Selasa, 13 Juni 2017

Home » » Waktu belajar 5 hari Sepekan, Bagaimana Nasib Madrasah?

Waktu belajar 5 hari Sepekan, Bagaimana Nasib Madrasah?

Agama sebagai inti dari implementasi pendidikan karakter harus diberikan tambahan proporsi pengajarannya, karena jelas dengan teori dan aplikasi nilai agama dalam proses pembelajaran akan memberikan efek langsung terhadap karakter siswa


  
Anggota Fraksi PKS DPR RI H. Nurhasan Zaidi, S.Sos.I
Mafaza
-Online |
Anggota Fraksi PKS DPR RI H. Nurhasan Zaidi, S.Sos.I memberikan tanggapan Penyikapan Atas Kebijakan Kemendikbud Tentang Waktu Belajar Sekolah Senin s.d Jum’at (5 Hari Sepekan). Pada prinsipnya dia mengapresiasi kebijakan  pemerintah  untuk menerapkan pendidikan fullday school yakni siswa belajar di sekolah 8 jam perhari 5 hari per pekan. 

Dengan pandangan bahwa Sabtu dan Ahad dapat dijadikan sebagai hari bercengkrama bersama keluarga dan berinteraksi secara sosial dengan lingkungannya. “Dengan catatan orang tua harus memberikan perhatian khusus terhadap ini,” jelasnya.

Nurhasan Zaidi yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PUI menambahkan, Selain itu, dengan kebijakan ini diharapkan  pendidikan karakter dapat dipelajari bukan hanya teori semata namun dengan proses pembelajaran dan pembiasaan di sekolah dari pagi hingga sore hari. Catatannya adalah agama sebagai inti dari implementasi pendidikan karakter harus diberikan tambahan proporsi pengajarannya, karena jelas dengan teori dan aplikasi nilai agama dalam proses pembelajaran akan memberikan efek langsung terhadap karakter siswa.
“Itu sudah banyak dibuktikan oleh sekolah-sekolah fullday school berbasis agama, seperti Sekolah Islam Terpadu misalkan,” ungkapnya.

Namun, masih kata Nurhasan Zaidi, bila alasannya hanya karena mencukupi jam kerja guru ASN sesuai UU 40 jam sepekan, dirasaa alasan itu tidak cukup relevan dengan Tujuan Pendidikan Nasional dan seolah kebijakan tersebut tidak memiliki semangat untuk membawa pendidikan Indonesia lebih baik, hanya alasan yang terkesan administratif.

Selanjutnya hal yang harus diperhatikan pemerintah atas dampak dari kebijakan ini adalah pemerintah harus segera mencarikan solusi bijak yg komprehensif terhadap eksistensi sekolah-sekolah Agama (Madrasah Diniyah Takmiliyah) yang diselenggarakan oleh Organisasi Islam seperti NU,  PUI, Mathlaul Anwar dan sebagainya. 

“Kita tahu bahwa madrasah diniyah telah memberikan kontribusi dan manifestasi besar terhadap pendidikan Agama putra-putri bangsa,” katanya.

Dengan kebijakan ini sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan sulit bertahan, dan permasalahannya adalah siapa yang akan memainkan peranan madrasah tersebut dan bagaimana caranya, khususnya bagi siswa di sekolah negeri.

Sebelumnya: 


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar