Jumat, 04 Juli 2014

Home » » Fahri Hamzah: Jokowi Ditelanjangi Proses Politik

Fahri Hamzah: Jokowi Ditelanjangi Proses Politik

Selama ini Jokowi selalu unggul di survei karena belum ada lawan. Ketika muncul Prabowo Subianto, kata dia, lama kelamaan suara Jokowi semakin tergerus oleh mantan Danjen Kopassus itu


 
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Sejumlah lembaga survei melansir elektabilitas Jokowi-JK semakin melorot jelang pilpres. Sebaliknya, pasangan Prabowo-Hatta terus merangkak naik dan hampir menyalip Jokowi-JK.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pun menyalahkan serangan kampanye hitam dan intimidasi yang membuat merosotnya elektabilitas Jokowi-JK. Namun bagi Wasekjen PKS Fahri Hamzah, merosotnya Jokowi-JK bukan karena kampanye hitam, melainkan ditelanjangi oleh rakyat karena proses demokrasi.

"Jokowi ditelanjangi proses politik dan demokrasi peralihan pilihan publik bukan karena black campaign. Jokowi akhirnya telanjang orang ini, ngomong enggak mantap, ngomong ada bohongnya, tidak jujur, tidak konsisten, itu bukan kampanye hitam, itu proses paling normal dalam demokrasi," ujar Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/7).

Fahri menilai, selama ini Jokowi selalu unggul di survei karena belum ada lawan. Ketika muncul Prabowo Subianto, kata dia, lama kelamaan suara Jokowi semakin tergerus oleh mantan Danjen Kopassus itu.

"Karena sekarang ini publik punya kesempatan melakukan perbandingan apple to apple dan Jokowi di sini Prabowo di sana, gimana sikap di sini, bagaimana sikap di sana, bagaimana hubungan masyarakat di sini bagaimana hubungan masyarakat di sana, bicara dunia seperti apa di sini seperti apa di sana, apa visi di sini apa visi di sana," kata Fahri.

"Ini menyebabkan kita lebih fair, kapasitas kandidat paling penting, tidak boleh karena popularitas sesaat ujuk-ujuk orang diangkat, Jokowi tidak alami fit and propertes yang baik (saat dicapreskan PDIP)," imbuhnya.

Tidak hanya itu, Timses Prabowo-Hatta ini melihat, Jokowi-JK terlalu menganggap remeh sistem kerja partai. Karena menurut dia, yang bekerja dalam pesta demokrasi ini adalah partai, bukan kelompok lain yang mengatasnamakan rakyat.

"Itulah yang menyebabkan kalau dilihat ada kecenderungan mengabaikan politik figur dan struktur, struktur fans, figur dua calon mereka bukan orang dalam dan diiusung partai dari awala JK, pensiunan Golkakr, Jokowi bukan kader inti di PDIP, memang ada simbiosis mutualisme tapi lebih parah mereka cenderung menggunakan apa yang mereka sebut panggung dan relawan dari pada struktur partai, itu berbahaya untuk perkembangan demokrasi karena demokrasi kita itukan dari parpol," lanjut dia.

"Dalam debat dengan Foke (pilgub DKI 2012) kan dia babak belur, tapi mbok ya sudah sampai DKI tahan diri dulu, tapi atas nama popularitas, disimplikasi atas nama rakyat maksa diri maju (nyapres). Jadi ini saya mau ungkap sebab daripada kepanikan, jangan tuduh orang lain, tuduh diri sendiri, sebab kelemahan ada dalam tim Jokowi sendiri," pungkasnya.

MERDEKA.COM


Silakan klik:  
 ~ஜ۞ஜ~ M-STORE LengkapiKebutuhanAnda ~ஜ۞ஜ~
 
Share this article :

Poskan Komentar