Selasa, 11 Juni 2013

Home » » Thamrin City Lantai 5, Harga Murah Kualitas Wah!

Thamrin City Lantai 5, Harga Murah Kualitas Wah!

Boleh dibilang, Lantai 5 ini justru jantungnya bisnis di Thamrin City


Mafaza-Online | JAKARTA - Tren busana muslim semakin mewarnai masyarakat Indonesia. Fenomena ini tidak bisa lepas dari semakin meningkatnya pemahaman masyarakat akan syariat Islam. Jilbab misalnya, tidak lagi hanya dipakai santriwati atau ibu-ibu majelis taklim saja. Penggunaan jilbab sudah tak tabu lagi di catwalk, di kantor dan munculnya komunitas hijaber.

Apalagi di bulan Ramadhan, busana muslim komoditi yang paling dicari. Siklus inilah yang dijalankan pedagang-pedagang busana Muslim di Pasar Tasik Thamrin City lantai 5, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mujahid, salah seorang pedagang yang ditemui di kiosnya mengatakan dari hari ke hari penjualan busana Muslim yang diproduksinya meningkat.

“Langganan tidak dari daerah Jakarta saja, tapi dari luar daerah,” terang Mujahid, pemilik toko Raja Murah ini.

Murah dan Kualitas Wah

Belum banyak yang tahu memang, bahwa di Lantai 5 Thamrin City adalah pusatnya Grosir Sandang perlengkapan Muslim. Harga yang ditawarkan relatif murah. Untuk satu kodi busana Muslim dijual dengan harga satu sampai dua juta rupiah. “Agar produknya terus diminati pembeli saya selalu melakukan inovasi,” kata Mujahid.

Menurut Ketua Persatuan UKM (Usaha Kecil Menengah) Thamrin City Lantai 5, Drs. H. Fikri Bareno, M.Ag, MBA, Lima tahun sejak diresmikan, Thamrin City merupakan tempat berkumpulnya pedagang sekaligus produsen kerudung. Pasar Tasik Lantai 5 ini berkembang, tidak hanya memasarkan kerudung, tapi berbagai macam perlengkapan busana muslim dan shalat, mulai dari legging, manset, tunik, aksesoris, baju koko, gamis, peci haji, kain sarung, sajadah hingga mukena untuk anak-anak. Sebagian besar produsen busana muslim,  datang dari Cicalengka, Bandung, hingga Tasikmalaya. “Awal-awalnya kami berdagang setiap Senin dan Kamis, sekarang setiap hari,” jelas Fikri. 
Drs H Fikri M Ag MBA

Sekretariat UKM Thamrin City berada di Lantai 5 Blok A26 No 8. Dari sinilah Haji Fikri, begitu pria ini biasa disapa  menggerakan roda ekonomi usaha kecil dan menengah. Hasilnya, sekarang lantai 5 Pasar Tasik Thamrin City ini sudah dikenal, baik di seantero Indonesia maupun negara tetangga, bahkan melintasi benua, sebagai sentra grosiran busana Muslim.

Produk busana Muslim Thamrin City Lantai 5 sudah sejajar dengan produk branded dan merk ternama,” ungkap lelaki yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Perlu Dukungan Pemerintah

Sayangnya belum ada perhatian memadai. Selaku Ketua UKM Thamrin City, Fikri berupaya mempromosikan Thamrin City khususnya Lantai 5 (Pasar Tasik), mengingat tidak ada promo dari pihak pengelola gedung. Termasuk protes karena escalator (tanggajalan) sering dimatikan.  

Pedagang busana Muslim yang tergabung dalam Persatuan UKM Thamrin City merasa dianak-tirikan oleh pihak Pemerintah, yang hingga saat ini enggan membantu dalam hal permodalan dan pengembangan usaha. Padahal bisa dibilang, Thamrin City Lantai 5 ini justru jantungnya Thamrin City.

“Kalau mau bantu UKM ya disinilah gudangnya para pedagang UKM. Disini ada 800 UKM yang merupakan produsen busana muslim,” keluh Ketua Ketua Persatuan UKM (Usaha Kecil Menengah) Thamrin City Lantai 5, ,

Harus diakui, sebagian pedagang disini masih sewa tempat.  Sampai saat ini belum ada pihak bank pemerintah maupun swasta manapun seperti BRI, BNI, serta pengusaha besar yang mau membina para pedagang UKM Thamrin City. Termasuk dari pihak BUMN.

Ketika ditanya, apakah pihak Persatuan UKM Thamrin City pernah mengajukan dan bertemu langsung dengan pihak pemerintah? “Secara khusus belum, tapi pemerintah sebetulnya tahu ada gabungan UKM di Pasar Tasik. Thamrin City,” kata Fikri.

Jadi semua keluhan diatasi bersama lewat Perkumpulan UKM. Mengatasi kekuarangan dengan swadaya dari kantong masing-masing untuk saling membantu para pedagang. Sebelumnya pernah ada MoU dengan pihak pemerintah untuk membantu UKM, tapi hingga saat ini tidak realisasinya. “Waktu Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta, pernah berjanji akan melakukan pembinaaan, tapi sekali lagi realisasinya nol besar,” kata Fikri. (Eman Mulyatman)
Share this article :

Poskan Komentar