Rabu, 23 Oktober 2013

Home » » Kritisi Paham Liberal, Zahrul Fata Lulus Doktor

Kritisi Paham Liberal, Zahrul Fata Lulus Doktor


Dr Zahrul Fata bersama tim penguji
Zahrul berhasil menggondol gelar doktoralnya setelah menulis thesis dengan judul “al-Ittijah al-Libroliy fi Dirosat as-Sunnah an-Nabawiyah fi Indonesia: Dirosah Tahliliyah Naqdiyah”.

Mafaza-Online.Com | SILATURRAHIM - Banyaknya pendapat para pemikir liberal di Indonesia dalam memahami maupun menafsirkan teks-teks Hadits dan al-Quran rupanya membawa Zahrul Fata, MA, salah satu mahasiswa Indonesia yang mendalami disiplin ilmu Hadits dan Quran telah lulus program doktoral dengan cemerlang dari  International Islamic University Malaysia (IIUM).

Zahrul berhasil menggondol gelar doktoralnya setelah menulis thesis dengan judul “al-Ittijah al-Libroliy fi Dirosat as-Sunnah an-Nabawiyah fi Indonesia: Dirosah Tahliliyah Naqdiyah”.

Di hadapan para pengujinya Prof. Dr Anis Malik Thoha, Prof. Dr Abu Laits, dan Prof. Muhammad Musthofa Ya’kub, putra asli gresik yang menuntut ilmu di Malaysia sejak akhir 2002 ini hari Jumat (11/10/2013) mampu mempertahankan apa yang ditulisnya dengan meyakinkan.

Alumni Pondok Pesantren Modern Gontor dan Jurusan Quran-Sunnah Universitas Al-Azhar Mesir ini secara spesifik mengkritisi pemikiran kalangan liberal dan  menfokuskan pendapat para akademisi yang tumbuh dari dua universitas Islam di Indonesia yaitu: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SKJ) dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari dua lembaga Islam di Indonesia itulah menurutnya banyak lahir dan melahirkan para tokoh-tokoh pemikir yang beraliran liberal. Mereka mengusung ideologi relatifisme, sekularisme, persamaan gender, juga pluralisme agama yang dikampanyekan kepada masyarakat melalui tulisan-tulisan mereka yang termuat di berbagai media.

Menurut Zahrul, apa yang ditulisnya dalam tesis merupakan kritik dan counter terhadap pendapat-pendapat mereka yang diyakininya kurang benar.

Dalam diskusi yang digelar di kampus pada Senin (21/10/2013) -sebagai rasa syukur- bersama komunitas Indonesia di Kuala Lumpur, dosen mata kuliah hadits di STAIN Ponorogo ini mengeluhkan, bahwa kalau di dunia Arab, setiap kali ada pemikiran dan pendapat yang “aneh dan nyeleneh” oleh salah seorang cendekiawan atau pemikir maka segera muncul berbagai sanggahan dalam bentuk tulisan di media maupun buku yang mempunyai semangat meluruskan pendapat tersebut.

“Sayangnya di Indonesia tidak begitu, sehinggai banyak virus, pendapat yang aneh dan nyeleneh tadi sudah menyebar meracuni masyarakat,” katanya.

Di hadapan audiens yang kebanyakan mahasiswa, bapak dari dua anak ini menghimbau untuk mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman dengan benar dan mendalam supaya mempunyai pijakan yang kuat dalam meluruskan pendapat-pendapat yang tidak betul dan terlanjur berkembang di Indonesia. (Hidayatullah.com */kiriman Sulton Kamal, Sekretaris Umum Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah KL)


Silakan di Klik:
✽̶ M-STORE LengkapiKebutuhanAnda ♈̷̴✽̶⌣̊
Share this article :

Poskan Komentar