Rabu, 13 Agustus 2014

Home » » Harits Abu Ulya: Lewat Isu ISIS upaya kriminalisasi “JIHAD” dan “Khilafah” berjalan mulus

Harits Abu Ulya: Lewat Isu ISIS upaya kriminalisasi “JIHAD” dan “Khilafah” berjalan mulus


Ustadz Harits Abu Ulya
Pemerhati Kontra Terorisme, Direktur CIIA (The community Of Ideological Islamic Analyst)
Pelayan Majelis al Bayan

Lewat Isu ISIS upaya kriminalisasi “JIHAD” dan “Khilafah” berjalan mulus


  
Mafaza-Online.Com | WAWANCARA - Perihal Khilafah bukan seperti pembicaraan bab sederhana tentang sah atau batalnya wudlu’. Khilafah ini menyangkut soal nasib hidup dan matinya umat Islam semua. Jangan sampai euforia membuat telinga disumpal, tidak mau mendengar nasihat apapun seraya mengenakan “kaca mata kuda” melangkah dengan kajahilan. Jika mengedepankan emosional dan loyalitas membabi buta kepada sebuah pilihan yakin hal tersebut akan melahirkan sikap dan kondisi yang kontra produktif! Begitu hasil perbincangan Eman Mulyatman dengan Ustadz Harits Abu Ulya. Pemerhati Kontra Terorisme, Direktur CIIA (The community Of Ideological Islamic Analyst) dan Pelayan Majlis al Bayan

Menurut saya yang dhaif lagi bodoh ini, kata Harits lebih lanjut,  Ikutilah ulama-ulama yang alim dan mukhlis, bersabarlah dengan kasus ISIS. Jangan terjebak dalam perdebatan yang berangkatnya sama-sama tidak mengerti ujung pangkalnya. “Jangan terprovokasi, hingga kemudian mudah curiga dan mendeskriditkan saudara muslim lainnya,” tegasnya.


Kemunculan ISIS begitu fenomenal, apa komentar antum?
Ia bermula dan basisnya di Irak, ISIS meneguhkan dominasinya sebagai salah satu tandzim jihad yang membuat Amerika gagal total memunculkan kekuasaan boneka paska hengkang dari Irak. Perang Irak mampu menggerakkan proyek-proyek Islam untuk berada di belakang jihadi disebabkan wilayahnya yang ‘hidup’ (subur; tidak kering-kerontang) dan juga lantaran peran besar Irak dalam sejarah Islam. Selain juga dikarenakan kemudahan akses bagi sampainya bantuan personil dan logistik, serta terpenuhinya sarana dan prasarana media untuk mem-backup jalannya peperangan.
ISIS bukan satu-satunya kelompok perlawanan di Suriah begitu juga di Iraq, tapi kemampuan mereka harus di akui mendapatkan kesempatan yang besar untuk bisa semakin eksis di medan jihad. Apalagi di Suriah, Suriah penuh dengan nilai strategis dalam banyak aspeknya; geopolitik, sejarah, ekonomi membuat magnitude tersendiri bagi para mujahidin dari seluruh dunia untuk hadir mensupport. Disamping alasan akidah, tentang kabar Nubuwah bahwa Syam adalah tempat bermula kebangkitan dan kemenangan Islam di akir zaman.

