Selasa, 18 Juni 2013

Home » » R Reza Pramadia, Mengamalkan Filosofi Titip Tajug Lan Fakir Miskin

R Reza Pramadia, Mengamalkan Filosofi Titip Tajug Lan Fakir Miskin

Titip tajug lan fakir miskin (Menitip masjid dan Fakir Miskin) adalah wasiat Sunan Gunung Jati, Cirebon. Arti dari wasiat itu, menyantuni fakir miskin dan memakmurkan masjid. Wasiat itu tak sekadar ucapan namun, harus dijaga dan diamalkan oleh generasi penerusnya



 


MafazaOnline | JAKARTA - Memasuki Eretan di jalur Pantai Utara(Pantura) Anda akan disuguhi pemandangan menara yang menjulang tinggi. Pembaca tentu akan heran, menara masjid Banten, kenapa bisa pindah ke Eretan, Indramayu? Menara Masjid Pesantren Darussalam, Kandang Haur,Eretan, Indaramayu ini kelihatan mencolok. Bangunan tinggi menjulang berwarna merah bata itu, menjadi daya tarik bagi yang melintasi Pantai Utara pulau Jawa.

Sampel menara itu, mengambil utuh dari Banten Lama, alasannya karena memang ada hubungan antara Cirebon dan Banten. Hubungan yang tak hanya sekadar romantisme sejarah tapi juga darah, Ayah dan Anak. Sunan Gunung Jati diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan Banten. Beliau adalah penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Demikian penuturan Raden Reza Pramadia menjawab Eman Mulyatman yang menemuinya langsung di Ponpes Daarussalaam, Indramayu Mei 2013.

Menurut Reza yang secara garis turunan dari jalur kakek keraton kasepuhan dan jalur nenek keraton kanoman, bangunan masjid mengambil inspirasi dari arsitektur Sang Cipta Rasa, masjid Cirebon. Masjid Sang Cipta Rasa yang arsitekturnya merupakan sentuhan para wali. Jadi bangunan pondok ini tak hanya sekadar artsitektur, tapi juga filosofisnya mengambil dari sejarah keratin baik Cirebon maupun Banten. “Itu gerbang Pondok mencontoh dari Keraton Kanoman Cirebon,” kata Reza dengan telunjuk mengarah pada gerbang masuk di depan masjid.

Ihwal pendirian Ponpes, masih kata Reza, karena di seberang jalan dari lokasi pesantren ini dulunya (sekitar 15 tahun lalu), akan dibangun gereja. Begitu mendengar ada rencana pembangunan gereja maka sesepuh di Indramayu dan Cirebon terus bergerak. Terbetik info, sawah di seberang dari lokasi rencana pembangunan gereja itu akan dijual. Pihak Keraton sigap, tanah tersebut segera dibeli  dan langsung dibangun Mushalla kecil. Begitu ada Mushalla, dengan sendirinya gereja itu tidak jadi dibangun.

Dulu di lokasi ini memang sawah, tapi, pelan-pelan pihak Keraton membangunnya menjadi pondok pesantren. Pembangunan diawali dengan mendirikan masjid, terus menara kemudian pondok pesantren. “Alhamdulillah dapat bantuan dari sana-sini, termasuk dari Pemerintah Arab,” ungkap Reza yang Penulis buku non komersil, Qasidah Cinta.

Jadi memang alasan kuat mendirikan masjid dan menara bukan untuk bermegah-megahan tapi untuk dakwah. Mendirikan masjid dan pondok selain untuk syiar, ada sisi perjuangannya juga. Apalagi umumnya masyarakat di Eretan memang lemah baik secara ekonomi maupun pendidikan.Mau melarang pendirian gereja, tidak mungkin karena tidak punya kekuatan (kekuasaan).Pendirian gereja harus dibendung, karena aksi pemurtadan mengancam wilayah seperti ini . “Jadi sebelum gereja berdiri, kami bergerak lebih dulu,” tutur Reza.

Tak hanya pada masjid, menara dan pondoknya, kini kejayaan Islam Cirebon di masa abad 15 silam coba untuk ditampilkan kembali. Selanjutnya Reza Pramadia mengutarakan, kalau di Tasikmalaya ada Kampung Naga (Kampung Adat Tasik), maka di Cirebon ini Pihak Keraton akan membangun Kampung adat Cirebon yang islami. Selain itu, niat membangun Kampung Adat, untuk mengimbangi Baduy Indramayu yang masih beragama animisme.“Karena itu kami ingin melestarikan budaya Cirebon yang Islami dengan membangun Kampung Adat di Eretan ini,” kata Reza.

Perjuangan Reza tak berhenti disitu, agar kehadiran Ponpes Darussalam terasa berkahnya, disekitar Pesantren ini, Reza berniat akan melaksanakan program pemberdayaan perekonomian rakyat dengan membangun pabrik terasi, ikan asin, kecap, garam dan komoditas dari hasil laut lainnya. “Caranya memang harus seperti itu, harus melibatkan warga,” kata Reza.

Eretan, yang menjadi bagian dari kota Indramayu ini memang wilayah yang sangat strategis. Konon wilayah ini sebagai basis pertahanan karena posisinya yang berada di pinggir laut. Di masa kolonial, Ketika Belanda masuk Cirebon ditahan disini (Eretan). “Kandanghaur, ini termasuk wilayah kekuasaannya Mbah Kuwu Cirebon, beliau adalah  guru dan Pamannya Mbah Sunan Gunung Jati,” tutur Reza.

