Sabtu, 25 April 2015

Home » » Pasca KAA, Polugri RI Harus Makin Kuat dan Berwibawa

Pasca KAA, Polugri RI Harus Makin Kuat dan Berwibawa

Perhelatan Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 telah ditutup Presiden Jokowi kemarin. Tiga dokumen penting dihasilkan dalam pertemuan negara-negara dua benua tersebut


Silakan klik: Buku: Fiqih Demokrasi
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Anggota Poksi Luar Negeri di Komisi I DPR RI, Ahmad Zainuddin mengatakan, politik luar negeri Indonesia harus makin kuat pasca KAA. Politik luar negeri Indonesia harus menunjukkan keluhuran wibawa sebagai bangsa besar yang merepresentasikan perjuangan negara-negara Dunia Ketiga di Asia dan Afrika.

"Karena itu, politik luar negeri kita setelah ini harus makin kuat dan berwibawa. Karena citra di internasional, Indonesia adalah KAA, dan KAA adalah Indonesia," ujar Zainuddin di Jakarta, Jumat (24/5/2015).

Menurut Zainuddin, kehadiran KAA yang merepresentasikan kekuatan dunia ketiga ini cukup strategis, memberikan posisi tawar politik yang sangat berpengaruh dalam percaturan internasional. Sebagaimana Gerakan Non-Blok yang juga diprakarsai salah satunya oleh Indonesia, KAA harus mampu mempengaruhi setiap kebijakan global oleh PBB maupun lembaga internasional lainnya, dalam isu kemanusiaan universal, kebebasan, kesejahteraan, keamanan, kebudayaan hingga HAM.

"Pada KAA tahun 1955, pengaruhnya cukup signifikan. Menginspirasi gerakan perjuangan bangsa-bangsa di dunia, mendorong kemerdekaan, hingga diperhitungkan sebagai ancaman bagi kekuatan Barat," imbuh Zainuddin.

"Bahkan gelombang KAA ini mampu melahirkan gerakan Non-Blok di kemudian hari sebagai respons terhadap dua kutub ideologi dunia. Kita berharap KAA kali ini tidak sebatas seremonial. Dunia menunggu, ingin melihat gebrakan KAA terhadap tirani global," imbuhnya.

Karena itu, lanjut Ketua DPP PKS ini, kepercayaan peserta KAA untuk menunjuk Indonesia sebagai sekretariat Asia-Africa Center secara tidak langsung mendorong politik luar negeri Indonesia agar lebih berperan dan maju dalam menyikapi isu-isu internasional.

"Pemerintah RI harus kaya ide-ide yang akan menjadi ruh dan menghidupkan Pesan Bandung, NAASP dan Deklarasi Palestina. Juga peran aktif dalam membangun kesejahteraan dan perdamaian dunia. Jangan sampai persaingan ekonomi bangsa-bangsa dunia ini mengarah pada perang global yang tanda-tandanya makin jelas," pungkas Zainuddin.

Peringatan KAA 2015 yang digelar di Jakarta berhasil melahirkan tiga dokumen strategis, yaitu Pesan Bandung (Bandung Messages), New Asian African Strategic Partnership (NAASP), dan Deklarasi Palestina.

Pesan Bandung terdiri dari 41 poin. Secara umum, dokumen ini berisi sejumlah kerjasama yang akan dilakukan bangsa-bangsa Asia Afrika, antara lain soal penguatan solidaritas politik, memperkuat kerjasama bidang ekonomi dan mempererat hubungan sosial dan kebudayaan.

Dokumen New Asian African Strategic Partnership (NAASP) terdiri dari 32 poin. Poin terakhir menjelaskan soal komitmen negara-negara Asia Afrika untuk meningkatkan kerangka kerja dalam NAASP itu sendiri. Salah satunya dengan terus mengadakan Konferensi Asia Afrika (KAA) tiap sepuluh tahun dan menyelenggarakan pertemuan para menteri luar negeri Asia Afrika tiap dua tahun sekali di sela-sela sidang PBB di New York.



Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
Share this article :

Posting Komentar