Minggu, 26 Oktober 2014

Home » » TB Hasanuddin: BIN Gegabah dan Tidak Etis Rekrut Gayatri

TB Hasanuddin: BIN Gegabah dan Tidak Etis Rekrut Gayatri

Usia 17 tahun kejiwaannya masih labil dan tidak layak menjadi anggota BIN serta bisa membahayakan


   
Gayatri Wailissa (17) dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Taman Bahagia di kawasan Tantui Ambon, Sabtu (24/10/2014)  | (KOMPAS.COM/Rahman Alfarizi Patty)
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Kritik keras disampaikan anggota DPR RI Mayjen (Purn) TB Hasanuddin atas perekrutan Gayatri Wailissa, gadis berusia 17 tahun yang menguasai 13 bahasa asing namun meninggal dalam usia muda.

TB Hasanuddin yang pernah menjabat Wakil Ketua Komisi I DPR RI menyebut, tindakan BIN merekrut gadis muda tersebut sebagai tindakan gegabah dan tidak etis.

"Sangat mengejutkan kalau BIN merekrut pelajar. Itu adalah tindakan gegabah dan dan rawan. Apalagi kalau benar dia sudah dilatih misalnya tindakan yang dianggap rahasia sampai dengan tindakan menggunakan senjata api," tegas TB Hasanuddin yang juga ahli intelijen kepada Tribunnews di Jakarta, Sabtu (25/10/2014).

BIN dianggap gegabah lantaran yang direkrut adalah mereka yang masih usia belia. Bagi TB Hasanuddin, usia 17 tahun kejiwaannya masih labil dan tidak layak menjadi anggota BIN serta bisa membahayakan.

"Itu kan seorang pelajar. Bagaimana kalau kemudian sesudah dilatih itu justru dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu," kritiknya.

Apalagi kalau setelah Gayatri meninggal, kemudian pihak keluarga yakni ibunya menyampaikan bahwa putrinya adalah anggota BIN. Bagi TB Hasanuddin, itu adalah bukti pada saat rekrutmen, lingkungan tidak menjadi bahan pertimbangan.


"Berarti BIN gegabah," lanjutnya.

Mengenai prosedur perekrutan anggota BIN, menurut TB Hasanuddin tidak ada yang baku. Namun kalau merekrut anak-anak, itu sangat tidak etis dan rawan. TB Hasanuddin mengakui memang ada pelajar atau mahasiswa yang direkrut BIN untuk membantu tugas-tugas BIN. Namun itu sifatnya hanya sementara sesuai dengan kegiatan yang sedang dilakukan tindakan intelijen. Tugas mereka pun hanya menggalang informasi tentang kegiatan tertentu terkait mereka, seperti misalnya demo.

"Tapi kalau merekrut pelajar jadi anggota BIN, itu sangat gegabah dan rawan,'"sambungnya.

TB Hasanuddin mengatakan sah saja BIN merekrut orang yang memiliki keahlian menguasai banyak bahasa. Namun yang direkrut tersebut sifatnya harus jangka panjang dan orang yang sudah stabil kejiwaannya.

"Jadi tidak mentang-mentang ada orang yang jago bahasa, lalu direkrut begitu saja meski usianya masih belia," ujarnya.

Baginya, merekrut angota BIN itu bebas dan tidak ada aturan namun harus menunjukkan unsur kehatian-hatian agar hal yang bisa merugikan negara atau BIN tidak terjadi.

TRIBUNNEWS



Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
 


Share this article :

Posting Komentar