Kemunculan ISIS bisa di telusuri dari akarnya,  Siapa sebenarnya Abu Bakar al Baghdadi itu?
Diluar perdebatan tentang keabsahan Khilafah yang di proklamirkan ISIS, sederhananya; ia adalah salah satu tandzim Jihad yang hadir dan lahir ditengah imperialisme Amerika Serikat dan sekutunya di dunia Islam khususnya Irak. Basis awalnya di wilayah Irak, di periode 2004 para mujahidin berfusi dalam sebuah Dewan Syuro Mujahidin, kemudian di tahun 2006 berubah menjadi ISI (Islamic State off Iraq/Daulah Islam Iraq). Al Qaida menjadi tandzim penting dibelakang eksistensi ISI di Irak. Di saat revolusi Suriah pecah para mujahidin ISI masuk ke Suriah, terlibat dalam aksi melawan rezim Bashar Asaad. Keberhasilan mereka menguasai sebagian wilayah Iraq kemudian di Suriah mengokupasi beberapa kota dan daerah akhirnya di tahun 2013 mereka mengumumkan diri menjadi ISIS (Islamic State Of Iraq and Syam).
Kemudian di akhir bulan Juni 2014 mereka mendeklarasikan Islamic State/IS (Khilafah). Pengumunan Khilafah oleh ISIS melahirkan sikap pro dan kontra dikalangan para mujahidin, ini tampak di wakili oleh para senior ulama’ mujahidin di Timur Tengah yang menolak Khilafah ISIS. Baik yang pro maupun yang kontra sama-sama memiliki hujjah yang menjadi pijakan. Dan ini adalah pekerjaan rumah (PR) bagi para ulama dan qiyadah (pimpinan) tandzim jihad disana untuk menyelesaikan. Diluar itu semua, ISIS bagi Barat (Amerika Serikat, cs) adalah teroris. Termasuk tuduhan ISIS adalah bagian dari tandzim al Qaida yang saat ini dibawah pimpinan Syaikh Aiman az Dzawahiri.
Di saat masih manjadi ISI (Daulah Islam Iraq) Abu Bakar al Bagdady tampil menjadi pemimpin menggantikan Abu Umar al Bagdady yang syahid. Dan akhirnya ditahbiskan oleh ISIS menjadi Khalifah. Bersumber dari pengakuan Abu Muhammad al-‘Adnani, Jubir resmi ISIS, nama asli Abu Bakar al-Baghdadi adalah Abdullah Ibrahim. Ia pernah belajar di Universitas Islam Baghdad dan termasuk salah satu murid Abu Mush’ab al-Zarqawi. Abu Bakar al-Baghdadi lahir pada tahun 1971 dan berhasil menamatkan jenjang doktoral jurusan kajian Islami. Pada saat invasi Amerika ke Irak, Abu Bakar al-Baghdadi beraktifitas di salah masjid Irak. Pernah ditahan di rutan Buka yang dibangun oleh Amerika di utara Irak karena keterlibtannya dengan tandzim jihad pimpinan Abu Musab Zarqowi. Rutan Buka adalah sebuah kamp yang digunakan oleh Amerika untuk menahan para komandan al-Qaidah.
Mereka para mujahidin di wilayah Irak dan Syam serta mujahidin dari berbagai penjuru dunia yang mengokohkan entitas salah satu tandzim Jihad ini. Kalau dibilang ini adalah produk intelijen Barat dan Zionis sebenarnya spekulasi dan perlu pembuktian. Siapapun yang mengikuti dan memahami hakikat ISIS akan sadar, ISIS adalah salah satu produk anak umat Islam yang lahir di tengah penjajahan imperialis Amerika Serikat dan sekutunya di dunia Islam khususnya di kawasan Iraq. Sekalipun terlepas dari itu semua, eksistensinya ISIS kemudian melahirkan pro dan kontra di tengah umat Islam karena beragam sebab dan argumentasi. Dan ditengah perjalanan dan pertumbuhannya memang tidak menutup kemungkinan kemudian ada anasir yang membonceng untuk menghacurkan gerakan Jihad dan Islam.

Bagaimana dengan doktrin takfiri?
Saya tidak dalam kapasitas untuk mendedah lebih dalam soal ideologi takfiri ini. Tapi yang saya tau bahwa doktrin takfiri, menjadi salah satu point diskusi dan sebab sebagian kelompok jihad tidak sepakat dengan eksistensi ISIS di wilayah Irak dan Syam. Bahkan juga menjadi perdebatan diberbagai kelompok umat Islam. Persoalan akidah takfiriyah bukan hal baru, tapi jika paham ini di adopsi oleh seseorang atau kelompok maka condong akan melahirkan sikap kaku dan ekstrim terhadap orang lain sesama kaum muslimin. Dan tidak jarang berujung pada tindakan-tindakan yang tidak masyru’ (tidak sesuai syariat Islam). Cobalah kita pikir, kalau ada sekelompok orang atau komunitas dakwah sangat sibuk dengan perkara kafir mengkafirkan pasti akan melahirkan persoalan ditengah umat Islam. Sama artinya dakwahnya mencari musuh, bukan dakwah mengajak orang lain untuk masuk Islam. Ini problem tersendiri bagi umat dengan munculnya sekelompok orang yang ghuluw fi takfir (ekstrim dalam pengkafiran).

Apa konskwensi dari proklamasi Khilafah oleh ISIS?
Deklarasi Khilafah bagi umat Islam di seluruh dunia ada konskwensi hukum syara’nya. Bagi yang mengakui dan menerima maka ada kewajiban bai’at ta’at  (baiat kubro) kepada Khalifah dan kehilafahan. Tapi berbeda bagi yang menolak, atau yang hanya memandang Khilafah versi ISIS adalah seperti halnya imarah atau kepemimpinan dari sebuah tandzim jihad (organisasi jihad). Pro dan kontra ini berkembang dikalangan para mujahidin begitu juga tampak dari para ulama senior mujahid menyikapi hal ini. Tapi yang jelas, umat Islam tidak bijak kalau soal ISIS dengan khilafahnya ini menjadi sebab dan titik tolak perpecahan. Ini adalah ujian, cobaan bagi seluruh umat Islam di dunia.
Menurut saya yang dhaif lagi bodoh ini, Ikutilah ulama-ulama yang alim dan mukhlis, bersabarlah dengan kasus ISIS. Jangan terjebak dalam perdebatan yang berangkatnya sama-sama tidak mengerti ujung pangkalnya. Dan juga jangan terprovokasi oleh keputusan pemerintah, hingga kemudian mudah curiga dan mendiskriditkan saudara muslim lainnya. Ini sangat berbahaya, karenanya kebencian seseorang kepada suatu kaum atau kelompok jangan sampai menjadikan dirinya tidak bisa bersikap adil terhadapnya.

