Selasa, 06 Mei 2014

Home » » Surahman Hidayat: Hari Pertama UN SMP Berantakan

Surahman Hidayat: Hari Pertama UN SMP Berantakan

Kemdikbud lalai, sangat ceroboh, tidak mengevaluasi permasalahan yang terjadi di pelaksanaan UN tingkat SMA sebelumnya.
 
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Hari pertama pelaksanaan UN tingkat SMP kondisi berantakan terjadi di Provinsi Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten. Untuk tingkat kabupaten/kota antara lain di lima wilayah DKI Jakarta, Bekasi, Bogor, Garut, Indramayu, Padangpanjang, Kota Padang, Kota Medan, Tangerang Selatan, Pamulang, Singkawang, Tegal, dan Brebes,

“Nomor urut soal mata pelajaran bahasa indonesia yang tidak urut dan tidak ada beberapa naskah di lembaran soal,” ungkap Surahman Hidayat dalam rilisnya yang diterima Redaksi Mafaza-Online.Com, di Jakarta Selasa (06/05/2014).

Padahal, masih kata Surahman,  sebelumnya pelaksanaan UN tingkat SMA banyak menuai protes, meminta kepada pihak Kemdikbud agar lebih berhati-hati agar permasalahan tidak berulang di pelaksanaan UN tingkat SMP. Nyatanya muncul permasalahan yang lebih, dengan nomor urut soal yang acak-acakan. Sehingga membuat kekacauan dengan banyaknya siswa dan siswi yang menangis, pengawas yang kebingungan.

"Kemdikbud Lalai, sangat ceroboh, sama sekali tidak mengevaluasi permasalahan yang terjadi di pelaksanaan UN tingkat SMA kemarin," tegas anggota Komisi X DPR RI.

Surahman menilai, temuan di hari pertama UN tingkat SMP ini makin menunjukkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak profesional dalam menyelenggarakan ujian.

"Tidak habis fikir, kenapa terjadi seperti itu, kemana kerja tim penyusunan soal UN ? Kenapa sampai lolos soal yang berantakan seperti itu," ungkap Surahman.

Menurutnya, Kemdikbud RI harus bertanggung jawab terhadap kasus tersebut, ini tidak bisa di diamkan. DPR akan segera memanggil Kemdikbud RI, untuk minta penjelasannya. Surahman heran, kenapa kejadian seperti ini, selalu berulang-ulang.

"Ini adalah tragedi nasional pada dunia pendidikan, sangat memalukan,jelas tidak ada itikad yang sungguh-sungguh untuk melakukan perbaikan," tutup Surahman.

Sebagai informasi tambahan kasus yang terjadi, di wilayah Bogor, siswa mendapat lembar soal yang tidak ada nomor 38. Sementara pada lembar jawaban ada nomor 38. Siswa lainnya mendapat soal yang tidak ada nomor 13 dan 14, padahal di lembar jawaban ada nomor tersebut.

Parahnya, para siswa pun diminta menyusun sendiri soal yang acak-acakan sesuai urutan nomor tetapi ternyata ada yang dapat soal lebih dan ada yang dapat soal kurang dari 50 soal.



Silakan klik:  
 


Share this article :

Posting Komentar