Senin, 24 Desember 2012

Home » , » Nostalgia Museum Kereta Api AMBARAWA

Nostalgia Museum Kereta Api AMBARAWA

jaulah rihlah. mafazaonline.com, kereta ambarawa, kereta, mesium kereta

Kereta Api Tak Sekadar Alat Tranportasi

Naik Kereta Api tut tut tut, wah lagu itu sudah ga cocok lagi ya. Kereta sekarang kan pakai diesel atau listrik. Tapi di Ambarawa masih ada lho kereta api uap. Jadi kita masih bisa denger tut tut tut...

Setelah tiga edisi berturut-turut menulis tentang Merapi, Sahabat Alam kali ini membawa sobat eL-Ka bernostalgia ke Museum Kereta Api Ambarawa. Museum kereta api Ambarawa ini terletak 37 km dari Semarang, 81 km dari Yogyakarta dan 63 km dari Solo. Beberapa kali memang kami melewati jalur ini, tapi baru terpenuhi sekarang. Apalagi kalau mengklik search engine di internet, wah banyak sekali berita tentang museum KA Ambarawa ini.

Tapi jangan terkecoh, Situs aslinya adalah, http://www.indonesianheritagerailway.com. Diluncurkannya situs ini untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat kepada kereta tua dan menyajikan informasi tentang koleksi artefak-artefak bersejarah kereta api di Indonesia.

Situs dengan motto "Lestarikan Kereta Api" tersebut secara teknis didesain dengan prinsip kemudahan untuk diakses dan menarik pengunjung. "Situs ini dibangun oleh komunitas pencinta kereta api. Ini milik kita semua," kata Ella seperti dikutip dari situs pecinta kereta api, http://www.semboyan35.com/.

Dalam tampilan situs, http://www.indonesianheritagerailway.com
di sebelah kiri layar ada menu yang berinformasikan tentang unit organisasi pusat pelestarian benda dan bangunan PTKA, program-program kegiatan, berita-berita terkait pelestarian kereta api serta komunitas pelestarian kereta api. Sedangkan di sebelah kanan ada menu tentang benda dan bangunan kereta api seperti stasiun, bangunan, konstruksi, jalan rel, persinyalan, telekomunikasi, sarana, museum, gallery dan arsip tua.

"Indonesia memiliki 600 bangunan stasiun sebelum tahun 1939.Benda-benda seperti kereta dan lokomotif ada 146 unit yang tersebar dari Sumatera Utara dan Jember. Kita juga memiliki tiga lokasi museum kereta api, yang terbesar di Ambarawa," kata Ella.

KA Uap Masuk Museum
Sejak tahun 1953, DKA (Djawatan Kereta Api) mulai mengganti peran lokomotif uap dengan lokomotif diesel; sehingga memasuki tahun 1970, lokomotif uap mulai masuk era barang antik seiring tidak lagi diproduksi oleh pembuatnya di Eropa maupun di Amerika.Oleh karena itu muncul ide untuk mengumpulkan sejumlah lokomotif uap ke museum.

Pada 8 April 1976, Ir Soeharso (Kepala Eksploitasi Tengah PJKA/Perusahaan Jawatan Kereta Api) bertemu Soepardjo Roestam (Gubernur Jawa Tengah) untuk membahas rencana pembangunan museum kereta api serta berinisiatif mengumpulkan lokomotif uap dan menyimpannya di Stasiun Ambarawa. Kepala Eksploitasi Tengah PJKA membentuk panitia yang bertugas mengumpulkan materi museum dan kemudian mengajukan konsep rencana kerja kepada Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 18 Mei 1976.

Pada 6 Oktober 1976, Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah meninjau bakal lokasi museum kereta api di stasiun Ambarawa dan menyetujui rencana pembangunan museum tersebut.

Pada akhir 1976, terkumpul sejumlah 22 lokomotif uap yang menjadi koleksi museum ini.Stasiun Ambarawa resmi berfungsi museum sejak 21 April 1978 dan diresmikan oleh Rusmin Noerjadin (Menteri Perhubungan Republik Indonesia) dengan menikmati paket tour kereta wisata bergerigi bersama rombongan.

Suasana museum ini masih menunjukkan suasana stasiun kereta api jaman dulu, yang masih terjaga dan terawat rapi. Berada didalam stasiun kereta api rasanya seperti kembali ke suasana tempo dulu, pengunjung dapat melihat kantor kepala stasiun, ruang tunggu, loket peron, peralatan komunikasi, topi masinis, alat pembolong tiket, stempel, mesin ketik, jam kuno, perabot meja kursi tempo dulu dan sebagainya.

