Jumat, 20 September 2013

Home » » KAFILAH DAI Ada 'Mumi' di Menoreh

KAFILAH DAI Ada 'Mumi' di Menoreh

Sepintas bencana letusan Merapi sudah dianggap tidak masalah lagi. Karena itu berita-berita tentang Merapi pun sudah hilang. Tapi, sesungguhnya nasib korban Merapi masih jauh dari nyaman, apalagi menyangkut penggerogotan aqidah

Mafaza-Online.Com | QURBAN - Ba’da shalat Jumat, 11/2, saya berkemas, lalu menuju rumah ustadz KH Imam Santosa. Tak menyia-nyiakan waktu, kami segera berangkat. Dengan mengendarai Daihatsu Zebra Tua —dari  rumah Ustadz Imam Santosa di Secang— kami berangkat menuju rumah Ustadz Fauzan di Palbapang, Blabak.

Adapun ke rumah Ustadz Fauzan tak lain untuk menukar Daihatsu Zebra milik ustadz Imam dengan Mobil Layanan Sehat DDII. Karena mobil Suzuki APV ini usianya lebih muda sehingga memungkinkan untuk menembus Bukit Menoreh, di Borobudur.  

Dari Blabak kami langsung ke Posko Dewan Dakwah untuk Merapi. Posko ini berada di dekat tugu Bambu Runcing Muntilan. Dari Posko DDII kami mengangkut tiga karung beras, pakaian layak pakai, makanan dan sabun.

Sekarang kami berlima di dalam mobil Layan Sehat DDII. Kami menuju Kerug, sebuah desa di kawasan Bukit Menoreh. Bukit yang terkenal dengan cerita-cerita silatnya. Karena memang daerah ini menjadi salah satu basis perjuangan Pangeran Diponegoro. Dari sinilah inspirasi cerita silat itu menghiasi buku, cerita bersambung dan komik.

“Makam pengikut dan petilasannya masih ada di sana,” kata Ripto menunjuk sebuah bukit dari barisan bukit Menoreh.
  Menjelang Kerug jalan terus naik, sisa abu vulkanik Merapi masih bertebaran ditumpuk di pinggir jalan. Azan asar menyambut kami begitu tiba di Rumah ustadz Muslih. Ustadz Muslih adalah salah seorang dari 60 dai yang mengikuti Training Dai DDII di bulan Januari 2010 silam.

Kami diterima dengan ramah, dia sangat bersahaja. Apa adanya, kali ini menerima kami dengan sarungan dan baju kaos. Namun tidak mengurangi rasa hormatnya terhadap para tamu. Senyumnya lebar menyambut kami. Sambil menyantap getuk singkong. Ustadz Muslih bercerita. Di sini memang unik, karena nasrani pun supit (disunat), sering mengadakan acara kebaktian di malam Jum’at, seperti Yasinan. Sering juga menggunakan kata-kata yang berasal dari kebiasaan orang Islam seperti, “Alhamdulillah” atau “Masya Allah.”



“Kok tidak malu pakai cara-cara orang lain,” kata ust Muslih sambil menggeser tempat duduknya.

Entah karena lapar atau suasana gunung, getuk yang kali ini berbahan singkong pun habis. Ya biasanya kami memakan getuk dari ubi. Tapi kali ini dari singkong. Dorongan teh manis membuat obrolan semakin menarik.


“Di Kerug, kami adalah Mumi,” lanjut ustadz Muslih.

“Mumi?” kami kaget tanpa ada yang mengomando

”Ya muslim minoritas,” katanya kalem.

Eh, ternyata getuk singkong cuma pembuka, lalu kami diminta untuk pindah ruangan. Subhanallah, ternyata nasi, ikan, tempe dan telur sudah siap menunggu.  

Sebelum menurunkan bantuan, kami mengutarakan rencana bahwa akan ada program sunatan massal. Program ini kerjasama DDII dengan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)  .

Lalu, kami melanjutkan perjalanan ke rumah ustadz Khudori. Kali ini ustadz Muslih bertindak sebagai navigator. Jalan sempit dan licin membuat ustadz Imam harus ekstra hati-hati.

Ternyata Khudori ini selain pengusaha slondok juga beternak sapi dan kambing. Dia merasa senang ikut training dai. 



”Semua materi ceramah sudah saya sampaikan ke jamaah,” katanya semangat.
Cuaca mulai kurang bersahabat, mendung. Mengingat jalan licin dan sempit kami tidak berlama-lama khawatir kemalaman. Ketika tengah berpamitan, tiga kantong kresek Slondok masuk ke mobil.

Syukron Jazakumullah khoir, ustadz Khudori.

Rinai kabut di seputar bukit menoreh menemani kami pulang. Dalam perjalanan pulang Ripto menunjuk daerah wilayah dakwah ustadz Muslih. Selain jauh medannya pun sulit. ”Sampe orang-orang itu kasihan sama ustad muslih, karena dia tidak punya penghasilan tapi hidupnya total untuk dakwah, dia si pembabat alas,” ungkap Ripto.

Hari ini memang tidak banyak yang bisa kami berikan. Tapi, rasa persaudaraan. Bahwa masih ada orang lain yang peduli itulah yang menyenangkan seorang Muslih.

Buah keikhlasan yang panjang.

(Eman Mulyatman)


Silakan di Klik: 
BARBERQU (teBAR BERkah QUrban)


MafazaOnline Peduli (MOP)
MOP Adalah dana yang dihimpun dari pembaca. Untuk membantu dakwah Islam.

Mari bersinergi, Kirim bantuan melalui
Bank Muamalat Norek: 020 896 7284
Syariah Mandiri norek 069 703 1963.
BCA norek 412 1181 643
a/n Eman Mulyatman

Setelah transfer kirim sms konfirmasi ke 0878 7648 7687 Dengan format: Nama/Alamat/Jumlah/Bank/Peruntukkan (Pilih salah satu)
1. Desa Binaan 2. Motor Dai 3. Peralatan Shalat
4. Wakaf Al-Qur’an 5. Beasiswa 6. Dunia Islam

Syukran Jazakumullah Khairan Katsira

Klik Juga: 

MAFAZA-STORE Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Poskan Komentar