Minggu, 03 Mei 2015

Home » » Susi Tutup Investasi Asing Perikanan Tangkap

Susi Tutup Investasi Asing Perikanan Tangkap

Susi meyakini bahwa hampir semua atau 99,99 persen kapal eks asing merupakan pelaku illegal fishing



Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, sebelum mengikuti rapat dengar pendapat umum dengan Komite II DPD, di Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu, 5 November 2014. Dalam pertemuan tersebut Menteri Susi mengancam mundur dari Kabinet Kerja Jokowi jika birokrasi bergerak lambat dalam merespons rencana pembuatan peraturan menteri untuk mengubah aturan yang memberatkan nelayan ataupun investor | FOTO: TEMPO/Imam Sukamto
̊»̶·̵̭̌ Moode-STORE ·̵̭̌«̶̊
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan tidak akan membuka pintu bagi investor asing di sektor perikanan tangkap. “Nelayan asing tidak boleh,” ujar Susi melalui pesan pendek kepada Tempo, Jumat, 24 April 2015.

Susi mengatakan sektor perikanan tangkap hanya untuk nelayan Indonesia. Langkah ini diambil Susi untuk membenahi persoalan illegal fishing yang selama ini mengakar dan menjadikan sumber daya laut yang berkelanjutan agar hasil laut Indonesia tidak dieksploitasi asing terus.

Langkah Susi menutup asing untuk berinvestasi diperikanan tangkap semakin kuat dengan bercermin dari kasus kapal MV Hai Fa. Susi meyakini bahwa hampir semua atau 99,99 persen kapal eks asing merupakan pelaku illegal fishing. Dengan beroperasinya kapal-kapal ini, Susi memperkirakan, potensi kerugian dari praktik illegal unreported dan unregulated fishing mencapai US$ 30 miliar-US$50 miliar per tahun.

Selain itu, Susi juga melarang kapal kargo perikanan asing menjadi alat angkut antar pulau. Sebab, dia khawatir ikan yang diangkut dibawa langsung ke luar negeri tanpa melewati pelabuhan resmi.


“Dari main harbour ke luar negeri baru boleh asing,” ujar Susi.
Investor asing, menurut Susi, hanya boleh berinvestasi di sektor hilir, seperti pengolahan ikan dan rumput laut, processing seaffod, pasar, pabrik, atau refinery rumput laut. Sedangkan untuk sektor hulu dari mulai perikanan tangkap dan budidaya untuk lokal.

DEVY ERNIS | TEMPO.CO


Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
 


Share this article :

Poskan Komentar