Senin, 22 September 2014

Home » » Ketua Umum PDIP Hanya untuk Trah Sukarno

Ketua Umum PDIP Hanya untuk Trah Sukarno

Yang bukan trah Sukarno mentok Sekjen saja sudah bagus


  
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri memukul gong menandai dibukanya Rakernas ke-IV PDIP di Semarang, Jateng, 19 September 2014| (FOTO: Tempo/Budi Purwanto)
Mafaza-Online.Com | SEMARANG - Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tjahjo Kumolo mengatakan, selama partai masih hidup, selama itu pula PDIP tidak boleh dilepaskan dari trah Presiden Indonesia pertama Sukarno.

"PDIP jangan dilepaskan dari trah Bung Karno," kata Tjahjo di sela-sela Rapat Kerja Nasional IV PDIP di Semarang, Sabtu malam, 20 September 2014.

Tjahjo punya alasan kenapa PDIP tak akan dilepas dari trah Bung Karno. "Sampai detik detik ini, PDIP masih perlu perekat," ujar anggota DPR ini.

Pernyataan Tjahjo tersebut menanggapi permintaan pada rakernas yang menginginkan Megawati menjadi ketua umum periode 2015-2020. Karena sudah ditetapkan dalam rakernas, maka pada Kongres PDIP April 2015 mendatang hanya akan dikukuhkan Mega menjadi Ketua Umum PDIP.

Bagaimana dengan kader-kader potensial di PDIP tapi bukan berasal dari trah Sukarno? Tjahjo menyatakan ada banyak posisi di PDIP, seperti sekretaris jenderal dan ketua-ketua DPP.

"Orang lain (yang bukan trah Bung Karno) mentok sekjen saja cukup," kata Tjahjo.
Tjahjo menegaskan PDIP tak akan membatasi kader-kader potensial di partai untuk terus berkembang. Jabatan sekjen setiap lima tahun selalu berganti. "Jabatan ketua-ketua ganti juga," kata Tjahjo.

Tjahjo meminta agar PDIP tidak disamakan dengan partai lain. Pada partai lain, siapa pun bisa menjadi ketua umum. Tjahjo menyebutkan partainya adalah partai khas. Ia pun membandingkan dengan beberapa partai di negera lain, seperti partai Ghandi di India dan Benazir Bhutto di Pakistan.

Tjahjo meminta agar publik tidak menilai PDIP minim regenerasi. Sebab, kata dia, regenerasi jangan diukur dengan tua diganti muda. Sebab, kata dia, regenerasi juga bisa berarti yang muda diganti yang tua.

ROFIUDDIN | TEMPO.CO



Share this article :

Poskan Komentar