Jumat, 21 Juni 2013

Home » » Demi Ambisi, AS Dan Israel Inginkan Hizbullah di Suriah

Demi Ambisi, AS Dan Israel Inginkan Hizbullah di Suriah


Dengan mempersenjatai oposisi, AS dan Israel melihatnya sebagai kesempatan untuk melawan aksi-aksi anti-Israel


MafazaOnline | MOSKOW - Penulis dan sejarawan dari Universitas Houston AS, Gerald Horne menyatakan dalam wawancara khusus dengan Russia Today (RT), intervensi AS dan Israel di Suriah dilakukan demi terlaksananya tujuan mereka melawan anti-Israel, termasuk Hizbullah Libanon.

"Dengan mempersenjatai oposisi, AS dan Israel melihatnya sebagai kesempatan untuk melawan aksi-aksi anti-Israel," kata Horne kepada RT pada Kamis sebagaimana dipantau kantor berita Islam MINA (Mi'raj News Agency).

Presiden AS Barack Obama memberikan bantuan militer untuk oposisi Suriah setelah pemerintahannya menuduh rezim Assad menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya berkali-kali pada tahun lalu.

Namun, Horne tidak percaya AS akan mampu memberikan bukti pemerintah Suriah menggunakan zat kimia berbahaya Sarin, ia meragukan jika bukti-bukti tersebut ada.

"Saya takut mereka terlampau jauh pada intervensi ini. Mantan Presiden AS Bill Clinton merilis sebuah pernyataan yang mengkritik pemerintahan Obama karena tidak campur tangan lebih dalam ke dalam ke Suriah. Mantan saingan Obama, Senator John McCain dari Arizona juga mengatakan di Senat AS bahwa mempersenjatai pemberontak tidak cukup sampai di situ.”

Dia juga mengatakan, konflik Suriah diperparah  sejak  pertemuan ulama-ulama Muslim di Kairo, Mesir, yang menyerukan jihad melawan rezim Assad dan Damaskus, “Seharusnya mereka mencoba untuk menenangkan situasi, bukannya mengorbankan nyawa,” kata Horne yang menambahkan pemerintahan Obama sedang menuangkan bahan bakar di atas ‘api’ Suriah.

Ditanya tentang kunjungan kepala penyelidik PBB di Suriah Carla del  Ponte yang terkejut oleh kesaksian korban konflik Suriah dari pihak opoisisi yang menggunakan zat berbahaya sarin, Horne menegaskan beberapa pekan lalu, otoritas Turki menemukan bahwa beberapa opoisisi yang berada di perbatasan Turki memiliki senjata kimia berbahaya itu.

"Sulit untuk mengatakan apakah senjata-senjata ini digunakan, dan jika demikian, siapa yang menggunakannya? Misalnya, apa yang membuat pemerintahan Obama menyimpulkan  pengguna senjata kimia itu adalah Damaskus dan bukan pemberontak? Bagaimana mereka mendapatkan sampel sarin dari TKP ke Washington DC? Ada begitu banyak pertanyaan. Saya sedang mencari bukti, meskipun ragu bahwa pemerintah AS akan memberikannya," tambahnya.  (MINA)
Share this article :

Poskan Komentar