Untuk masuk ke dalam museum ini kita cukup membayar Rp. 5000. Pertama kali masuk ke museum ini kita akan menjumpai sebuah penggalan roda dan rel kereta api bergigi yaitu suatu bangunan rel kereta api yang digunakan untuk jalan menanjak. Kayaknya rel ini di Indonesia hanya ada di Ambarawa). Di belakangnya ada bangunan stasiun kuno bertuliskan WILLEM I. Ada 21 buah lokomotif baik yang berbahan bakar kayu maupun batu bara tampak tertata dengan rapi di museum ini. Setiap pengunjung dapat naik dan melihat kedalam ruang masinis lokomotif ini untuk melihat instalasi bahan bakar dan ruang kemudi lokomotif-lokomotif tua ini.

Sayang museum kurang dikelola dengan baik.Kereta dibiarkan berada di ruang terbuka, kehujanan dan keanginan sehingga bisa mempercepat kerusakan.Apalagi Ambarawa termasuk daerah lembab.Selain itu perlu adanya keberadaan pemandu yang menjelaskan tentang KA uap. Bukankah kereta api bukan sekadar transportasi? Tapi juga sebagai alat perjuangan merebut kemerdekaan.

Memasuki ruang galeri (dulunya ruang pegawai kereta api) kita dapat menyaksikan benda-benda kuno peninggalan jaman Belanda lainnya seperti pesawat telegram morse, pesawat telepon kuno, stempel pejabat stasiun kereta api jaman Belanda, dan berbagai macam koleksi lainnya.

Selain koleksi-koleksi kuno tersebut kita juga bisa menikmati perjalanan wisata dengan rute Ambarawa – Bedono menggunakan kereta kuno yaitu menggunakan kereta wisata bergigi yang berbahan bakar kayu jati. Untuk menikmati perjalanan selama kurang lebih 2 jam ini kita harus mencharter kereta tersebut seharga Rp 3.250.000, - .

Bagi Sahabat yang tidak punya cukup uang, tidak usah kecil hati kamu bisa menikmati wisata kereta yang lain yang tak kalah serunya yaitu Lori Wisata jurusan Ambarawa – Tuntang. Untuk menikmati perjalanan wisata ini, Sahabat hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp. 10.000,-. Berbeda dengan kereta jurusan Ambarawa – Bedono Lori Wisata Ambarawa – Tuntang ini tidak bergigi dan berbahan bakar bensin.

Begitu lori dengan kecepatan kurang dari 50 km/jam ini keluar dari stasiun Ambarawa, kita akan menjumpai perkampungan penduduk. Kita dapat menyaksikan berbagai macam aktifitas warga disekitar rel ini. Ada yang menarik dari kereta ini, dalam lori ada orang yang bertugas sebagai pengatur lalu lintas yaitu setiap akan menjumpai perempatan orang ini turun berlari ke perempatan tersebut untuk menghentikan kendaraan yang akan lewat.

Lori Wisata Ambarawa - Tuntang
Setelah keluar dari perkampungan mata kita akan dibuai oleh indahnya hamparan sawah dan pemandangan pegunungan Ungaran, Andong dan Merbabu. Tak hanya itu beberapa menit kemudian kita akan melewati Rawa Pening. Di sini kita dapat menyaksikan orang-orang memancing sambil mengendarai perahu-perahu kecil.Ada juga perahu-perahu besar yang digunakan untuk mengambil sedimentasi eceng gondok di rawa ini.

Setelah setengah jam perjalanan kita akan sampai di Stasiun Tuntang. Disini kita akan menyaksikan stasiun kecil yang bergaya arsitektur Eropa Kuno. Disini Lori hanya akan berhenti sebentar dan kemudian balik lagi ke Stasiun Ambarawa.

PT Kereta Api (Persero) menyediakan 2 (dua) kereta api wisata di Ambarawa. Pertama, kereta wisata rute Ambarawa - Bedono (9 km) yang ditarik lokomotif uap bergigi B25 02 atau B25 03.Yang menariknya, kedua kereta penumpang ini berdinding kayu. Di dinding kereta penumpang tidak ada kaca jendela sehingga penumpang dapat menikmati semilir angin nan sejuk dan indahnya pemandangan selama dua jam perjalanan.