Secara historis, warga di Kandanghaur mengakui bahwa wilayah ini sebagian tanahnya milik keraton Cirebon. “Di Kandanghaur ini ada situs Mbah Kuwu Sangkan, dulunya memang di sini ada pesantren, tapi bisa jadi habis terkena abrasi laut,” ungkap Reza yang punya hobi travelling.

Indramayu adalah wilayah perlintasan, jadi Anda yang sering melintasi Pantura bisa jadi hanya mengenal, Indramayu sebatas jalan raya Pantura saja. Padahal wilayah Indramayu itu masih luas. Betapa potensialnya wilayah ini, sayangnya Indramayu sering dipandang miring. Daerah sentra penghasil beras ini lebih dikenal sebagai penyuplai wanita-wanita untuk prostitusi. Stigma itu kadung tertancap kuat. “Karena itu kami merasa berkewajiban untuk memperbaiki akhlak penduduk,” tuturnya.

Dekat dengan AnakYatim

Aktivitas Reza tak berhenti pada romantisme kejayaan leluhurnya, Keraton Kanoman dan Kasepuhan Cirebon.  Merasa prihatin dengan pendidikan masyarakat kecil, khususnya masyarakat Cirebon, Kuningan, Jawa Barat, yang merupakan daerah kekuasaan leluhurnya, Reza, mendirikan Yayasan Insan Kamil Kalimasada. Yayasan binaan Reza yang didirikan sekitar tiga tahun silam ini, bergerak di bidang pendidikan. Uniknya Kalimasada menggratiskan para anak didiknya.

Insan Kamil Kalimasada adalah Yayasan yang didirikan Reza dengan dukungan beberapa temannya. Saat ini Insan Kamil Kalimasada berkonsentrasi pada Pendidikan dan Sosial. Pendidikan yang  baru dijalani, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan madrasah ibtidaiyah (setingkat SD). “Seluruh siswanya fakir miskin, yatim dan yatim piatu, semuanya tidak dikenakan biaya alias gratis,” tutur pria kelahiran Balikpapan, 20 Juli 1979 ini.

Sekarang anak yatim yang dibantu Reza sudah lebih dari 200 anak. Selain memberikan pendidikan gratis, yayasan yang didirikannya juga memberikan bantuan dana bagi warga miskin yang minat berdagang. Reza memberikan bantuan sebesar Rp 200 ribu per-orang. “Ini memang tidak seberapa, tapi lumayan bagi mereka untuk memulai usaha ekonomi kreatif, seperti berjualan tahu gejrot,” ucap pengusaha Batubara dan travel ini.

Mengenai pendanaan ratusan anak asuhnya itu, Reza tidak memusingkan masalah tersebut. Pria yang masih keturunan kerajaan Cirebon ini sangat yakin, dengan ajaran kitab Suci al Quran,di surat Muhammad [47]:7. “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Kedekatan Reza dengan tokoh di pusaran nasional justru dia manfaatkan untuk saling berbagi dengan anak yatim. “Saya meyakini itu (al Qur’an), dan alhamdulillah, usaha saya semakin baik, bahkan teman-teman juga ikut membantu membiayai anak-anak asuh kami,” imbuh Reza yang saat ini tengah memperjuangkan 1 Muharam sebagai hari besar nasional anak yatim.

Bagi Reza alasan pemilihan mendirikan yayasan di Cirebon, bisa lebih terkontrol. “Kalau di Jakarta sudah banyak yayasan seperti ini, tapi pengelolaan dan penyaluran dananya tidak bisa dipertanggungjawabkan.”

Menurut Reza, Insan Kamil Kalimasada itu, artinyaluas. Insan itu manusia, Kamil itu sempurna dan Kalimasada itu dua kalimah syahadat. Dia bercerita pernah juga ada yang protes, karena manusia itu tidak ada yang sempurna. Padahal, kata Reza,al-Quran mengatakan, “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (QS At Tin [95]:4).

Baginya Allah SWT itu bukan sempurna, tapi Maha Sempurna. Sempurnanya manusia itu dengan dua kalimatS yahadat. “Jadi paling tidak, nama tersebut adalah doa,” jelas penggemar Jeep offroad ini.

Apa yang dilakukannya bukan tanpa hambatan.  Ada suara-suara yang sempat mampir di telinganya bahwa kegiatannya itu termasuk riya Riya (ingin dipuji orang). Tapi bukankah umat Islam diperbolehkan berbuat baik secara terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi. “Akhirnya terpulang pada masing-masing pribadi, kalau niatnya untuk memotivasi, tentu akan berpahala,” ujar Reza mantap.

Kemana-mana Reza selalu mempromosikan Cirebon. Karena keluwesannya bergaul dengan semua kalangan, baik pemuda, pengusaha maupun pejabat, akhirnyaada yang mengusulkan Reza untuk maju dalam Pilkada Bupati Cirebon dariGolkar, “Karena Golkar itu mencari sosok muda,” kata Reza menirukan orang yang membujuknya untuk maju ke Pemilihan Bupati Cirebon.

Tapi dengan halus Reza meolaknya, karena dia masih merasa belum siap, masih fokus sebagai pengusaha. Sambil memperkuatdiri di jalur politik. Baginya, kalau kepolitik tidak siap malah bisa repot. “Karena jabatan itu amanah,” kata Reza.

Matahari sudah di ubun-ubun, Azan zuhur pun berkumandang. Selesai Shalat Zuhur Reza mengajak kami keliling Ponpes Darussalam. Kami terlempar ke masa Kejayaan Cirebon. Dalam hati masing-masing berdoa, semoga sebagai anak keturunan dan generasi muda Islam bisa meneruskan kejayaan ini kembali. Amin. (Eman Mulyatman)
Share this article :

Poskan Komentar