ini, termasuk anggota Hamas yang meningkatkan modal melalui jaringan masjid mereka. Pengacara menyusun kontrak bagi koperasi untuk membangun dan mengoperasikan terowongan komersial. Abu Ahmad, seorang sopir taksi, menginvestasikan perhiasan istrinya seharga US $ 20.000, untuk bermitra dengan sembilan orang lainnya dalam usaha terowongan. Dengan setiap terowongan bersama-sama dijalankan oleh kemitraan di setiap sisi perbatasan, pemilik terowongan di Gaza dan di Mesir umumnya membagi laba dengan jumlah sama.

Sejak awal ditujukan untuk penyelundupan senjata, terowongan Gaza dengan cepat berubah menjadi apa yang digambarkan sebagai "paru-paru Gaza" dengan menyelundupkan semua kebutuhan rakyat Gaza. Dari makanan, hewan ternak, elektronik, emas hingga suku cadang mobil.  Hingga menjelang Operasi Cast Lead pada Desember 2008, jumlah mereka telah berkembang menjadi setidaknya lima ratus dari awalnya hanya beberapa lusin terowongan pada pertengahan 2005. Pendapatan perdagangan terowongan meningkat dari rata-rata 30 juta dolar AS / tahun pada tahun 2005 menjadi $ 36 juta / bulan.

Banyak korban jiwa telah jatuh akibat penggalian dan penyelundupan di terowongan Gaza, namun tuntutan makanan dan barang-barang yang layak memaksa mereka mempertaruhkan nyawa. Salah seorang penyelundup yang berani mempertaruhkan nyawanya adalah Said. Di Rafah, terowongannya termasuk yang terbaik diantara yang lainnya. Ia telah bekerja di terowongan selama 1,5 tahun.

“Pihak keamanan Mesir sering meledakkan mulut terowongan yang ada di Mesir, saya bisa mati akibat ledakan itu. Kadang pemerintah Palestina memberikan peringatan untuk keluar dari terowongan, namun tidak selalu. Terowongan selalu berbahaya untuk kami, kadang Israel meledakkan terowongan kami agar tak lagi memasukan makanan ke Gaza,” kata Said. Organisasi HAM mengatakan 60 orang Palestina telah mati di terowongan antara tahun 2009-2010.

Mesir dan Israel memiliki reaksi berbeda atas perdagangan di terowongan. Bagi Israel, terowongan Gaza memicu protes internasional atas blokade dan memperlebar kesenjangan antara Gaza dan Tepi Barat. Namun bagi Mesir, penyelundupan menawarkan peluang berlebih untuk suap baik di tingkat lokal maupun nasional. Namun, kedua negara juga melihat pertumbuhan terowongan sebagai ancaman keamanan yang tidak bisa mereka pantau, apalagi kontrol. Israel terus-menerus membom terowongan dengan tujuan melemahkan militer Hamas dengan mengerahkan pesawat tanpa awak untuk membom terowongan Gaza, sedangkan Mesir meningkatkan pembongkaran terowongan.

Sebagai bagian dari gencatan senjata yang ditengahi internasional, Israel mendapat persetujuan AS untuk bertindak terhadap jalur penyelundupan terowongan Gaza. Secara terpisah, Mesir berkomitmen untuk membangun penghalang baja sedalam 25 meter di bawah tanah sepanjang perbatasan Gaza untuk memblokir terowongan dalam waktu satu tahun. Namun, pemilik terowongan merespon dengan meningkatkan desain mereka dan menggali sampai kedalaman lebih dari dua puluh lima meter.

Bagi warga Gaza, terowongan ini pun memiliki dampak positif, perputaran uang di Gaza membuat pertumbuhan ekonomi semakin membaik. Restoran, kafe dan pantai menjadi lebih ramai dikunjungi oleh wisatawan dari Semenanjung Sinai yang masuk melalui terowongan. Mobil sport model terbaru dan Hummer bisa dilihat di jalanan Gaza. Broker real-estate mengatakan efek multiplier dari daya beli yang meningkat mendorong peningkatan harga real-estate hampir tiga kali lipat.

Efek sebaliknya adalah banyak anggota Hamas yang awalnya difokuskan pada khotbah agama dan menghafal Al Qur'an, sekarang menjadi tertarik pada uang, bisnis terowongan dan penipuan. Sekarang mereka berpikir tentang membeli tanah, mobil dan apartemen. Sebelumnya mereka shalat di masjid, sekarang mereka shalat di rumah. Banyak pihak yang mengkritisi kurangnya transparansi keuangan Hamas yang membuat mereka menduga korupsi di dalam organisasi itu telah meningkat. Sebuah dinamika dari blokade berkepanjangan.

M.Rani Tarigan Dari berbagai sumber


MafazaOnline Peduli (MOP)MOP Adalah dana yang dihimpun dari pembaca. Untuk membantu dakwah Islam.

Mari bersinergi, Kirim bantuan melalui
Bank Muamalat Norek: 020 896 7284
Syariah Mandiri norek 069 703 1963.
BCA norek 412 1181 643
a/n Eman Mulyatman

Setelah transfer kirim sms konfirmasi ke 0878 7648 7687 Dengan format: Nama/Alamat/Jumlah/Bank/Peruntukkan (Pilih salah satu)
1. Desa Binaan 2. Motor Dai 3. Peralatan Shalat
4. Wakaf Al-Qur’an5. Beasiswa 6. Dunia Islam

Syukran Jazakumullah Khairan Katsira
 




Share this article :

Poskan Komentar