Selalu ada intifa dalam setiap operasi, siapa yang memainkan isu ISIS di Indonesia ini? Apa targetnya?
Saya lihat baik BIN maupun BAIS demikian juga Intelkam Polri terus memonitoring soal Khilafah dan ISIS. Dimasing-masing institusi Intelijen ada bagian khusus dengan deputi, direktur dan satgas serta agen dibawahnya sesuai bidangnya bekerja siang dan malam untuk itu.  Kalau anda mau tahu siapa yang paling berperan memainkan masalah ini, lihatlah siapa yang paling getol membangun retorika publik dalam isu ini? Jajaran BNPT bersindikasi dengan intelijen Densus-88 banyak punya kepentingan dengan isu ini.
Yang pasti, kelompok Islamis di Indonesia eksistensi antara di “cintai dan di benci”. Di benci karena dianggap ancaman potensial terhadap tatanan politik demokrasi yang carut marut. Di “cintai” karena di butuhkan untuk menjadi penyeimbang dari keberlangsungan politik demokrasi yang di agung-agungkan. Disamping mereka kerap di butuhkan menjadi “tumbal” kepentingan oleh orang dan kelompok opurtunis yang duduk di ragam jabatan dan kekuasaan. Bahkan kaum Islamis adalah obyek dari proyek politik imperialisme skala global dan regional. Karenanya, isu-isu sensitif terkait geliat kelompok Islamis juga menjadi perhatian kalangan dan institusi Intelijen.
Oleh karena itu, penggalangan pasti dilakukan terhadap kelompok Islamis dengan beragam strategi, target minimalnya “dibawah kendali” rezim. Dan kekuatan politik Islam terkerdilkan. Umat Islam bisa pecah, dan tidak bisa menjadi pelopor persatuan umat Islam sedunia. Dan kekuatan politik umat Islam bisa tereduksi karena disibukkan dengan pertarungan antar kelompok mereka sendiri. Lebih dari itu, melalui isu ISIS upaya kriminalisasi terhadap kewajiban mulia “JIHAD” dan “Khilafah” bisa berjalan dengan mulus. Dengan demikian, potensi ancaman dalam perspektif status quo bisa dalam kendali.Dan sangat mungkin, momentum kali ini akan digunakan pelarangan terhadap ideologi Khilafah siapapun pengusungnya. Dan saya cermati, BNPT terus melakukan penggalangan menuju kesana. Kita lihat saja.

Ada isu bom diledakkan jelang keputusan MK tentang kecurangan Pilpres?
Masyarakat perlu tahu, Pilpres menyisakan masalah di antara dua kubu. Potensi gangguan keamanan paling tinggi adalah dari masing-masing pihak pendukung capres yang tidak puas dengan hasil pilpres. Di sisi lain sebenarnya para pemangku kebijakan dibidang politik keamanan butuh “prestasi” yang bisa di banggakan didepan Presiden baru. Jadi ada upaya penggalangan terhadap semua kubu capres baik yang menang maupun yang kalah agar tidak melakukan gerakan kontraproduktif terhadap keamanan. Namun disisi lain, saya juga melihat momentum saat ini bagi semua kubu juga butuh “kambing hitam” sebagai respon terhadap kisruhnya pilpres. Bisa jadi memanfaatkan kelompok Islamis untuk melakukan aksi sebagai pengalihan  kisruh hasil pilpres. BNPT bukan tidak mungkin dalam kondisi sekarang  ingin memancing di air keruh. Mau ambil banyak keuntungan dengan isu Khilafah dan ISIS sepanjang waktu sebelum pelantikan Presiden. Bukan tidak mungkin langkah-langkah intelijen gelap terjadi untuk melegitimiasi “narasi ancaman” dimana BNPT sudah menabuh sinyal sebelumnya. Dan menjadi seperti dalam pepatah “ayam berkotek tanda ia bertelur”. Waspadalah!

Selengkapnya baca Majalah Sabili Bangkit
 




Share this article :

Posting Komentar