Jumat, 15 Mei 2015

Home » » Peristiwa Pemerkosaan Pada 1998 Adalah Kebohongan Sistematis alias Hoax?

Peristiwa Pemerkosaan Pada 1998 Adalah Kebohongan Sistematis alias Hoax?

Isu pemerkosaan massal atas perempuan china dalam kerusuhan mei 1998 senantiasa dihembus-hembuskan. Tujuannya untuk menyudutkan ummat islam. Hasil penyidikan FBI akhirtnya membongkar kebohongan itu.

Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
 

Mafaza-online.Com | FORUM - “Jika sebuah kebohongan terus menerus diceritakan hingga terdengar luas di masyarakat, akan meyakini kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran,”kata menteri proganda NAZI Jerman, Dr Josef Goebels enam dasar warsa lalu.

Meski sudah kuno, namun prinsip proganda yang diterapkan nazi untuk melibas bangsa Yahudi di eropa menjelang perang dunia II itu masih terus dipakai dan dilestarikan hingga kini.

Strategi proganda ala Goebels ini pun tetap laris di Indonesia dan masih cukup efektif sebagai alat pemukul lawan politik dan ide yang berseberangan. Tengoklah berbagai proganda hitam yang dikembangkan dengan cara itu.Misalnya, pembangunan opini bahwa islam sudah tidak cocok untuk zaman modern ini, pembentukan opini bahwa poligami identik dengan kekerasan, pengelabuan bahwa pluralisme adalah kebaikan yang harus diterima dan sebagainya.

Tapi proganda kebohongan paling dahsyat di republik ini adalah isu tentang pemerkosaan massal atas para perempuan etnis china saat kerusuhan Mei 1998. Dengan sistematis mereka meniupkan isu tentang pemerkosaan itu, dengan berbagai cerita di berbagai media, dengan cara dan sarana, baik didalam dan luar negeri. Padahal, dengan jelas isu itu sebenarnya dipakai untuk mendiskreditkan Islam dan simbol – simbol Islam.

Kisah Vivian dan Foto – Foto Perkosaan
Internet menjadi sarana paling hebat untuk menyebarluaskan kisah perkosaan missal itu. Yang paling kontroversial adalah kisah yang konon dialami oleh seorang gadis keturunan china bernama Vivian. Kisah itu muncul kira-kira pertengahan Juni 1998. Konon Vivian tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen dikawasan kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak di kenal saat kerusuhan Mei. Mereka lalu memperkosa Vivian, saudara, tante dan tetangga-tetangganya.

Kisah Vivian sangat diskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-jakarta sempat mengutip cerita perkosaan yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah edisinya. Dalam cerita itu, dengan kurang ajar, ia menceritakan bahwa orang-orang bertampang seram itu mempekosa mereka dengan teriak “Allahu Akbar” sebelum melakukan itu. Caci maki pun berhamburan kepada umat Islam dan para ulama.

Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-foto yang konon berisi gambar para kerusuhan Mei di jaringan internet. Beberapa website memuat foto-foto yang disebut-sebut sebagai foto kerusuhan Mei1998 dan korban-korban perkosaan massal itu.

Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi luar biasa bagi etnis cina diseluruh dunia. Mereka menganggap kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk mengenyahkan orang cina, dan menyetarakan kasus pemerkosaan missal atas perempuan-perempuan itu dengan kasus The Rape of Nanking, saat pendudukan Jepang ke Cina 1937 – 1938.

Upaya Menelisik Fakta

Para wartawan yang kredibel mengakui pada saat peristiwa Mei 1998, peristiwa perkosaan memang terjadi. Seorang wartawan Forum mendapat pengakuan dari seorang anggota satgas Partai PD** bernama M, bahwa dia dan teman-temannyalah yang menyerbu dan membakar pertokoan di Pasar Minggu. Ia juga mengaku melecehkan perempuan, bahkan beberapa kawannya memperkosa mereka. Tapi menurut dia, korban tidak hanya dari kalangan cina. ”Siapa aja, ada Amoy, ada Melayu, ada Arab,” kata anggota Satgas PD** itu.

Para wartawan pun terus mencoba mengejar dan mewawancarai korban dengan semua pentunjuk tentang para korban, tapi hasilnya nihil. Konon semua sudah pergi keluar negeri dan tak terlacak lagi. Hanya anak ekonom C W yang terkonfirmasi sebagai korban perkosaan Mei 1998. Majalah Tempo, dalam edisi pertama setelah terbit lagi juga tak mampu menemukan korban, apalagi sampai jumlah ratusan.

Beberapa wartawan yang melacak lokasi yang diduga menjadi tempat tinggal Vivian dan keluarganya, juga tak menemukan apa-apa. Warga di sekitar apartemen menjawab tidak ada dan tidak pernah mendengar adanya amoy yang diperkosa saat kerusuhan Mei 1998. Seorang anak nelayan yang pada dua hari jahanam itu menjarah apartement tempat Vivian tinggal mengaku, jangankan memperkosa, ketemu penghuni juga tidak. Sebab, mereka semua sudah kabur keluar negeri.

Soal jumlah korban perkosaan pun menjadi ajang perdebatan seru. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan Mei 1998 pecah gara-gara bab yang membahas hal ini. Sebagian anggota ingin memasukan semua laporan tentang adanya perkosaan, sementara yang lain meminta semua di klarifikasikan dulu. ”Terkesan ada yang ingin memanfaatkan isu ini untuk kepentingan tertentu,” kata anggota TGPF Roosita Noer.

