Kamis, 25 Juni 2015

Home » » Habib Rizieq: Revolusi Mental Adalah ‘Perang Terminologi’ Dengan Islam

Habib Rizieq: Revolusi Mental Adalah ‘Perang Terminologi’ Dengan Islam

Bahkan laum liberal di seluruh dunia pun saat ini sedang menggandrungi istilah ‘Revolusi Mental’. Sepintas lalu, ini hanya sebuah istilah, tapi sebenarnya ini adalah ‘perang terminologi’ antara Islam di satu pihak dengan ‘revolusi akhlak’


Silakan klik:
 

Mafaza–Online.Com | JAKARTA - Revolusi akhlak dan ‘Revolusi Mental’ dua hal yang serupa tapi tak sama. Dikatakan serupa karena masalah akhlak sering dikaitkandan diidentikkan dengan persoalan mental, padahal tidak.

“Jika dikaji dengan lebih mendalam dan cermat, ternyata akhlak dan mental adalah dua hal yang amat berbeda, bahkan saling bertolak belakang dan berlawanan serta bertentangan, “ demikian ujar Ketua Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Mohammad Rizieq Shihab dalam akun fanspagenya, Sabtu (02/01/2015) menyindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang resmi mencanangkan Gerakan Nasional Revolusi Mental bertepatan dengan pelaksanaan upacara HUT ke-43 Korpri yang digelar di Lapangan Monas beberapa waktu lalu.

Sebagaimana diketahui, “Revolusi Mental” merupakan jargon yang diusung presiden terpilih Joko Widodo sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014.

Dalam akun fanspage resminya, Habib Rizieq mengatakan, revolusi akhlak adalah visi kenabian yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, sebagaimana beliau pernah sabdakan “Innama Buitstu Liutammima Makarimal Akhlak” (Sesungguhnya aku telah diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan Akhlak), yang berbeda dengan ‘Revolusi Mental” ala Jokowi.

“Sedang ‘Revolusi Mental’ adalah istilah yang dipopulerkan oleh Karl Marx dalam mempropagandakan ajaran sosialis dan komunisnya. Dan istilah “Revolusi Mental” pernah dijadikan jargon Partai Komunis Indonesia (PKI) saat kampanye politiknya dalam Pemilu Pertama di Indonesia pada tahun 1955,” ujarnya di akun fanspage yang telah memiliki lebih dari 43 ribu follower ini.

Menurut Habib Rizieq, kaum atheis, baik dari kalangan Marxisme atau Leninisme mau pun Komunisme, menilai bahwasanya agama adalah belenggu bagi kebebasan mental manusia. Dalam pandangan mereka bahwa keyakinan akan adanya Tuhan adalah perbudakan bagi jiwa manusia.

“Karenanya, manusia harus membebaskan jiwanya dari perbudakan Tuhan melalui ‘Revolusi Mental’, sehingga jiwanya terlepas dari segala belenggu keagamaan dan ketuhanan.”

Kaum Kiri di seluruh dunia, kata Habib Rizieq, hingga zaman sekarang ini masih berprinsip bahwasanya manusia hanya bisa maju jika telah berhasil membebaskan mentalnya dari kungkungan ajaran agama apa pun. Itulah maksud ‘Revolusi Mental’ yang sebenarnya.

Bahkan laum liberal di seluruh dunia pun saat ini sedang menggandrungi istilah ‘Revolusi Mental’. Sepintas lalu, ini hanya sebuah istilah, tapi sebenarnya ini adalah ‘perang terminologi’ antara Islam di satu pihak dengan ‘revolusi akhlak’-nya dan Komunis bersama liberal di pihak lain dengan ‘Revolusi Mental’ nya.

“Kini pertanyaan penting dan gentingnya adalah; “Revolusi Mental” yang dicanangkan Jokowi sejak saat kampanye hingga kini, maksudnya apa dan arahnya kemana?” demikian tanyanya.

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya resmi mencanangkan ‘Gerakan Nasional Revolusi Mental’ bertepatan dengan pelaksanaan upacara HUT ke-43 Korpri yang digelar di Lapangan Monas kemarin.

“Revolusi Mental” merupakan jargon yang diusung presiden terpilih Joko Widodo sejak masa kampanye Pemilu *

HIDAYATULLAH.com


Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah

Share this article :

Posting Komentar