Selasa, 23 Juni 2015

Home » » Di Usia ke 488 Tahun, Jakarta Masih Harus Terus Berbenah

Di Usia ke 488 Tahun, Jakarta Masih Harus Terus Berbenah

Hasil survei BPS menunjukan Indeks Kebahagiaan Penduduk Jakarta sebesar 69,21


Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana saat menghadiri Sidang Paripurna Istimewa dalam rangka HUT Kota Jakarta ke-488 tahun di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kebon Sirih Jakarta Pusat. Senin (22/6/2015).
Silakan klik:
 

Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Memasuki usia yang ke 488, Provinsi DKI Jakarta semakin memunculkan beragam fenomena Kota Metropolitan dan Ibukota sebuah negara berkembang. Modernitas dengan gedung pencakar langit, pusat hiburan, gemerlap malam dan pembangunan transportasi massal modern seperti MRT dan LRT.

Namun berdasarkan  hasil survey Indeks Kebahagiaan penduduk tahun 2014 yang belum lama dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil survei BPS tersebut menunjukan Indeks Kebahagiaan Penduduk Jakarta sebesar 69,21. Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kebon Sirih Jakarta Pusat. Senin (22/6).

Angka ini berada dibawah beberapa provinsi yang memiliki Indeks Kebahagiaan yang lebih tinggi dengan tiga teratas adalah Riau dengan Indeks 72,42, Maluku 72,12 dan Kalimantan Timur 71,46. Menurut Sani, sapaan akrab Triwisaksana, Angka ini menunjukkan bahwa aspek ekonomi bukan merupakan variabel utama penentu kebahagiaan.

“Ini sebabnya indeks kebahagiaan juga disebut beyond GDP karena diukur bukan hanya berdasarkan tingkat ekonomi suatu wilayah,” ujarnya.

Sementara disisi lain Jakarta masih mengalami problem serius seperti kemacetan, banjir, kemiskinan dan pemukiman padat dan kumuh, serta kriminalitas yang semakin tinggi juga menyebabkan rendahnya indeks kebahagiaan di DKI Jakarta.

“Bagaimana bisa indeks kebahagiaan tinggi kalau mau kemana-mana macet, kriminalitas tinggi, lingkungannya kumuh dan kotor,” ungkap politikus PKS asal daerah pemilihan Jakarta Selatan VII ini.

Masih menurut Sani, tingkat kepuasan yang rendah dibidang pendidikan, pendapatan dan pekerjaan juga menyebabkan rendahnya tingkat kebahagiaan di DKI Jakarta. Hal ini tentu harus menjadi perhatian Pemda DKI Jakarta, karena ketiga indikator ini sangat lekat dengan kebijakan pemerintah.

“Pelayanan pendidikan yang belum memuaskan, pendapatan yang rendah dan sulitnya mencari pekerjaan juga mempengaruhi indeks kebahagiaan di Jakarta, ini tentunya sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah,” pungkasnya.
 


Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah


Share this article :

Posting Komentar