Senin, 07 Januari 2013

Home » » Tradisi Khitan Negeri Mandela

Tradisi Khitan Negeri Mandela

MafazaOnline-AFSEL-Ditengah kecemasan rakyat menunggu kepastian kesehatan Mandela yang makin memburuk, ternyata Afrika Selatan memiliki cerita lain yang tragis.

Mandela, seperti banyak tokoh politik di Afrika Selatan adalah seorang Xhosa, bagi anak laki-laki Xhosa, tradisi seremonial transisi dari anak-anak menjadi lelaki dewasa menjadi sebuah keharusan demi dihormati ditengah masyarakat.

Proses ritual yang dikenal sebagai Ukwaluka ini adalah tradisi khitan yang dilakukan dengan cara tradisional, presiden Mandela sendiri pernah menceritakan pengalamannya menjalani 3 bulan sekolah khitan tradisional ini pada tahun 1934 dalam memoarnya A Long Walk To Freedom.

"Seorang pria Xhosa yang tidak disunat dianggap perlawanan pada masa itu, karena dia tidak dianggap seorang pria sama sekali, melainkan masih anak-anak. Anak laki-laki akan menangis, tapi seorang pria menyembunyikan rasa sakitnya," tulisnya di memoar itu.

Upacara seremonial saat ini cenderung berlangsung selama tiga minggu, bukan tiga bulan, namun unsur inti tetap sama dan begitu juga risikonya. Khitan dilakukan dengan cara yang telah berubah sedikit dibanding pada saat Nelson muda dulu. Tanpa akses terhadap anestesi, obat penghilang rasa sakit, atau bahkan antibiotik, kulup anak laki-laki dipotong oleh ahli bedah tradisional dengan menggunakan pisau lipat atau belati tradisional.

Dalam beberapa tahun terakhir, Afrika Selatan telah tumbuh menjadi terbiasa membaca tentang korban khitan yang berkahir tragis. Pada tahun 2001, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Khitan Tradisional dalam upaya untuk mencegah kematian yang terus meningkat. Sejak itu, lebih dari 500 anak laki-laki akhirnya diketahui telah meninggal di Eastern Cape. Bulan lalu, Desember 2012, setidaknya 15 anak laki-laki tewas, dan 64 dirawat di rumah sakit. Sebagian besar kematian terjadi akibat terinfeksi dan tidak cepat mendapat pertolongan karena sekolah khitan dilakukan di pegunungan.

 "Setiap tahun ada dua periode, ketika anak-anak berusia 17 atau 18 tahun mereka dikirim ke gunung untuk sekolah khitan pada bulan Juli dan Desember, surat kabar kami penuh cerita tentang anak laki-laki yang sekarat dan kehilangan penis mereka. Rasanya seperti tradisi kami membunuh anak-anak kami," kata Mayenzeke Baza, pembuat film ritual tersebut.

Meskipun pemerintah menyediakan khitan gratis, namun masih ada tekanan besar pada anak-anak muda untuk mengikuti model tradisional. Sibusiso Gaca, seorang murid 18-tahun di Universitas Queen, yang mengizinkan Baza memfilmkannya saat ia mengikuti sekolah khitan mengatakan bahwa ia tetap yakin, ia hanya dengan mengikuti jejak ayahnya, ia bisa menjadi laki-laki dewasa dan mendapatkan rasa hormat dari masyarakatnya.

"Bagi saya, rumah sakit adalah tempat istirahat," katanya. "Menurut keyakinan saya, saya harus pergi ke semak-semak untuk dikhitan, ini adalah identitas saya." tambahnya

Transisi menjadi dewasa masyarakat Xhosa di Afrika Selatan masih tetap dihormati sampai saat ini namun memiliki konsekuensi yang mengerikan. (M.Rani Tarigan/alJazeera)




==================================================
NASI JAGUNG MANGLIE SOLUSI UNTUK PENDERITA DIABETES  NASI Jagung Mangli adalah sebuah inovasi di bidang pengolahan hasil pertanian. Sebuah produk yang mengolah jagung menjadi makanan yang praktis dan mudah disajikan. Dengan cita rasa yang enak, unik, dan khas desa Mangli, Gunung Sumbing Magelang. Kini begitu mudah anda dapatkan di dalam produk NASI JAGUNG MANGLIE.
Silakan di Klik:
-----------------------------------------------------------------------------------------


Share this article :

Posting Komentar