Jumat, 21 Juni 2013

Home » » Aunur Rofiq Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan Wahai Pemuda, Bangkitlah!

Aunur Rofiq Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan Wahai Pemuda, Bangkitlah!


Isu kepemudaan selalu menarik perhatian. Apalagi bila dikaitkan dengan kebangkitan suatu bangsa. Angkatan muda cukup besar, hampir 30 juta dari 240 juta penduduk Indonesia. “Saya yang sudah lebih tua mengharapkan, pemuda ini tidak hanya sekadar sekolah kemudian mencari pekerjaan,” kata 

Aunur Rofiq, Salah seorang Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan yang membidangi ekonomi.Selain itu, Islam mengajarkan berwirausaha itu lebih bermartabat dari pada sekadar mencari pekerjaan. Tentu akan lebih menarik lagi bila isu kepemudaan dikaitkan dengan wirausaha. “Kalau kita berwirausaha kita bisa menghidupi orang lain,” kata Aunur.Untuk memperdalam isu Kepemudaan, Kebangkitan dan Wirausaha Eman Mulyatman dan Rani Tarigan dari SABILI mewawancarai Aunur Rofiq, sosok yang konsen dengan masalah ini.  

Berikut petikan wawancaranya:

Pandangan Anda tentang etos kerja pemuda sekarang ini
Sebelum kita bicara etos kerja sebetulnya saya ingin menyampaikan bahwa passion dalam diri para pemuda Islam mesti dikembangkan. Harus ditanamkan, “Saya ingin jadi orang kaya, saya ingin jadi saudagar seperti Abdurrahman bin Auf!” Gairah seperti ini harus muncul dari dalam diri pemuda. Bagaimana mau membayar zakat dan shadaqah yang banyak kalau tidak punya apa-apa. Sekarang bagaimana caranya kita menciptakan orang-orang pembayar zakat yang besar.

Bagaimana dengan dukungan politik yang sepertinya tidak terlalu berpihak kepada pemuda atau pribumi

Sebetulnya kultur di beberapa daerah sangat mendukung. Mengenai dukungan politik, yang penting itu muncul semangat dulu dari pemudanya. Ada suatu gairah, ada suatu gerakan untuk berbisnis, berusaha. Daripada ngempit  ijasah kesana kemari mencari pekerjaan. Dukungan politik itu akan datang sendirinya kalau pemuda itu sudah bergerak. Jadi, yang penting bergerak saja dulu.

Di zaman Kolonial Belanda, orang lebih bangga jadi pegawai. Mental ini terwarisi sampai sekarang

Indonesia bangkit karena kumpulan saudagar Islam yang membentuk Syarikat Islam. Sebut Tjokroaminoto, dia tinggalkan pamong prajanya, memilih jadi pedagang. Tjokroaminoto itu kan orang Madiun yang pindah ke Surabaya dia tanggalkan keningratannya. Di dalam Islam strata yang paling tinggi ya para pengusaha. Rasul saw menyebut sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, Sembilan di antaranya adalah pengusaha.

Sekarang negeri jiran, Malaysia lebih maju, padahal dulu mereka berguru pada kita

Sebetulnya kita tidak perlu membandingkan dan mencari-cari siapa yang salah. Kuncinya cuma satu, jangan malas, kerja, kerja dan kerja!

Untuk berwirausaha selalu muncul dua pertanyaan, bagaimana memulai dan darimana modalnya

Ini pertanyaan klasik. Kalau seorang pengusaha biasanya tidak pernah bicara modal. Kalau banyak minta modal biasanya dan kebanyakan pasti bangkrut. Jadi semangat kalau dia ada modal, modalnya habis usahanya habis. Chairul Tanjung itu bukan anak orang kaya raya, tapi sekarang dia bisa punya Trans TV, punya Bank Mega. Modal darimana Bagaimana dia memanfaatkan peluang sehingga menambah nilainya. Tentu saja seorang pengusaha harus punya keberanian untuk berubah, inovasi.

Lalu bagaimana memulainya
Apa saja lakukan. Jangan langsung mau enak. Tidak ada orang bisa langsung enak kecuali kamu anaknya konglomerat. Kapan mulainya, sekarang juga! Lakukan apa yang kamu suka. Jualan es boleh, jualan otak-otak boleh, jualan handphone boleh. Sekarang ini kan banyak orang pilih-pilih karena bayangannya saya ingin kaya. Ya harus susah dulu untuk mencapai enak.

Sering kali orang mencari kambing hitam bahwa pemuda Indonesia menjadi begini karena Barat yang meninabobokan pemuda. Apa Anda percaya teori ini

Begini, orang lain meninabobokan atau konspirasi kalau kita niatnya mau bangkit, cuek saja. Anda lihat para pemuda di Malaysia, Anda hitung berapa sih jumlah wirausaha di Malaysia dibanding jumlah penduduk Wirausaha Malaysia sudah diatas 5 persen. Sekarang mencapai 5 atau 7 persen. Indonesia 2 persen saja belum Sadarlah, yang akan menggerakkan ekonomi bangsa ini wirausaha. Siapapun yang jadi pemerintah tidak akan kuat menggerakkan semua ini. Dengan penduduk 240 juta anggaran kita itu 1400 trilyun, itu tidak kuat. Anggaran segitu dipakai belanja rutin dan subsidi hampir habis.

Muslim, Pemuda, Indonesia dan Kebangkitan bagaimana menyatukan ini
Pertama, menyatukannya adalah kita ajak bicara para pemuda muslim ini. Kedua adalah supaya mereka bangkit kita beritahu mereka jadi orang kaya itu enak apalagi orang kaya yang takwa. Banyak orang baranggapan salah, lebih baik Miskin-Takwa daripada Kaya-Maksiat. Kalau saya tidak, lebih baik Kaya-Takwa daripada Miskin-Takwa. Miskin-Takwa bisa berdoa tok! Kalau Kaya-Takwa, subhanallah bisa berbuat apa saja untuk kebaikan di jalan Allah. Mau zakat besar mau infak shadaqoh besar.

Mau tidak mau kalau bicara kebangkitan berarti bicara pemuda



Ya benar! Wahai pemuda bangkitlah! Kebangkitan itu tempatnya pemuda. Jadi tidak boleh ada pemuda menggangur, ngobrol-ngobrol terus, menghabiskan waktu. Mulailah berfikir bagaimana dia menghidupi dirinya sendiri, menghidupi keluarganya dan bermanfaat buat lingkungannya. Kalau dia tidak punya kemampuan finansial, bagaimana bisa

Majalah sabili edisi 14/XIX
Share this article :

Poskan Komentar