Rabu, 19 September 2018

Home » » Dakwah Gus Miftah dan Inspirasi Sunan Drajat

Dakwah Gus Miftah dan Inspirasi Sunan Drajat

Gus Miftah (FOTO: Tribun)
Secara umum ajaran Kanjeng Sunan Drajat dalam menyebarkan dakwah Islam dikenal oleh masyarakat luas sebagai  “Pepali Pitu” 
Oleh Ahmad Ali Adhim


Mafaza-Online | Seorang sejarahwan muslim K. Ng. Agus Sunyoto dalam bukunya yang berjudul “Atlas Wali Songo” (Rekonstruksi sejarah yang tersingkirkan) menyebutkan secara umum ajaran Kanjeng Sunan Drajat dalam menyebarkan dakwah Islam dikenal oleh masyarakat luas sebagai  “Pepali Pitu”  (tujuh dasar ajaran), tujuh falsafah itu kemudian dijadikan pijakan dalam kehidupan. Tujuh dasar ajaran Sunan Drajat yang dimaksud Agus Sunyoto itu adalah:

Pertama, memangun Resep Tyasing Sasama, yang artinya: “Kita selalu membuat senang hati  orang lain.” Kedua, jroning Suka Kudu Eling Lan Waspodo, yang artinya: “Dalam suasana gembira hendaknya selalu ingat Tuhan dan selalu waspada.”

Ketiga, laksitaning Subrata Lan Nyipta Marang Pringga Bayaning Lampah, yang artinya: “Dalam upaya menggapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan.” Keempat, meper Hardaning Pancadriya, yang artinya: “Senantiasa berjuang menekan gejolak-gejolak nafsu duniawi.”

Kelima, Heneng-Hening-Hanung, yang artinya: “Di dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam keheningan akan mencapai jalan kebebasan mulia”. Keenam, mulya guna Panca Waktu, yang artinya: “Pencapaian kemulian lahir batin dicapai dengan shalat lima waktu.”

Ketujuh, wenehono teken marang wong kang wuto. Wenehono mangan marnag wong kang luwe. Wenehono busana marang wong kang wuda. Wenehono pangiyupan marang wong kang kudanan.”

Yang artinya: “Berikan tongkat pada orang yang buta, Berikan makan pada orang yang lapar, Berikan pakaian pada orang yang telanjang ,Berikan tempat berteduh pada orang yang kehujanan.”

Maksud dari terjemahan bebas, ajaran "Pepali Pitu" tersebut diatas adalah sebagai berikut secara makna rumusan "Filosofis Sosiologis" dari ajaran kanjeng Sunan Drajat berupa, bertujuan mengajak agar setiap diri membina dalam konsep konteks membangun diri. Sebagai arti petuahnya sebagai berikut:

Pertama, di dalam kehidupan ini setiap orang pasti melakukan interaksi atau hubungan dengan orang lain, agar tujuan dan cita citanya berhasil maka harus mampu membuat orang lain senang.

Kedua, dalam perjalanan hidup ini pasti akan menjumpai suka dan duka, untuk itu apabila dalam keadaan suka harus tetap waspada.

Ketiga, demikian pula dalam mencapai cita cita luhur itu, niscaya kita menemui kesulitan kesulitan atau hambatan maka tidak boleh putus asa terhadap segala rintangan dan harus tetap waspada supaya tidak terjerumus atau tergoda oleh jalan yang sesat atau membahayakan diri sendiri. Namun tetap berani menghadapi resiko segala bentuk rintangan.

Keempat, setiap orang harus mampu menahan segala hawa nafsu, baru akan nampak akhlak dan budi. Kelima, melalui sholat lima waktu dengan hati yang bersih orang akan menjadi terhormat, berguna serta mulya bermartabat.

Keenam, berpikirlah dengan tenang, jernih, supaya sampai yang dituju (kepada Allah). Ketujuh, jadilah orang yang dermawan, karena segala sesutu yang dimiliki manusia di muka bumi ini hanyalah titipan Allah semata.

