Selasa, 22 Oktober 2013

Home » » Kebangkitan Ilmiah dari Damaskus

Kebangkitan Ilmiah dari Damaskus

Banyak mujahid dan ulama’ yang di belakang nama mereka tercantum dari “Ad-Dimasyqi” atau penduduk kota Damaskus

Mafaza-Online.com | RIHLAH - Damaskus atau Dimasyq (Arab), ibu kota Suriah modern, adalah kota tua yang sangat bersejarah. Damaskus dibebaskan dari cengkeraman Romawi pada era Khalifah Umar bin Al-Khattab. Pasukan sahabat yang pertama menorehkan sejarah umat di kota ini dipimpin oleh “Pedang Allah yang Terhunus” Khalid ibn Walid.

Peradaban Islam yang usianya lebih muda tiga kali daripada usia Damaskus, terkait banyak dengan sejarah kota ini. Tidak heran banyak mujahid dan ulama’ yang di belakang nama mereka tercantum dari “Ad-Dimasyqi” atau penduduk kota Damaskus.

Demikian banyak ulama dan intelektual yang lahir, atau pernah belajar dan mukim, atau mengajar serta menorehkan karya besarnya di kota ini. Beberapa dari tokoh Islam dari kota Damaskus yang sangat terkenal adalah:

1. Al-Muwaffaq ibn Qudamah (1147-1223 M)

Siapapun yang mendalami hukum Islam perlu mengenalnya. Lahir di Palestina, kemudian menuntut ilmu ke Damaskus dan Baghdad, namun kiprah intelektual dan dakwahnya di Damaskus.

Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Mughni fi Syarh Mukhtashar Al-Khiraqi. Sebuah ensiklopedi hukum Islam yang kendati berpijak pada mazhab Hambali, namun memuat pendapat beserta argumentasi hukum seluruh mazhab fikih yang pernah ada, bahkan menanjak ke pendapat sahabat dan tabi’in. Dalam buku tersebut, Ibn Qudamah mengkaji setiap argumentasi secara kritis serta mengemukakan pendapatnya yang tak terikat mazhab.

Al-Izz ibn Ab­dus­salam Asy-Syafi’i sampai berujar, “Hatiku tidak tenang berfatwa sampai aku punya satu kitab, Al-Mughni.” Kitab lainnya yang terkenal adalah Raudhah An-Nazhir, ‘Umdah Al-Fiqh, Al-Kafi, Al-Muqni’, dan Lum’ah Al-I’tiqad.

2. Ahmad ibn Taimiyah (1263-1328 M)

Reformer utama dan mujahid mulia ini lahir di Harran, Turki, kemudian bersama keluarganya eksodus ke Damaskus akibat serangan bangsa Tartar. Disinilah beliau kemudian berguru dan belajar dengan penuh kesungguhan.

Ibn Taimiyah terkenal sebagai reformer karena kritik tajamnya terhadap segala bentuk penyimpangan dalam pemahaman Islam. Dia menggugat kalam filsafat, tasawuf ekstrem, dan taklid buta dalam fikih. Berkali-kali beliau dipenjara oleh penguasa atas hasutan ulama’ yang membencinya.

Beliau dikenal sebagai Syaikhul Islam (Sesepuhnya Islam) karena keilmuannya yang kompleks dan ensiklopedis. Beliau konsiten dengan seruannya untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman Salaf Shalih. Melengkapi perjuangannya, dia memimpin dan menginisiasi jihad melawan Tartar.

Tulisannya kebanyakan berupa risalah dan fatwa terhimpun dalam Majmu’ Fatawa. Karyaa lainnya yang terkenal diantaranya Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah dan Dar’ Ta’arudh Al ‘Aql wa An-Naql. Karya-karyanya terus diteliti dan dikaji bukan hanya karena pembahasannya yang luas dan kritis, tapi juga karena nafas pergerakan yang dibawanya.

3. Al-Hafizh Adz-Dzahabi (1275-1347 M)

Asalnya dari suku Turkmen, tapi lahir dan besar di Damaskus. Adz-Dzahabi, salah satu murid Ibn Taimiyah, adalah seorang sejarawan besar, periwayat sanad Al-Qur’an, dan pakar ilmu hadits terkemuka.

Kepakaran Adz-Dzahabi terutama dalam ilmu rijal, yaitu pengenalan yang kritis dan mendalam terhadap biografi rawi hadits. Karya-karyanya antara lain Thabaqat Al-Huffazhi Al-Kasyif, Al-Mizan fi Adh-Dhu’afa’, Siyar A’lam An-Nubala’, Tarikh Al-Is­lam, Tal­khish Al-Mus­tadrak, dan Mukhtashar Sunan Al-Baihaqi. Setiap peneliti hadits setelahnya dianggap telah berutang jasa kepadanya.

4.Ibn Qayyim Al-Jauziyah (1292-1350 M)

Lahir dan berkarir ilmiah di Damaskus. Bersama guru utamanya, Ibn Taimiyah, berkali-kali keluar masuk penjara.

Tulisan-tulisannya menonjol karena kajiannya yang sistematis dan bahasanya yang indah. Hampir semua bukunya di bidang ilmu tertentu menjadi referensi penting di bidangnya, karena orisinalitas pendekatan dan kekuatan orientasinya kepada sumber primer, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Beliau menulis Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah dalam politik dan peradilan, I’lam Al-Muwaqqi’in dalam ushul fikih, Zad Al-Ma’ad yang mem­bahas biografi Rasulullah yang dipadukan dengan fikih, Madarij As-Salikin dalam tazkiyah, serta buku-buku lain di bidang tafsir dan hadits.

5. Al-Hafizh Ibn Katsir (700-774 H)

Siapa yang tidak mengenalnya? Penulis Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibn Katsir. Sosok alim ini lahir di Basra. Ditinggal wafat ayahnya sejak kecil kemudian pindah ke Damaskus.

Di Damaskus Ibn Katsir kecil tumbuh dewasa dan menuntut ilmu. Berguru ke ulama-ulama besar zamannya, ter­masuk Al-Amidi dan Ibn Taimiyah. Untuk gurunya yang disebut terakhir, Ibn Katsir belajar dengan tekun sehingga beliau termasuk yang disakiti saat gurunya mendapat tan­tangan dari pihak-pihak yang berseberangan dengannya.

Ibn Katsir menulis banyak buku, tapi dua bukunya yang sangat masyhur Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim dan Al-Bidayah wa An-Nihayah. Karyanya itu membuktikan otoritasnya dalam ilmu tafsir, hadits, dan sejarah. Karya-karyanya menjadi rujukan primer terutama karena akidahnya yang kokoh dan kajiannya yang kritis.

6. Ibnu Rajab Al-Hanbali (1336-1393 M)

Lahir di Baghdad tapi besar dan berkarya di Damaskus. Alim ini sangat pakar dalam ilmu hadits dan fikih, disamping sebagai penceramah dengan bahasa yang menyentuh khalayak.

Karya-karyanya yang ter­kenal: Syarh Sunan At-Tir­midzi, Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari (tidak tamat), Thabaqat Al-Hanabilah, Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Syarh ‘Ilal At-Tir­midzi, dan Al-Qawa’id. Tiga bukunya yang disebut ter­akhir sering menjadi referensi “wajib” dalam kajian ilmu hadits dan fikh bagi penuntut ilmu hingga saat ini. (kiblat.net)


Silakan di Klik:
Laporan Donasi Mafaza Online Peduli (MOP) 

Share this article :

Poskan Komentar