Kamis, 19 September 2013

Home » » Kualitas Udara Lereng Merapi Membahayakan

Kualitas Udara Lereng Merapi Membahayakan

Kualitas udara yang buruk karena kelembabannya tinggi mudah memunculkan penyakit akibat bakteri

Mafaza-Online.Com|SLEMAN-Masyarakat yang tinggal di rumah-rumah di lereng Gunung Merapi diminta hati-hati. Sebab, kualitas udara dalam rumah atau ruangan sudah melampaui batas kelembaban dan kebisingan. Itu bisa menimbulkan beberapa penyakit.

Kelembaban pada ruangan disebabkan sistem ventilasi yang buruk atau kurang, sehingga sirkulasi udara tidak lancar. Sedangkan kebisingan ditimbulkan oleh deru kendaraan terutama truk pasir yang sering berlalu lalang.

"Kami sudah melakukan pengukuran kualitas udara di beberapa lokasi," kata Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, Rabu 18 September 2013.

Kualitas udara yang buruk karena kelembabannya tinggi mudah memunculkan penyakit akibat bakteri. Bakteri mudah berkembang biak jika udara sangat lembab. Sedangkan kebisingan bisa menimbulkan gangguan saluran pendengaran. Lokasi yang diuji kualitas udaranya yaitu di Dusun Bronggang, Argomulyo, dan dua lainnya di Desa Kepuharjo.

Uji kualitas udara secara fisik dan kimiawi pada akhir Agustus lalu, diukur suhu, kelembapan, kebisingan, dan pencahayaan. Secara kimiawi parameter yang diukur adalah sulfur dioksida, karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen sulfida, nitrogen dioksida, debu, anomali, dan timah hitam.

Hasilnya, kata dia, ada dua parameter yang melebihi standar ukuran. Yaitu, kelembapan dan kebisingan. Seharusnya, ruangan yang normal, ukuran kelembapannya 40 sampai 60 persen. Setelah diuji, hasil dari pengukuran di empat titik tersebut diketahui lebih dari 70 pers. Sedangkan, tingkat kebisingannya yang normalnya tidak lebih dari 45 decibel, hasil uji ukuran kebisingan di rumah warga yang ada di Cangkringan mencapai 53 sampai 63 decibel.

Namun, selain dua parameter itu, semuanya normal. Untuk debu yang standarnya 230 meter gram per kubik, hasil pengukuran hanya mencapai 99, 100 hingga 161 meter gram per kubik.

"Kalau ada jendela jarang dibuka, di sekitar ventilasi masih ada pohon besar yang menyebabkan banyak bakteri berkembangbiak," kata dia.

Para petugas puskesmas ditugaskan untuk mensosialisasikan adanya temuan itu. Sehingga masyarakat sadar akan pentingnya ventilasi untuk sirkulasi udara.

Sedangkan tingkat kebisingan kendaraan, diusulkan adanya jalur khusus truk-truk pasir supaya tidak lewat perkampungan.

Menurut Camat Cangkringan, Bambang Nurwiyono, sebenarnya ventilasi rumah warga sudah mencukupi. Namun, karena banyak debu akobat truk pasir, maka warga lebih memilih untuk menutup pintu maupun jendela. "Maju kena mundur kena, kalau ditutup jadi lembab, kalau dibuka banyak debu," kata camat itu.

Sedangkan untuk kebisisingan atau polusi suara juga menjadi masalah tersendiri. Jika telinga ditutup, maka jika berbincang-bincang harus berteriak. (tempo.co)


Qurban di Daerah Rawan Pemurtadan
Share this article :

Poskan Komentar