Minggu, 04 Agustus 2013

Home » » Merawat Hidayah Memilih Teman

Merawat Hidayah Memilih Teman

Mencari teman  yang lebih baik dalam agamanya adalah tanda seseorang telah memperoleh Hidayah dan  berkehendak untuk merawat hidayah tersebut
By.Almuzzammil Yusuf, Anggota DPR RI Fraksi PKS Dapil 1 Lampung


Bismillahirrohmanirrohiim

Assalamu’alaikum. Wr.wb

Segala puji bagi Allah Shalawat & Salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah saw.

Hadirin Para Pencari  Taufik dan Hidayah Allah SWT

Pada kultum pertama kita telah berbicara tentang tema “mengejar Hidayah”, dengan kesungguhan niat, doa dan upaya kita. Lalu kultum ke dua kita bebicara tentang “Meraih Hidayah Mencintai Ilmu”.

Maka yang ketiga kita akan berbicara tentang “Merawat Hidayah dengan Memilih Teman yang baik”

konsekwensi logis dari seorang yang bertobat adalah meninggalkan lingkungan lama  yang kurang Islami, menuju yang lebih Islami.   Mencari teman  yang lebih baik dalam agamanya adalah tanda seseorang telah memperoleh Hidayah dan  berkehendak untuk merawat hidayah tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman.”

 [Hadits hasan, riwayat Tirmidzi (no. 2387), Ahmad (no. 8212), dan Abu Dawud (no. 4833)]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


يخالل المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)


Dalam ilmu sosiologi / psikologi ada yang disebut dengan peer group (teman  bermain).

Teman  bermain (peer group) merupakan agen sosialisasi lain di luar keluarga, seperti teman sepermainan, tetangga, dan teman sekolah. Mereka saling beriteraksi dan saling mempengaruhi , dan saling membentuk nilai dan norma yang disepakati bersama. Di sinilah titik maslahat dan mudhorot pertemanan, tergantung seberapa baik dan buruk nilai dan norma yang dipertukarkan dan disepakati Sebagaimana pesan Nabi saw di atas.

Pada pesan lainnya Rasulullah saw bersabda:



 حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Nashiruddin al-Albani juga mengatakan bahwa hadis ini tergolong hadis Shahih sehingga bisa dijadikan hujjah (Silsilah al-Ahadis ash-Shohihah 7/26)

Mengenai makna hadis ini, Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan,  “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”( Fathul Bāri 4/324).

Dampak keburukan teman tersebut akan dapat mengenai kita. Misalnya jika yang bersangkutan kerap menipu , mencuri, dan berbagai tindak pidana lainnya, maka  kedekatan kita dengannya bisa dianggap sebagai bagian dari persekongkolan dalam kejahatan tersebut.

Dan sebaliknya jika teman  kita tersebut seorang  yang dikenal publik sebagai seorang yang jujur dan baik hati, maka keberdaan kita sebagai teman yang bersangkutan juga akan dihormati masyarakat.

Jika seseorang manusia telah membersihkan dirinya dan bersungguh-sungguh menggapai hidayah , maka otomatis kecintaannya kepada saudaranya yang seiman pun akan tumbuh

Sebagaimana Hadits SAW:

الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR Bukhari dan  Muslim )

Bahkan Allah SWT telah menggambarkan bahwa pertemanan itupun akan terbawa hingga akhirat. Dan pertemanan orang jahat akan saling mencelakakan pada hari akhirat, karena masing-masing saling melempar kesalahan kepada temannya. Sebaliknya pertemanan sesama orang bertaqwa akan saling menjadi saksi atas kebaikan satu sama lain.

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yg lain kecuali orang-orang yg bertakwa”.(QS. Zukhruf [43] : 67)

Ayat di atas diperjelas apda Firman Allah (Al-Furqan [25]: 28-29]

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).” [QS Al-Furqan [25]: 28]

“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.“ (QS Al-Furqan [25]:29)

Dan sebaliknya , pertemanan orang bertaqwa akan mengobrol penuh suka cita di surga bertanya sebab satu sama lain bisa masuk surga. Ini digambarkan Alloh pada surat Ath Thuur [52] :25-27.


“Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya,” (QS Ath Thuur [52]:26)

Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)". (QS Ath Thuur [52]:27)

“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka”.

Semoga Allah jadikan kita bagian dari mereka.  Amiin....



Billahi taufiq wal hidayah. Billahi fi sabilil Haq . Wallahu muafiq ila aqwami thoriiq. Wassalamu’alaikum wr.wb.






Share this article :

Posting Komentar