Tengoklah data yang mereka kumpulkan. Dari 187 nama menurut daftar yang dibawa anggota TGPF Saparinah Sadli dan 168 dalam daftar Pastor Jesuit Sandyawan Sumardi, Ternyata hanya 4 yang berhasil di klarifikasi, yang lain baru qaala wa qila, alias kata orang. Sementara, dua orang korban yang didatangkan anggota TGPF Nursyahbani Katjasungkana ternyata orang gila beneran yang diduga sudah lama. Lucunya ketika data ini diminta, Ketua TGPF Marzuki Darusman tidak mau membagi data itu kepada anggota yang lain.

Dari sisi ilmu statistik data soal perkosaan massal pun aneh. Misalnya, laporan tentang adanya perkosaan jauh lebih besar dari pada laporan tentang pelecehan seksual, diraba-raba dan sebagainya. Padahal, seharusnya menurut statistik, berdasarkan kurva sebaran, pola acak akan selalu membentuk kurva seimbang. Jumlah laporan orang yang diraba-raba saja seharusnya lebih banyak dari pada yang dilaporkan mengalami pelecehan, apalagi yang sampai diperkosa, dengan tingkatan lebih berat.

Kebenaran kisah Vivian sempat juga dipertanyakan kalangan keturunan cina sendiri. Mungkinkah si terperkosa, dalam waktu singkat cerita itu muncul di internet pada 13 Juni 1998 bisa mengendalikan emosi, sehingga bisa menuliskan kisah kesadisan yang dialaminya secara detail? Bukan kah hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa etnis tionghoa teramat sangat tertutup dalam hal pemerkosaan?

Setelah menerima banyak pertanyaan soal orisinilitas cerita Vivian, pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF), Dean Tse, dalam pesannya tanggal 18 Agustus 1998, minta agar pengirim cerita bisa memberi keterangan lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan Dean Tse belum ada jawaban. Dean Tse pun tidak bisa melacak si pengirim cerita tersebut di jaringan internet.

Belakangan Soekarno Chenata, Pengelola situs Indo Chaos, juga mengakui foto-foto yang bergentayangan disitusnya, sama sekali tidak otentik. Kepada Detik.com, Soekarno mengaku pernah menerima foto sadis yang sempat dipajang di Indo Chaos. Namun ia segera mencabut foto itu dari situsnya karena ternyata foto itu padahal hasil montase dan diambil dari situs porno yang memang brutal.

Terbongkar Habis

Upaya pembuktian telah dilakukan, namun upaya pengaburan dan disinformasi terus dilakukan Misalnya, ketika fakta bahwa Vivian tak pernah ada, para agitator itu berdalih, Vivian adalah nama dan alamat yang dipakai hanyalah nama samaran. Ketika para wartawan tak menemukan korban, mereka berkilah soal keselamatan korban. Hingga akhirnya kebohongan itu terbongkar, justru dari Amerika Serikat, tempat dimana para pembohong itu mengobral cerita untuk menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.

Semula, pemerintah Amerika Serikat dengan mudah memberikan suaka kepada imigran asal Indonesia yang mengaku dianiaya dan dirundung kekerasan seksual di negerinya dengan alasan etnik dan agama. Tapi gara-gara kesamaan pola cerita, kedekatan waktu pengajuan, kesamaan alamat dan asal pengaju, dan kesamaan kantor pengajuan, mereka mulai curiga.

Setelah mencurigai selama dua tahun, pada senin , 22 November 2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi bersandi Operation Jakarta. Operasi penangkapan 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka ini di lakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. ”Pemimpin sindikat ini adalah Hans Gouw, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 1999,” kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J Mcnulty yang menangani kasus ini.

Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen suka serta berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen. Awalnya mereka hanya membantu menyediakan dokumen asli tapi palsu. Tapi setelah berhasil mengibuli pihak berwenang dengan memalsukan izin kerja dan nomor jaminan social, mereka mulai menyiapkan aplikasi suaka palsu.

Mereka juga menyiapkan skenario pengakuan bo’ong-bo’ongan seperti diperkosa dan dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998. ”Cerita tentang penyiksaan itu sangat seragam karena para pelamar menghafalkan kata demi kata secara persis seperti yang diajarkan.” Kata Jaksa Mcnulty. Mereka pun mengajari kliennya untuk menangis dan memohon dengan emosional untuk mengundang simpati petugas.

Lucunya , mereka menceritakan kisah yang sama. Cerita diperkosa sopir taksi misalnya meluncur dari mulut 14 perempuan yang mengajukan permohonan suka sejak 31 Oktober 2000 hingga 6 Januari 2002. ”Mereka mangaku diperkosa karena keturunan cina,” kata Dean McDonald, agen special dari biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di Negara bagian Virginia.

Belakangan , Voice Of America juga membuat liputan investigatif tentang isu perkosaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai TKP perkosaan massal, dan mencoba mewawancarai berbagai pihak. Tapi hasilnya nihil. Perkosaan memang ada, tapi dengan mengikuti petuah Goebels, fakta telah di dramatisasi sedemikian rupa dan dimanipulasi dengan dahsyat.

Oleh: Abu Zahra
Disarikan dari:
TABLOID DUA MINGGUAN SUARA ISLAM, EDISI 17, MINGGU III-IV MARET 2007



Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
 


Share this article :

Posting Komentar