Sabtu, 13 Juli 2013

Home » » KAMMI UPI Kupas Pengkhianatan Demokrasi Mesir

KAMMI UPI Kupas Pengkhianatan Demokrasi Mesir

Yang perlu kita tanyakan adalah mengapa rakyat Mesir lebih tahan di bawah kediktatoran Mubarak dibandingkan dengan pemerintahan yang diangkat secara demokratis yaitu Mursi

MafazaOnline|JAKARTA –Departemen Kajian dan Strategi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Komisariat Universitas Pendidikan Indonesia (KAMMI UPI) Jakarta, gelar kajian, “Mengupas Pengkhianatan Demokrasi Mesir” (12/7). Acara bertujuan membuka wawasan kader KAMMI dan mahasiswa secara umum untuk memiliki sikap dalam menanggapi masalah yang sedang hangat di seluruh dunia.

Forum diisi dengan  penjelasan sejarah pemerintahan Mesir, profil Ikhwanul Muslimin, profil Dr Muhammad Mursi dan profil tokoh-tokoh yang terlibat dalam penggulingan Husni Mubarak dan kudeta Mesir yang tengah terjadi beberapa pekan terakhir ini.

Risma Aditiana (Tokoh KAMMI) sebagai pemateri, menjelaskan bahwa pada momen turunnya Mubarak, Tantawi dalam kapasitas sebagai Penyelenggara Pemilu sekaligus seorang dewan militer yang sangat berpengaruh di Mesir menyatakan akan menghormati perjanjian yang telah dibuat oleh pihak luar, perjanjian itu bernama “Camp David”. Perjanjian dengan Israel ini dibuat oleh pendahulu Mubarak, yaitu Anwar Sadat.

Mursi, masih kata Risma, merupakan presiden muslim pertama di Mesir yang dipilih secara demokratis dan merupakan anggota dari Ikhwanul Muslimin. Dalam pidatonya Mursi menyerukan untuk memakai ideologi Islam. Ini menjadi ancaman bagi Israel tentunya. “Maka terjadilah serangkaian aksi kudeta untuk menurunkan Mursi oleh pendukung perjanjian tersebut,” ungkapnya.

Achmad Faqihuddin selaku Ketua Umum PK KAMMI UPI 2013 berpendapat , Mesir menjadi Negara yang menjadi sorotan saat ini.  Dalam 2 tahun terakhir ada peristiwa heroik di Mesir.

Pertama penggulingan Mubarak dan Kedua kudeta Mesir menurunkan Mursi.

Tentu dua kejadian tersebut sangatlah berbeda, Revolusi Mesir terjadi akibat kediktatoran rezim yang berkuasa selama 30 tahun. Sedangkan kudeta terjadi karena permasalahan yang sepele,

“Yang perlu kita tanyakan adalah mengapa rakyat Mesir lebih tahan di bawah kediktatoran Mubarak dibandingkan dengan pemerintahan yang diangkat secara demokratis yaitu Mursi,” kata Faqihuddin.

Apalagi kuantitas rakyat yang mendemo Mursi jumlahnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah rakyat yang mendukung Mursi. Apakah ini bertanda bahwa kudeta yang terjadi hanya diinginkan oleh sebagian kecil rakyat Mesir?

Sebelum lebih jauh, dalam kaca pandang Faqihudin, harus dilihat pula pegulatan di Mesir adalah pegulatan ideologis antara Islam dan sekuler. Harus disadari bahwa kudeta terhadap Mursi merupakan sebuah penodaan terhadap demokrasi, “Karena Mursi adalah pemimpin Mesir yang diangkat secara demokratis pula,” jelasnya.

Ketua Departemen Kastra PK KAMMI UPI 2013, Almaun berpandangan, dari kejadian di Mesir umat Islam  bisa memetik pelajaran. Ada perbedaan ideologi yang mendasari semua konflik di manapun termasuk di Mesir sekarang, “yakni adanya penolakan penerimaan ideologi hakiki yang dibawa oleh aturan Allah,” jelasnya.

Maka, masih kata Almaun,  strategi ke depan yang bisa dimaksimalkan dan optimal kan yaitu dengan merekrut kader-kader baru, dengan perekrutan ini gerakan Islam bisa menanamkan imun (kekebalan) dari suatu pemahaman yang akan menentang Islam, dengan banyaknya kader maka dari pribadi-pribadi itu bisa menyebarkan imun-imun ke masyarakat luas baik secara langsung, maupun tidak langsung, cepat atau lambat.

Jadi gerakan Islam bisa mengakar kuat di masyarakat luas dan membuat ideologi Islam menjadi mayoritas sehingga geraka Islam memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengubah Indonesia bahkan dunia (sekalipun dengan tekanan lawan). “Dan itu (tekanan lawan) tidak akan ada artinya karena kita memiliki power yang sangat kuat, KAMMI Want You for Change The World,” ujar Almaun (Maya K)


Share this article :

Poskan Komentar