Jalur kereta api rute Jambu - Bedono ini berada di ketinggian 693 meter di atas permukaan air laut. Panorama di sepanjang perjalanan semakin luar biasa.Hamparan Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu menjadi latar belakang yang mempesona.Karena letaknya yang cukup tinggi inilah di sepanjang rute Jambu - Bedono ini terdapat rel bergerigi. Fungsinya adalah untuk menahan agar kereta api tidak mengalami kesulitan menanjaki jalur tersebut.

Palagan Ambarawa
Ingat Palagan Ambarawa? Hem ya, di pertigaan Ambarawa sebelum masuk museum kamu akan disuguhi pemandangan heroik museum Palagan Ambarawa. Mengutip dari situs bapak-bapak kita di TNI Angkatan darat, www.tniad.mil.id/1palagan_ambarawa.php, peristiwa Palagan Ambarawa merupakan peristiwa penting karena merupakan peristiwa pertempuran yang pertama kali dimenangkan bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. Peristiwa tersebut menjadi momentum bersejarah dalam  pergelaran militer dengan gerak taktik pasukan darat. Berdasarkan kemenangan yang gemilang dalam Palagan Ambarawa tersebut, selanjutnya setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri dan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 163  tahun 1999 diabadikan menjadi " Hari Juang Kartika ". di museum ini juga ada kereta yang bertuliskan heroik. “Merdeka ataoe Mati!”

Kota Ambarawa sejak jaman hindia Belanda merupakan daerah militer, sehingga Raja Willem I berkeinginan untuk mendirikan bangunan stasiun kereta api guna memudahkan mengangkut pasukannya untuk menuju Semarang. Maka pada 21 Mei 1873 dibangunlah stasiun kereta api Ambarawa dengan luas tanah 127. 500 meter persegi.

Masa kejayaan stasiun Ambarawa yang lebih dikenal dengan sebutan WILLEM I, dihentikan pengoperasiannya sebagai Stasiun Kereta api dengan jurusan Ambarawa – Kedungjati – Semarang. Dan tahun 1976 untuk lintas Ambarawa – Secang – Magelang juga Ambarawa – Parakan – Temanggung.

Dengan ditutupnya Stasiun KA Ambarawa, maka pada 8 april 1976 gubernur Jawa Tengah Bapak Soepardjjo Rustam bersama kepala PJKA Eksploitasi Soeharso memutuskan Stasiun Ambarawa dijadikan musem kereta api, dengan mengumpulkan 21 buah lokomotif yang pernah andil dalam pertempuran khusunya mengangkut tentara Indonesia. Yuk naik kereta.


BOX
Kereta bergerigi
Jalur kereta api rute Semarang–Tanggung-Kedung Jati-Solo–Yogyakarta selesai dibangun dengan susah payah oleh NIS (Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij) dan beroperasi pada tanggal 10 Juni 1872, termasuk lintas cabang Kedungjati-Tuntang-Ambarawa selesai dibangun pada tahun 1873. Bangunan Stasiun Willem I (atau yang lebih dikenal dengan stasiun Ambarawa) dibuat dari kayu dengan luas areal 127500 meter persegi dan resmi dioperasikan pada 21 Mei 1873. Jalur Kereta Api dari Jambu menuju Gemawang harus melewati bukit yang terjal (kemiringan topografi 65 derajat).Untuk menghemat biaya, dibangunlah rel bergigi dan membeli lokomotif uap bergigi yaitu seri B25. NIS melanjutkan pembangunan jalur kereta api dari Ambarawa ke Secang (termasuk rel bergigi rute Jambu-Bedono-Gemawang sepanjang hampir 6.5 kilometer) dan resmi beroperasi sejak tanggal 1 Februari 1905. Di jalur ini, tujuan transportasi kereta api untuk kegiatan militer lebih diutamakan karena laju lokomotif uap B25 hanya mampu merambat dalam kecepatan terbatas 15 kilometer per jam. Stasiun Ambarawa (Willem I) yang ada sekarang adalah bangunan kedua yang dibangun tahun 1907, menggantikan bangunan lama yang terbuat dari kayu.

KUIS
Apa sebutan untuk kepala penarik gerbong kereta api?

Bagi Tiga pengirim pertama yang mengirimkan jawaban dengan benar, akan mendapat bingkisan menarik. So kirim jawaban kamu secepatnya melalui kartu pos disertai kupon ke redaksi eL-Ka: Majalah SABILI, Jalan Cipinang Cempedak III No. 11A Polonia, Jakarta Timur 13340

Foto:
http://sahabatalam3.blogspot.com/2011/01/nostalgia-museum-kereta-api-ambarawa.html

Share this article :

Poskan Komentar