Jumat, 17 Oktober 2014

Home » » Ketahanan Pangan Dibayangi Ancaman Global

Ketahanan Pangan Dibayangi Ancaman Global

Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Jokowi-JK dituntut untuk mewujudkan swasembada berkelanjutan dan peningkatan produksi jauh lebih tinggi lagi dari produksi saat ini




Silakan klik: Buku: Fiqih Demokrasi

   
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) adalah momen penting untuk mengevaluasi seberapa kuat ketahanan pangan nasional dalam menghadapi beragam tantangan yang ada baik dalam skala nasional maupun global. Demikian dikatakan Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IV (Sukabumi), Yudi Widiana Adia di Jakarta, Kamis (16/10).

“Strategi pembangunan pertanian bioindustri 2015-2045 atau industri berbasis pertanian yang dicanangkan pemerintah dinilai tepat mengantisipasi lonjakan kebutuhan pangan dan energi yang begitu tinggi,” kata Yudi.

Rentang 30 tahun ke depan, masih kata Yudi, penduduk dunia akan berjumlah 9 milyar orang dan akan terjadi lonjakan kebutuhan pangan dan energi sebesar 60-70% dari saat ini. Oleh karena itu dibutuhkan percepatan dalam produksi pangan dan bioenergi sebagai alternatif energi terbarukan yang paling strategis. Indonesia harus meningkatkan produksi pangan dengan cara cerdas tanpa merusak sumber daya alam.

“Kuncinya ada pada penguasaan dan pengembangan teknologi,” tegas Yudi.

Lebih lanjut Yudi mengatakan, pembangunan pertanian Indonesia saat ini dan ke depan menghadapi tiga tantangan besar yakni tuntutan agar kebutuhan pangan nasional tercukupi dengan cara swasembada, tuntutan peningkatan pendapatan penghasilan petani, dan terjangkaunya harga pangan oleh 243 juta penduduk Indonesia.

Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Jokowi-JK dituntut untuk mewujudkan swasembada berkelanjutan dan peningkatan produksi jauh lebih tinggi lagi dari produksi saat ini. Pekerjaan rumah yang juga belum selesai adalah upaya diversifikasi pangan dengan penguatan sumber daya pangan lokal, peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian, serta peningkatan kesejahteraan petani.

“Menghadapi pasar bebas Asia Tenggara atau Masyarakat Ekonomi Asean, membuat pencapaian hal itu menjadi makin urgen dan strategis bagi masa depan pangan dan energi nasional,” tutur Yudi.
Semakin kuatnya posisi industri pangan global dalam sistem perdagangan pangan dunia bisa menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional. Daya saing produk pertanian Indonesia hanya bisa kuat jika kita mampu mencapai efisiensi produksi dan tercapainya skala ekonomi agar produk pangan bisa dijual dengan harga kompetitif.

Namun upaya tersebut memerlukan ketegasan pemerintah terkait penyediaan lahan pertanian, khususnya pangan yang saat ini makin tergerus akibat alih fungsi lahan ke aktivitas non pertanian. Semoga pemerintahan Jokowi–JK mampu menyelesaikan persoalan lahan pertanian, pekerjaan rumah yang ditinggalkan pemerintahan SBY-Boediono.

“DPR Siap mendukung program-program penguatan ketahanan pangan nasional melalui pembangunan pertanian yang pro rakyat, pro petani,” kata Yudi.


Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
 


Share this article :

Posting Komentar