Jumat, 09 Agustus 2013

Home » » Oprah jadi korban rasisme di Swiss

Oprah jadi korban rasisme di Swiss

"Saya bisa mengungkapkannya besar-besaran, tapi hal itu masih akan ada, tentu saja masih"

Mafaza-Online.Com | SWISS - Pembawa acara populer Amerika Serikat, Oprah Winfrey, mengatakan dia menjadi korban rasisme dalam kunjungannya ke Swiss.

Dia mengatakan seorang asisten menolak untuk melayani dia di sebuah toko tas kelas atas di Zurich.

Winfrey, salah satu wanita terkaya di dunia, tampaknya diberitahu bahwa tas yang dipajang di toko itu "terlalu mahal" untuknya.

Pernyataan ini -yang diungkapkan dalam sebuah program televisi AS- datang di tengah sengketa politik atas adanya rencana beberapa kota Swiss untuk melarang pencari suaka di beberapa tempat umum.

Wartawan BBC Imogen Foulkes di Berne mengatakan kelompok hak asasi manusia menyetujui rencana itu -yang meliputi melarang pencari suaka untuk datang ke kolam renang, lapangan bermain dan perpustakaan- untuk sistem pemisahan apartheid.

Masih ada rasisme

Winfrey, yang membintangi film terbaru Lee Daniels berjudul Butler, mengunjungi Zurich bulan lalu untuk menghadiri pernikahan penyanyi Tina Turner.

The Oprah Winfrey Show tidak ditayangkan di Swiss.

Winfrey mengatakan dia meninggalkan toko dengan tenang tanpa berdebat, tapi pengalaman ini menjadi bukti bahwa rasisme masih menjadi masalah.

"Ada dua cara berbeda untuk mengatasinya," katanya.


"Saya bisa mengungkapkannya besar-besaran, tapi hal itu masih akan ada, tentu saja masih."

Pernyataan Oprah ini merupakan adalah 'bencana kehumasan bagi Swiss, kata koresponden BBC.

Sekitar 48.000 orang saat ini mencari suaka di Swiss. Jumlah ini dua kali lebih banyak dibandingkan rata-rata Eropa.

Para pejabat mengatakan pembatasan, yang juga akan menempatkan pencari suaka di pusat-pusat khusus, ditujukan untuk mencegah ketegangan dengan warga.

Hukum suaka negara itu diperketat pada Juni. (BBC)
Share this article :

Poskan Komentar