Senin, 02 September 2013

Home » » Keseimbangan Baru Harga Daging Sapi

Keseimbangan Baru Harga Daging Sapi

Oleh : Rochadi Tawaf
Peneliti Senior LSPPI (Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia)


 

Harga daging sapi dikisaran Rp 80 - 90 ribu per kg merupakan keseimbangan baru yang tidak menjadi persoalan lagi bagi konsumen. Pemerintah harusnya tidak menstabilkan harga dengan mengimpor daging tetapi membeli jeroan sapi. Dulu, keuntungan jagal dari jeroan sapi. Sekarang jeroan tidak ada yang beli sehingga harga daging dinaikkan.


Mafaza-Online.Com | QURBAN - Tentu masyarakat masih ingat ketika daging sapi ramai dibicarakan beberapa waktu lalu karena harga jualnya dipasaran yang melambung tinggi. Bahkan harganya sempat menembus lebih dari Rp 100 ribu per kg sehingga menimbulkan berbagai asumsi dan spekulasi di masyarakat.

Kenaikan harga daging sapi yang sangat signifikan beberapa waktu lalu itu salah satu penyebabnya adalah ketidakpastian jumlah pasokan dan permintaan daging sapi di Indonesia. Dalam kondisi itu, pelaku usaha feedlot (penggemukkan sapi potong) atau peternak sapi skala rakyat yang sebenarnya menjadi korban.

Secara psikologis, ketidakpastian jumlah pasokan dan permintaan daging sapi ini akan berdampak pada kenaikan harga yang mendadak misalnya jika ada yang melempar isu tidak ada pasokan daging sapi menjelang lebaran. Atau transportasi daging sapi ke pasaran yang terhambat akan memperlambat pasokan yang menimbulkan kenaikan harga.

Ada yang menghitung konsumsi daging sapi dengan pendekatan pendapatan. Ada yang menghitung berdasarkan pola konsumsi protein hewani serta ada yang menghitung berdasarkan jumlah sapi yang dipotong dibagi jumlah penduduk. Padahal keakuratan data jumlah sapi yang dipotong pun diragukan. Hal itu menyebabkan sulitnya menghitung permintaan daging sapi nasional secara riil.

Menghitung pasokan daging sapi pun kesulitan. Pasalnya, ada yang menghitung sapi menjadi sumber yang siap dipotong pada umur di atas 8 tahun sementara di dalam cetak biru swasembada daging menyatakan sapi siap potong di umur 6 tahun. Sehingga, kejujuran-kejujuran dalam menghitung pasokan dan permintaan daging sapi ini tidak muncul karena masing-masing punya analisisnya sendiri.

Keseimbangan Baru
Akibat ketidakpastian pasokan dan permintaan dan melambungnya harga daging sapi di masyarakat sekarang ini sudah terbentuk keseimbangan baru terkait harga. Harga daging sapi dikisaran Rp 80-90 ribu per kg merupakan keseimbangan baru yang tidak menjadi persoalan lagi bagi konsumen.

Konsumen sebetulnya sudah tidak mempersoalkan lagi harga daging sapi yang tinggi. Pasalnya, harga daging sapi saat ini merupakan keseimbangan baru yang terbentuk dan sudah kondusif di tengah masyarakat.

Industri pengolahan daging pun sudah bisa mengadaptasi kondisi ini dengan segala upaya yang ditempuh. Mereka sekarang sudah bisa menggunakan daging lokal misalnya untuk substitusi bahan bakunya.

Yang menjerit dan sibuk dengan harga mahal ini sebenarnya adalah pemerintah dengan segala kebijakannya bukan konsumen. Dengan kondisi sekarang, kebijakan yang ditempuh pemerintah dengan mengatakan harga daging akan turun sampai Rp 60-70 ribu per kg kemungkinan tidak akan terjadi.

Kestabilan Harga
Hal yang diperlukan untuk daging sapi saat ini adalah kestabilan harga bukan ketidakpastian naik turunnya harga. Kestabilan harga inilah yang diperlukan oleh para pengusaha dan peternak.

