Rabu, 21 Agustus 2013

Home » » Situasi Memang Berat, Ihbathun Nafs

Situasi Memang Berat, Ihbathun Nafs

Sekalipun kemenangan dan kejayaan diberikan Allah SWT kepada umat ini pada saat ini juga, apakah ujian dunia akan berhenti

Oleh: Zulfi Akmal

Mafaza-Online.Com | FORUM - Karena beratnya situasi beberapa hari belakangan, sebagian kawan ada yang mengalami "ihbathun nafs" (down kejiwaan). Untuk itu kita perlu saling menguatkan dan saling mengingatkan. Semoga bisikan-bisikan syetan tidak sampai menggoncang keimanan kita.

Di antara bentuk pertanyaan yang dikirimkan ke-inbox saya bunyinya begini:

Semoga Antum dan keluarga senantiasa dalam lindungan dan rahmat Allah SWT.

Jujur saya tidak sanggup lagi mencerna dengan nalar apa rencana Allah SWT terhadap Mesir. Mereka yang gugur, telah sampai pada pengorbanan tertinggi. Semua jenis ujian telah mereka lalui. Difitnah, diteror, dilecehkan, dilukai dan puncaknya : dibunuh. Saya kira semua pengorbanan untuk membuktikan perjuangan demi agama ini telah mereka persembahkan. Saya kira tidak ada pengorbanan yang lebih tinggi dari kematian.

Nah inilah yang membuat saya bertanya-tanya. Apakah kemenangan dan pertolongan yang dijanjikan itu benar sudah dekat? Karena apa yang terjadi mengisyaratkan yang sebaliknya. Harapan hampir putus. Doa seakan tak tembus ke hadirat-Nya. Mohon pencerahan Antum.

Ungkapan perasaan ini bisa kita tanggapi dengan beberapa hal yang semoga bisa menaikkan ma'ani/ruhiyah kita:

1. Jangan sampai kondisi ini membuat kita putus asa sehingga berburuk sangka kepada Allah SWT. Apapun yang terjadi, itu semua atas kehendak dan hikmah yang hanya Allah yang mengetahuinya. Dia akan bukakan rahasia apa di balik itu asalkan kita sabar melalui dan menunggunya sambil terus beramal.

2. Kita harus selalu menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya untuk diuji, tidak ada selain itu. Sekalipun kemenangan dan kejayaan diberikan Allah SWT kepada umat ini pada saat ini juga, apakah ujian dunia akan berhenti? Tidak, bahkan ujian dengan kelapangan hidup jauh lebih berat dari pada ujian dengan kesusahan, karena ia melenakan.

3. Kita ingat selalu bahwa inilah sunah dalam berdakwah. Inilah nasip yang harus dirasakan oleh para da'i yang ingin menegakkan kalimat "lailaha illallah" pada setiap lini kehidupan. Bukan hanya di mesjid, akad pernikahan dan kematian serta tempat talaqqi saja. Tapi mencakup segala aktifitas hidup dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Dari adab buang air dan menggauli istri sampai mengatur negara dan bangsa. Kalau ingin berdakwah dengan aman tanpa gangguan, sampaikanlah sesuai dengan selera masyarakat, niscaya kamu tidak akan pernah diganggu.

4. Perlu kita sadari lagi bahwa apa yang kita rasakan pada hari ini belumlah seperti yang dirasakan oleh Rasulullah dan para anbiya', serta orang-orang sebelum kita.

Rasulullah dengan para shahabat sampai makan daun kayu selama pemboikotan yang berlangsung 3 tahun di Syi'ib Bani Hasyim. Sampai terluka parah di perang Uhud dan 70 shahabat syahid. Di perang Khandak jantung para shahabat bagaikan naik sampai ketenggorokan saking dahsyatnya ancaman kengerian dari musuh. Untuk sekadar buang air besar saja susah. Berpuluh kali berpindah dari satu perperangan ke perperangan lain.

Nabi-nabi sebelum beliau tidak seorangpun yang luput dari caci maki, hinaan, fitnahan, kejahatan dan pengusiran kaumnya. Bahkan ribuan Anbiya Bani Israil yang mati terbunuh. Nabi Nuh 950 tahun harus bersabar baru datang pertolongan Allah.

Orang-orang dulu berbagai macam model penyiksaan mereka rasakan. Ada yang tubuhnya dibelah dua dengan gergaji, ada yang disisir dagingnya dengan sisir besi, dibakar hidup-hidup dan direbus dengan air mendidih atau digoreng dengan minyak panas.


Semua itu tidak menjadikan mereka berputus asa terhadap pertolongan Allah. Tidak menggoyahkan keyakinan mereka. Tidak memalingkan mereka dari kebenaran. Bahkan tidak menciutkan nyali mereka untuk menyuarakan al haq.

Alhamdulillah, yang kita rasakan sekarang belumlah sampai sedahsyat itu, semoga jangan sampai. Masih bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk, makan enak dengan menu serba lezat, buang air dengan penuh kenyamanan, bahkan setiap hari masih sempat berhibur dan bersenda gurau.

5. Do'a kita pasti diijabah oleh Allah, cuma pada waktu yang dikehendaki Allah sesuai hikmah yang Dia ketahui. Bukan pada waktu yang kita inginkan karena kita tidak tahu rahasia di balik itu. Teruslah berdo'a, suatu saat pasti dikabulkan Allah. Dan jangan terpengaruh dengan ejekan kalau Allah tidak mengacuhkan do'a kita.

6. Apakah pertolongan itu betul-betul sudah dekat atau hanya sekedar hiburan? Tidak, pertolongan Allah betul-betul dekat, bahkan sudah turun sebagiannya. Kita saja yang tidak menyadari. (FB)
Share this article :

Posting Komentar