Selasa, 01 Oktober 2013

Home » » Titian Muhibah Mengunjungi Sanusiyyah Malaysia (1)

Titian Muhibah Mengunjungi Sanusiyyah Malaysia (1)

Bersama Syaikh Fuad di Pesantren Darul Maliki
Sambutan Meriah dari Pondok Tahfizh Sofa Negeri Sembilan

Mafaza-Online.Com | SILATURRAHIM - Silaturrahim adalah bagian dari ajaran Islam, berbuat baik pada tetangga adalah ciri muslim sejati. Saling berkunjung diyakini akan mempererat tali persaudaraan dan membuka pintu keberkahan. Inilah yang senantiasa dipraktikkan oleh insan al Idrisiyyah.

Pertengahan September 2013 ini al Idrisiyyah melawat ke negeri jiran Malaysia. Begitu rombongan al Idrisiyyah tiba, langsung disambut dengan meriah oleh jajaran murid Tahfizh di Pondok Sofa, Dataran Sentral Seremban, Negeri Sembilan. Ratusan santri menyambut hangat kedatangan tamu saat kaki mereka menginjak halaman Pesantren tersebut.

Lantunan shalawat mengiringi datangnya rombongan. Senyum ramah tuan rumah, menyambut kami. Hidangan aneka masakan yang khas dari Negeri Sembilan, bercita rasa Minang (Melayu), menyertai jamuan.

Di ruang perjamuan, tampak berjajar rak berisi ratusan judul kitab-kitab koleksi Syaikh Fuad. Ada kitab Tafsir, Hadits, Tarikh, Tauhid, dan lain sebagainya. Nuansa keilmuan begitu kental di ruangan tersebut.

Selesai menyantap hidangan, rombongan berbincang sekitar satu jam bersama. Perbincangan dimulai dari Syaikh Fuad sebagai sambutan awal menyambut kedatangan kami di negeri jiran. Lalu Syaikh Fathurahman membalas sambutan Syaikh Fuad. Banyak kisah yang disampaikan Syaikh M. Fathurahman dalam perjamuan tersebut. Syaikh bercerita tentang, kiprah Sanusiyyah era Syaikh Akbar Abdul Fattah di Indonesia yang melahirkan generasi Hizbullah, era penjajahan. Sejarah mencatat, Hizbullah lahir sebagai pasukan kompi istimewa yang disegani.

Hal ini dikuatkan pernyataan seorang saksi sejarah yang ikut bersama rombongan, yakni H. Suja’i. Pria yang berusia 90 tahun lebih ini menuturkan pahit getir masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Perbincangan begitu hangat dan akrab. Syaikh Fuad dan beberapa pengurusnya mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan Syaikh Fathurahman mengenai sejarah awal perjalanan Sanusiyyah masuk ke Indonesia. Selain itu Syaikh Fuad juga menimpali dengan uraian sejarah semangat jihad tentara Sanusiyyah pada masa Syaikh Ahmad Syarif, yang dibuktikan dengan sosok Umar Mukhtar, Singa Padang Pasir.

Setengah jam setelah istirahat rombongan yang berjumlah 11 orang ini dijemput menuju salah satu pusat kegiatan Sanusiyyah yang berada di daerah Dataran Sentral Seremban. Ketika sampai di sebuah kawasan pertokoan daerah tersebut rombongan mengira akan diajak ke tempat perbelanjaan. Tak disangka, bangunan tersebut merupakan salah satu tempat pendidikan Yayasan Sofa, yang bernama Zawiyah Fatimah Syifa (namanya diambil dari salah seorang istri Raja Idris di Maroko).

Di gedung luas nan megah yang mirip bangunan pertokoan modern ini rombongan diterima oleh pengurus Zawiyyah. Di sebuah ruangan khusus, Ust. Abdullah dan jajaran pengurusnya mempresentasikan sejarah awal berdirinya pergerakan pendidikan dan dakwah Sanusiyyah di Negeri Sembilan. Selintas dari visi misi yang diungkapkan banyak kemiripan dengan cita-cita lembaga pendidikan Idrisiyyah di Indonesia.

Salah satu keinginan luhur Syaikh Fuad adalah menyelenggarakan pendidikan berjenjang dari Diniyyah hingga perguruan tinggi, semuanya bercorak (manhaj) Sanusiyyah. Inilah keinginan yang sama dengan lembaga pendidikan FADRIS (Fathiyyah Al-Idrisiyyah), yang menginginkan pendidikan umum berbasis pesantren yang menyempurnakan pendidikan dasar, menengah sampai ke perguruan tinggi dalam satu naungan manhaj. Tujuannya agar, pendidikan yang telah tertanam sejak kecil di Pesantren terus terpelihara dan berkembang.

Yayasan Sofa bermaksud mendirikan sebuah Universitas  namun, terkendala dalam hal legalitas (perizinan). Hal ini disambut baik oleh Syekh M. Fathurahman karena hal tersebut merupakan keinginan yang sama pula dengan lembaga pendidikan Al-Idrisiyyah di Indonesia. Sehingga lahirlah keinginan kedua belah pihak untuk mengadakan kerjasama untuk mewujudkannya.

Menurut  salah satu alumni pertama yang menjadi Pengurus Yayasan Sofa,  seluruh aset Yayasan Sofa berupa kegiatan pendidikan, usaha, dan lain-lain berada di bawah Koperasi. Sedangkan dari sisi operasional semua kegiatan dikomando oleh bidangnya masing-masing, baik ekonomi, pendidikan maupun dakwah. Dalam bidang pendidikan sudah terlihat jelas dukungan kuat bidang usaha menyertai dalam berbagai aspek kegiatan dan fasilitasnya seperti, Gedung, modern, sarana transportasi, penerbitan buku/kitab adalah buktinya.

Rasanya belum puas kami bercengkerama dengan saudara-saudara kami di Pondok Tahfizh Sofa, tapi hari sudah sore, matahari sudah bersiap ke peraduannya. Ke Malaysia dengan mengawali kunjungan ke Pondok Sofa merupakan langkah awal yang baik. Hal ini menjadi bekalan untuk langkah berikutnya. Selamat berjuang saudaraku, semoga Allah meridhai aktivitas kita. Amin ya rabbal alamin. (Luqmana)


Silakan di Klik

✽̶ M-STORE LengkapiKebutuhanAnda ♈̷̴✽̶⌣̊
Share this article :

Poskan Komentar