Kamis, 20 Juni 2013

Home » » PKS Desak Percepat Pembangunan Perpustakaan Nasional

PKS Desak Percepat Pembangunan Perpustakaan Nasional

Perpustakaan Nasional baru semegah 24 lantai adalah harga mati, harus kita dukung bersama


MafazaOnline | JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI, Herlini Amran mendukung penuh semangat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) mewujudkan rencana pembangunan Perpustakan Nasional baru sebagai icon peradaban bangsa. Karena itu, ia bersama fraksinya meminta Kementerian PPN/Bapenas dan Kementerian Keuangan tidak menghambat penganggaran pembangunan perpustakaan pusat kebudayaan (civic center) tersebut.

Herlini yakin, hadirnya Perpustakaan Nasional sebagai civic center akan menjadi jangkar budaya gemar membaca di Indonesia. Jika Pemerintahan SBY komitmen terhadap misi pengembangan pengetahuan dan kebudayaan, maka tidak perlu ada cerita keterbatasan anggaran. “Perpustakaan Nasional baru semegah 24 lantai adalah harga mati, harus kita dukung bersama,” ujar Herlini, Kamis (20/6).

Merujuk ajuan awal PNRI ke Komisi X DPR RI, pembangunan Perpustakaan Nasional di Jln. Merdeka Selatan No.11 Jakarta Pusat itu direncanakan seluas 50.445 m2 atau setinggi 24 lantai, dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp 465,2 miliar. Namun karena alasan keterbatasan APBN 2013, maka rencana pembangunannya sempat dipangkas oleh Kementerian PPN/Bapenas menjadi hanya setinggi 10 lantai saja.

Atas dasar itu, Herlini menolak kebijakan tersebut dan menyampaikan dukungan. Menurutnya, jajaran PNRI harus terus maju pantang mundur, demi mewujudkan icon peradaban bangsa setinggi 24 lantai. Herlini yakin uang negara sangat layak dialokasikan untuk pembangunan yang berifat investasi jangka panjang. Karena ini bagian dari mencerdaskan kehidupan bangsa. “Masa mengeruk peninggalan peradaban purba di Gunung Padang saja Pak SBY merestui, kenapa untuk perpustakaan tidak?” tuturnya.

Menurut Legislator Dapil Kepulauan Riau ini, anggaran pembangunan Perpustakaan Nasional ini relatif kecil jika dibandingkan pemborosan anggaran oleh birokasi pemerintahan. Bandingkan berapa triliun uang negara dihabiskan untuk kunjungan birokrat atau rutinitas penyusunan dokumen? “Jadi, tidak benar alasan keterbatasan anggaran sampai menghambat pembangunan perpustakaan tersebut,” tanyanya.

Selain mendukung hadirnya Perpustakaan Nasional (National Libraries) di jantung Ibu Kota seperti halnya dimiliki oleh hampir 60% negara di dunia, Herlini juga mendorong PNRI agar lebih gigih sosialisasikan budaya gemar membaca kepada semua kalangan masyarakat. Baginya, jika Indonesia memiliki Perpustakaan Nasional semegah itu, Gerakan gemar membaca kian tumbuh. “Dengan adanya fasilitas publik di Perpustakaan Nasional, saya membayangkan antusias masyarakat ke perpustakaan akan semeriah ke jalan-jalan ke mal,” pungkasnya.

Share this article :

Poskan Komentar