Kamis, 07 Februari 2013

Home » » Transisi Harus Pacu Kesejahteraan

Transisi Harus Pacu Kesejahteraan

Rizal Ramli: Transisi tidak cukup hanya di bidang politik
MafazaOnline-Rabat,MAROKO-Negara-negara yang mengalami transisi dan menggunakan pendekatan struktural akan memacu kesejahteraan rakyat. Mereka bergerak cepat untuk memasok pangan dengan harga murah, meningkatkan kapasitas dan nilai tambah nasional. Transisi model ini akan mendapatkan dukungan yang kuat dari rakyat dan kekuatan nasional sehingga masa transisi lebih cepat.


“Transisi memang tidak cukup hanya terjadi di bidang politik. Transisi juga harus memicu perbaikan kesejahteraan. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga agar oligarki lama tidak semakin dominan setelah transisi politik,” ujar pensehat ekonomi PBB, Dr Rizal Ramli, dari Rabat, Maroko (5/2).

Menurut mantan Menko Perekonomian itu, negara-negara dalam transisi dari sistem otoriter ke demokrasi sering mengalami kurva pertumbuhan J-terbalik. Kurva J-Terbalik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan ekonomi yang anjlok ketika terjadi gejolak sosial-politik. Namun setelah itu ekonomi mulai membaik dengan pertumbuhan lambat di tahap-tahap awal. Biasanya, transisi tersebut dapat berlangsung tiga tahun.

Namun pada beberapa kasus, lanjut dia, ada sejumlah negara yang mengalami transisi sampai 5-10 tahun. Negara-negara yang mengikuti strategi neoliberal akan mengalami masa transisi yang lebih lama, karena prioritas mereka adalah quick-fix. Hal ini disebabkan karena mereka justru memperbesar penetrasi produk dan jasa impor dengan tambahan utang. Seharusnya, mereka pada pemenuhan kebutuhan rakyat dan ketahanan ekonomi nasional.

“Demokrasi yang tidak diikuti dengan reformasi hukum, hanya akan menguntungkan kelompok elit. Pada gilirannya hal ini justru menghambat kemajuan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat, “ ujar tokoh nasional yang dikenal sebagai ikon perubahan tersebut.

Calon presiden alternatif yang di kalangan nahdiyin juga disebut Gus Romli tersebut hadir pada pertemuan tingkat tinggi yang diorganisasi Peserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk para pemimpin Arab Spring. Semula direncanakan pertemuan diselenggarakan pada akhir tahun lalu di Kairo. Tetapi karena demontrasi berdarah terus berlanjut di Mesir dan Syria, pertemuan pun akhirnya dipindahkan ke Rabat, Maroko.

Pertemuan tingkat tinggi itu dimaksudkan untuk membahas modus dan kasus-kasus transisi dari negara otoriter ke demokratis, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial. Sejumlah tokoh penting yang antara lain Sekjen ESCWA Rima Khalaf, Menteri Tunisia Ridha Saidi dan Abou Marzouki, Gubernur Bank Sentral Jordania Ziad Fariz, serta para pemimpin transisi dari Tunisia, Mesir, Yemen, Syria, South Afrika, Libya, Lebanon, dan Bahrain.


Nasi Jagung Manglie: Solusi untuk Penderita Diabetes
Share this article :

Posting Komentar