Kamis, 05 September 2013

Home » » Stop Tawuran Warga

Stop Tawuran Warga

Maknai Kembali Semangat  Satu Nusa Satu Bangsa

Mafaza-Online.Com|Nasional-Tawuran antar warga masyarakat di Indonesia  belakangan semakin marak. Pemicunya seringkali masalah yang sangat sederhana, seperti  saling senggol, saling ejek, tetapi dampaknya sangat luar biasa.

Sering kali tawuran antar warga banyak merenggut korban jiwa dan hancurnya rumah tempat tinggal. Bentrok warga 2 desa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat Kamis 29 Agustus kemarin. Sejumlah warga memilih mengungsi untuk menghindari bentrok susulan.

Seperti di beritakan pada Kamis (29/8/2013) 2  warga di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat, terjadi tawuran antara warga Desa Nisa dan Desa Cenggu.  Warga Desa Cenggu dan warga Desa Nisa saling serang di areal pesawahan menggunakan berbagai senjata. Bentrokan dipicu penganiayaan terhadap seorang pemuda yang nyaris tewas.  Massa juga membakar tiga rumah dan kios milik warga, dua rumah diantaranya milik Kepala Desa Cenggu.

Surahman Hidayat, Ketua BKSAP DPR RI, ketika di hubungi menjelaskan dirinya prihatin dengan sering terjadinya tawuran antar warga masyarakat, ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Semua komponen bangsa tanpa terkecuali perlu melakukan gerakan penyadaran kepada segenap masyarakat, bahwa pada hakikatnya kita semua adalah bangsa yang satu, tanah air yang satu Indonesia, “Mari kita maknai semangat “ Satu Nusa Satu Bangsa,” katanya

Hidup bermasyarakat di Indonesia yang majemuk, pasti akan menemui banyak permasalahan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana setiap permasalahan dapat di selesaikan dengan kepala dingin, dengan pikiran yang jernih, duduk bersama-sama untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Bukankah bangsa kita adalah Bangsa yang gemar bermusyawarah. 
Karena sesungguhnya tidak ada permasalahan kecuali di dalamnya ada solusi penyelesaian.

Menyelesaikan masalah dengan kekerasan, tidak akan menghasilkan solusi yang baik, yang ada akan berpotensi mewariskan rasa dendam kepada anak keturunan kita, yang tentu ini akan melahirkan potensi konflik kekerasan yang berkepanjangan.

Para pemimpin bangsa, para tokoh agama, tokoh masyarakat, sampai dengan kepala rumah tangga, perlu terus memberikan penyadaran kepada setiap masyarakat. “Kita semua berada di dalam atap rumah yang satu yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia,  berbangsa satu Bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia,” tutup Surahman.


Mafaza-Store Lengkapi Kebutuhan Anda

Share this article :

Posting Komentar