Selasa, 16 Juli 2013

Home » » Dari Setetes Air Menjelma Gelombang Peradaban

Dari Setetes Air Menjelma Gelombang Peradaban

Dimanapun umat Islam tinggal sanitasi selalu terawat, pelajaran fiqih dimulai dari bab thaharah
Oleh M Zainal Muttaqin*


Berjalanlah ke Barat Jawa, Anda akan melihat sisa kejayaan Islam dari Kerajaan Banten. Sempatkan, amati bagaimana pihak kerajaan Banten mengatur air. Tak hanya di kerajaan Banten, di setiap pemukiman muslim, baik itu desa atau kampung apalagi kerajaan, air menjadi bagian penting. Karena sebelum shalat diwajibkan berwudhu. Pelajaran dari fiqih dimulai dari Bab Thaharah dan bersuci itu dengan air.

Air itu akan berfungsi dengan baik jika dikontrol dengan pengairan atau irigasi. Jadi kalau musim panas tidak kehilangan air, sebaliknya, kalau musim hujan tidak banjir. Bangunan rumah hingga tata kota pun mempertimbangkan aliran air. Tak salah bila dikatakan dari manajemen air ini lahirlah peradaban.


Selain di darat Perang Banten pun berlangsung di laut. Kejayaan Banten dinilai dari jumlah perahu perangnya dan juga ramainya pelabuhan. Perang yang berkobar di laut, tak kalah dahsyatnya dengan di laut. Belanda sangat sulit mengalahkan Kerajaan Banten, karena Sultan Ageng Tirtayasa sangat jago dalam hal mengelola air. Karena Tirta berarti; Air. Itu yang harus kita belajar.

Sepatutnya, umat Islam minder dengan kondisi sekarang ini. Para raja muslim zaman dulu, mereka terkenal karena jiwa kepahlawanan dan juga berhasil memakmurkan rakyatnya. Mengubah daerah tandus jadi produktif, mengubah daerah rawa yang tidak bisa ditanami menjadi hamparan sawah. Jadi sampai sekarang Banten itu menjadi lumbung padi. Meski berada di daerah rawa, pinggir pantai, tapi tak terdengar dalam sejarah, Kerajaan Banten kebanjiran atau kekeringan. Itu karena irigasinya yang baik.

 

Justru sekarang atas nama pembangunan, irigasi malah dihabisi, dibuatlah pabrik, perumahan.Pintu air dihancurkan dan saluran air hilang. Bahkan orang asing saja merasa sedih, karena prasasti peninggalan sejarah tidak dirawat. Akibatnya orang di Jakarta tidak pernah tahu, bahkan orang Banten-nya saja tidak menjaga.Orang kampung —sekitar bekas kerajaan— setiaphari mengambil bata-bata sisa kerajaan, lama kelamaan habis. Cuek, tidak menghargai sejarah.

Kenapa Sultan Ageng t Tirtayasa bisa Jaya seperti itu, karena dia sangat meyakini  doktrin Tauhid. Semua kerajaan di Indonesia, Malaysia dan Thailand adalah kerajaan Islam. Sejarah mencatat, yang membuat Prabu Brawijaya masuk Islam, karena menikah dengan Putri dari Campa atau Thailand. Campa adalah bagian dari kerajaan Islam, disana bermukim Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Sang Guru dibawa oleh Brawijaya untuk mengajar di Kediri sampai ke Gresik.

Makanya ada doktrin, yang disebut Nusantara itu: Indonesia Malaysia Singapura Brunei, Laos Thailand. Artinya, negara-negara yang dulu kerajaan dalam satu paguyuban di bawah Turki Utsmani. Anda tentu masih ingat, Turki Utsmani berjaya lebih dari 6 abad. Sampai dihancurkan oleh Mustafa Kemal Attaturk pada awal abad 20, Tahun 1924.

Jadi di Philipina ada Kerajaan Sulu, yang menguasai Philipina. Di Indonesia ada Ternate Tidore, sampai ke Timor Timur, sampai ke Papua dan sebagian Australia. Makanya, di Timor Timur itu ada pejabatnya yang bernama Alkatiri atauAssegaf.Di Gorontalo ada orang yang berhidung  mancung, badannya tinggi. Karena memang orangtua mereka adalah orang Arab baik dari Nejed yang putih maupun Yaman yang hitam. Itulah bukti tersisa dari jejak dakwah kerajaan Islam.

Bukti-bukti semua itu adalah kerajaan Islam yang berjaya di bawah naungan Khalifan Turki Utsmani. Maka kehancuran Turki Utsmani, juga berdampak pada seluruh kerajaan Islam, sampai hari ini. Itu yang harus kita pelajari. Mereka (musuh Islam) tahu persis payungnya adalah Turki Utsmani, maka dengan kepanjangan tangan Mustafa Kemal Attaturk, Turki Utsmani dihancurkan, dengan Sekulersime. Selanjutnya Islam menjadi kelompok pelengkap penderita.

Dari setetes air akan menjadi irigasi dan merembes jadi peradaban. Dari rangkaian negeri akan menjadi kesatuan Islam. Dari kesadaran individu akan menjadi komunitas. Mari kita belajar dari Sejarah.

*Ketua Yayasan Bina Insan Kamil

Disampaikan dalam Majelis Jumatan Kajian Fiqih Realitas
Pesantren Wirausaha Yayasan Bina Insan Kamil Pramuka Sari II Jakarta Pusat


Share this article :

Poskan Komentar