Kalau sekarang dikatakan permintaan daging sapi naik menjelang puasa dan lebaran sepertinya normatif saja karena memang konsumen lebih memilih membeli daging bukan jeroan sapi. Harusnya, pemerintah membeli jeroan sebanyak mungkin sehingga harga daging sapi bisa stabil. Bukan karena jeroan tidak laku sehingga keuntungan ditimpakan ke daging sapi yang otomatis harganya naik.

Dulu, keuntungan jagal dari jeroan sapi. Sekarang jeroan tidak ada yang beli sehingga harga daging dinaikkan. Harusnya, pemerintah membeli jeroan untuk disimpan dan diolah. Disitulah mestinya peranan Bulog (Badan Urusan Logistik). Bukan niat mau mengimpor daging sapi yang kemungkinan tidak akan terealisasi.

Jika dikaitkan dengan kebijakan yang berlaku, tidak mungkin impor daging sapi dilakukan oleh Bulog untuk melakukan operasi pasar seperti dulu dengan persyaratan-persyaratan yang ada saat ini. Kalau pun terealisasi upaya yang dilakuan Bulog sepertinya tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan pasokan dan permintaan daging sapi yang sesungguhnya.

Pemerintah harusnya bermain pada persoalan yang sesungguhnya. Bukan untuk menstabilkan harga dengan mengimpor daging tetapi ada sesuatu yang lebih penting yaitu membeli jeroan sapi. Pada saat produksi jeroan tinggi di dalam negeri dibeli pemerintah dengan harga yang murah, itu menjadi nilai tambah tersendiri.

Jika dikategorikan terdapat 2 kebutuhan daging sapi yaitu untuk konsumsi biasa dan untuk menjelang hari-hari besar Islam. Sebanyak 60 % daging sapi dikonsumsi oleh pedagang bakso/industri pengolahan daging yang pada era 2009-2011 dipenuhi oleh impor daging dengan standar CL kelas 2 dan 3 yang di negara asalnya dibuang dan setelah diimpor ke Indonesia harganya menjadi cukup signifikan. Kalau harga daging jenis itu dijual di Indonesia Rp 60-70 ribu per kg sementara harga impornya hanya Rp 30-40 ribu per kg membuat untungnya luar biasa.

Sekarang, impor daging jenis ini diberhentikan, sementara untuk memproduksi daging standar ini tidak bisa dilakukan di Indonesia. Pasalnya, RPH (Rumah Potong Hewan) di Indonesia itu hanya semacam biro jasa bukan memproduksi daging.

Integrasi
Jika berbicara daging sapi, harus berbicara integrasi dari hulu ke hilir dan jangan dipotong-potong mulai pembibitan, budidaya, sampai industri pengolahan daging. Menyelesaikan masalah di hilir terkait konsumen harus dipikirkan juga masalah di hulunya

Karena kata kunci untuk swasembada adalah bibit. Hasil pembibitan yang berupa sapi bakalan ini bisa diserap oleh feedlot dan peternak lainnya. Sementara di Jawa berfungsi menjadi penyeimbang dengan adanya peternakan rakyat.

Sedangkan filosofi impor yang harus dipegang adalah produk peternakan rakyat sebagai tulang punggung, feedlot sebagai pendukung dan impor daging sebagai penyambungnya jadi jangan terbalik. Yang harus diupayakan adalah bagaimana paternakan rakyat ini bisa menghasilkan produk yang utama.

Kalau tidak mampu.dibantu feedlot yang mengimpor sapi bakalan untuk digemukkan, kalau tidak mampu juga baru impor daging. Konsep dasar ini yang harus dipegang. Sehingga bagaimana peternakan rakyat ini diberdayakan dan memberikan kontribusi untuk pasokan daging dalam negeri.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Juli 2013


Qurban di Daerah Rawan Pemurtadan
Share this article :

Posting Komentar