Adapun bila diperhatikan ketujuh ajaran wejangan "Sapta Paweling" tersebut diatas menurut alim ulama sangat berhubungan erat sekali dengan akhlak dan budi pekerti, agar nantinya kita diterima disisi Allah Azza Wajalla, beliau juga sang "Sunan Drajat" berfatwa untuk memperoleh ridho Allah SWT, melalui tiga langkah yaitu:

Pertama, berperilaku yang baik, hingga menyebabkan hati orang lain senang dengan cara senantiasa waspada (hati hati), baik dalam keadaan suka maupun duka, agar tidak terjerumus kedalam perbuatan tercela.

Kedua, untuk itu seseorang harus mendirikan sholat lima waktu, menahan hawa nafsu (Lawwamah, Musawwalah, Amarah), penuh kesabaran, kearifan akal budi, bertakwa, serta mawas diri (nafsu Mutmainnah).

Ketiga, agar manusia dapat kembali ke haribaan Allah Azza Wajalla Yang Maha Esa karena itulah tujuan hidup kaum mukmin, menuju dalam keridhaan-Nya.

Kanjeng Sunan Drajat melanjutkan wejangannya; "Urif iku mung kadya wewayangan, lemampah senetran kadya ing tangane para dalang." Artinya, kehidupan adalah sekedar bayang bayang yang melintas sekejap bagaikan pelakon sandiwara yang berlagak lagak menghabiskan waktunya diatas panggung kemudian tak terdengar lagi suaranya.

Pada poin ke tujuh dalam “Pepali Pitu” itulah Gus Miftah terinspirasi untuk memberikan jalan bagi orang-orang yang berada di dunia malam untuk bermesraan kembali kepada Tuhan. ”Saya pernah ke makam nya Sunan Drajat, di sana ada pesan beliau dalam bahasa jawa Wenehono Ageman Marang Wong Mudo, Wenehono Tongkat Marang Wong Wuto, dalam bahasa indonesianya seperti ini; Berikanlah Pakaian kepada Orang yang Telanjang, dan Berikanlah Tongkat kepada Orang Buta.

Artinya bagi saya itu ajaran berbagi kasih sayang, sementara kebetulan ada teman-teman PSK yang butuh bimbingan kembali kepada Tuhan, sedangkan mereka dianggap masyarakat sekitar sebagai manusia tuna susila, oleh sebab itu saya mengambil keputusan untuk menjemput Bola.” Begitulah pengakuan Gus Miftah ketika berdialog dengan salah seorang Ketua PBNU, Robikin Emhas.

Berawal dari situ, Gus Mifta mengajak orang-orang yang bertato, wanita-wanita yang yang rambutnya dicat berwarna-warni itu untuk mengaji. Hampir belasan Tahun Gus Miftah melakukan dakwahnya di Dunia Malam itu tanpa disoroti media, Gus Mifta sudah melakukan dakwah di prostitusi Sarkem (Pasar Kembang) Yogyakarta 14 Tahun lamanya.

Gus Miftah mengalami banyak sekali rintangan dan halangan, perjalanan dakwahnya sempat dihadang oleh beberapa preman, namun berkat kegigihan beliau dalam mensyiarkan agama Islam, pada akhirnya langkah Gus Miftah untuk meminta izin kepada manajemen kelab-kelab di Yogyakarta dan Bali, ada beberapa manajer yang menolak, ada yang menerima, ada juga yang menerima dengan syarat.

Apakah Gus Miftah punya motif lain dalam menjalani dakwahnya di tempat-tempat prostitusi itu? Hanya Allah dan Gus Miftah yang tahu, namun dari pengakuan Gus Miftah kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang berhak menjadi hakim atas tindakan orang lain itu hanya Allah. Beginilah pengakuan Gus Miftah:

“Coba tanya manajemen, apakah saya meminta bayaran? saya pengajian di Bali malah cari hotel sendiri. Saya tidak mencari sensasi, saya dituduh melacurkan agama tidak apa-apa, yang saya lakukan saat pengajian malah membawakan mereka makanan dan mukenah, saya bagian secara cuma-Cuma kepada mereka.” Masya Allah, semoga Allah memudahkan urusan siapa saja yang benar-benar berjuang di Jalan Allah.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin Kitabul Ilmi Al Imam An Nawawi menyebutkan hadits nabi shallalahu’alaihi wasallam:

وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ:وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR Muslim)


Penulis adalah Santri di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta


Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda


Share this article :

Posting Komentar