Sabtu, 29 Desember 2012

Home » , » ‘Takdir’ Seorang Presiden …

‘Takdir’ Seorang Presiden …

DR Rizal Ramli ditengah santri Ponpe al Ittifaqiyah
MafazaOnline-OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN- “Semoga Allah SWT menakdirkan yang terbaik untuk bapak Rizal Ramli. Dan, Pak Rizal Ramli harus ikhlas menerima takdir itu, termasuk kalau ditakdirkan menjadi Presiden Republik Indonesia,” ujar KH Mudrik Qori, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaqiyah, Indralaya, Rabu (26/12).

Tak pelak lagi, ucapan sekaligus doa tersebut langsung disambut koor “Aamiin” panjang dari tidak kurang 500 peserta Dialog Nasional Bersama DR Rizal Ramli yang digelar Ponpes Al Ittifaqiyah. Dialog juga dihadiri sejumlah kiai dan ulama perwakilan Ponpes di Sumsel, anggota DPRD Provinsi Sumsel dan Kabupaten Ogan Ilir, organisasi pemuda dan kemasyarakatan, serta undangan lainnya. Sebagian peserta terpaksa memenuhi anak tangga dan selasar-selasar, karena Aula Ibnu Oesman tidak mampu menampung membuldaknya peserta.

Empat jam waktu yang dialokasikan itu seperti berlalu dengan cepat. Berbagai pertanyaan silih berganti datang dari peserta, termasuk dari Pengasuh Ponpes. Pertanyaan-pertanyaannya justru lebih banyak berada di area ekonomi dan politik mutakhir negeri ini. Maklum, tema yang diusung dialog adalah “Refleksi Ekonomi dan Politik Indonesia 2012.” Hebatnya lagi, sebagian besar pertanyaan tersebut punya bobot yang lumayan berat

“Saya seperti sedang diuji, apakah saya benar-benar doktor lulusan Amerika atau doktor abal-abal,” ujar Rizal Ramli sambil tersenyum lebar di awal paparannya, yang disambut tawa peserta dialog.

Dalam sambutannya, KH Mudriq memang mencecar mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahaman Wahid tersebut dengan sejumlah soal ekonomi-politik. Beberapa pertanyaan itu antara lain seputar utang negara yang sampai Oktober 2012 mencapai hampir Rp 2.000 triliun, kebijakan utang yang dianggap sebagai solusi andalan menutup defisit APBN, efektivitas dan manfaat Master Plan Percepatan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dibanggakan pemerintah, hubungan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan kesejahteraan riil rakyat, rontoknya harga karet dan crude palm oil (CPO) yang menekan pendapatan rakyat Sumsel, dan sederet “pertanyaan berat” lainnya.

Serunya pertanyaan itu ternyata juga mengalir dari peserta dialog lainnya. Ada yang bertanya seputar krisis Amerika dan Eropa serta dampaknya bagi perekonomian nasional. Juga soal redenominasi rupiah sampai kemungkinan Indonesia menggunakan dinar dan dirham yang kebal inflasi sebagai mata uang resmi. Dan, tentu saja, tidak ketinggalan pertanyaan seputar korupsi serta perkembangan politik nasional terbaru sebagai “menu wajib” dialog siang itu.

Penuhi dahaga

Bukan Rizal Ramli kalau tidak bisa menjawab serbuan pertanyaan “seram” tersebut. Satu per satu dia penuhi dahaga peserta dialog yang sebagian besar adalah generasi muda SMA dan perguruan tinggi. Bahkan di sela-sela paparannya, tokoh ikon perubahan nasional ini juga menyelipkan humor-humor segar seputar budaya dan kuliner masyarakat Sumsel.

“Orang Sumsel benar-benar luar biasa. Bayangkan, ‘kapal selam’ pun dimakan. Ini bisa membuat takut armada angkatan laut Inggris yang dikenal sangat kuat. Orang Sumsel juga makan ‘roket’ yang membuat Amerika ketar-ketir karena produk teknologi tingginya bisa terancam. Kalau soal sabar, orang Sumsel juga sangat luar biasa. Untuk membuat kue saja, perlu sampai delapan jam. Kalau saya terbang Jakarta-Tokyo yang cuma tujuh jam, saya sudah sampai Tokyo tapi kuenya belum juga matang,” ujar Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) ini yang disambut meledaknya tawa peserta dialog.

Rizal Ramli juga sempat mengajak peserta dialog pada kejayaan di masa silam, khususnya ketika Sultan Mahmud Badaruddin II  memimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode 1803-1813, 1818-1821. Wilayah kesultanannya meliputi Thailand, Malaya, sebagian Indochina, dan sebagian India.

“Gubernur Jenderal Belanda tidak bisa membujuk Sultan Badaruddin dengan hadiah dan gelar-gelar sebagaimana dilakukannya kepada raja-raja Nusantara lainnya. Sultan bahkan beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda sampai akhirnya dia dan keluarganya ditangkap dan diasingkan ke Ternate hingga wafat di sana. Saya ingin mengajak penduduk Sumsel mewarisi semangat dan kecintaan Sultan Badaruddin terhadap negerinya,” ungkap Rizal Ramli. Suasana dialog tiba-tiba menjadi senyap. Peserta seperti hendak menyerap setiap kata yang dipaparkan pendiri lembaga kajian ECONIT ini.

Tampaknya rakyat benar-benar rindu pada figur yang mampu membawa perubahan agar Indonesia menjadi lebih baik. Mereka melihat harapan itu ada pada sosok Rizal Ramli. Rakyat mengetahui rekam jejak penasehat ahli ekonomi PBB tersebut memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin. Kredibilitas, integritas, dan kapabelitasnya tidak diragaukan. Publik tidak menemukan celah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) melekat pada Rizal Ramli selama menjadi menteri atau jabatan strategis lainnya.

Dengan track record semacam itu, tidak heran bila kehadiran mantan Menteri Keuangan ini disambut amat hangat. Begitu turun dari Innova warna emas milik Ponpes, Rizal Ramli disambut dengan alunan shawalat badar dari ratusan santriwan dan santriwati yang berdiri di kanan kiri jalan. Mereka berebut mencium tangan tokoh yang oleh alumni Ponpes Tebu Ireng itu dianugrahi gelar Gus Romli ini. Bahkan, barisan santriwati menjadi berantakan karena mereka berebut mencium tangannya.

Pada titik ini, apa yang disampaikan KH Mudrik pada sambutannya tadi, tidak mustahil bakal menjadi kenyataan. Dengan izin dan ridha Allah SWT, Rizal Ramli adalah Presiden Republik Indonesia berikutnya menjadi doa yang dikabulkan. Doa dari kyai dan lebih dari 3.000 santrinya, serta doa dan rakyat Indonesia yang menginginkan perubahan bagi kehidupan lebih baik di masa depan. Aamiin… (Edy Mulyadi)
Share this article :

Posting Komentar