Minggu, 06 April 2014

Home » » ‘Pak Rizal Jangan Lupakan Tegal, Ya!’

‘Pak Rizal Jangan Lupakan Tegal, Ya!’

Kunjungan Rizal Ramli, Ketua Umum Kadin Indonesia ke Tegal


  
Mafaza-Online.Com | TEGAL - Lagu Pariwisata yang bersyair bahasa Jawa itu mengalun ceria diiringi  angklung, ‘kolintang’ dan aneka alat music perkusi lain. Sembilan anak muda berpaiakan serba hitam, dengan ornamen warna kuning di sana-sini melantunkan lagu tersebut dengan irama gembira. Mereka juga menari-nari riang sambil memainkan alat musik masing-masing.

Lagu dan tarian rakyat itulah yang menyambut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rizal Ramli yang turun dari Avanza hitam sambil tersenyum lebar. Mengenakan batik berlengan pendek warna hijau lembut dipadu celana biru gelap, tokoh yang dikenal konsisten mengusung ekonomi kerakyatan itu menyalami panitia yang menyambutnya.  Namun langkahnya sempat berhenti sejenak. Dia berbelok menghampiri ‘para pemusik’ tadi. Tangannya terjulur, yang segera disambut genggaman erat anak-anak muda tersebut. Senyum mereka pun merekah tak kalah lebar.

Sabtu siang (5/4) itu hujan rintik-rintik mengguyur Desa Duren Sawit, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Di aula --kalau boleh disebut begitu-- telah menunggu 600-an petani dari desa-desa sekitar. Mereka di antaranya berasal dari desa Kesuben, Balaradin, Kambangan, Tegal Andong, Rajeg Besi, dan Jembayat. Para petani itu datang dengan motor, menumpang mobil pick-up, bahkan berjalan kaki.

“Saya mau ketemu pak Rizal Ramli. Selama ini saya cuma mendengar dari kata orang-orang saja. Seperti apa orang yang sering disebut membela petani waktu dulu menjadi Kepala Bulog. Setelah bertemu langsung dan mendengar apa yang disampaikan, ternyata pak Rizal memang benar-benar telah bekerja untuk rakyat. Waktu itu kan dia menghentikan impor beras yang justru banyak merugikan petani. Tidak sia-sia saya naik motor dari Rajeg Besi ke sini,” ujar Sunarti, petani jamur, yang datang membonceng motor Karnadi, suaminya, dengan wajah sumringah.

Di kanan pintu masuk aula yang ternyata tempat latihan bulu tangkis itu, ada poster ukuran 1x1,5m berdiri dijepit ‘tripot’ bambu. Ada foto Rizal Ramli dengan senyum khasnya, berjas hitam dan berdasi merah dengan latar belakang bendera merah putih. Di sebelahnya tulisan warna kuning terang berbunyi, “Selamat Datang Bapak DR Rizal Ramli, Ketua Umum Kadin”. Di bagian bawah, ada tulisan berukuran jauh lebih besar berbunyi, ‘Presiden Pilihan Rakyat’ dengan huruf kapital kuning yang mencolok.

Agak membingungkan juga, memang. Rizal Ramli diundang sebagai Ketua Umum Kadin untuk meresmikan Rumah Kreatif yang digagas anak-anak muda Lebaksiu. Namun pada saat yang sama, mereka juga mendaulatnya sebagai Presiden Pilihan Rakyat.

“Kami sudah bulat mendukung pak Rizal Ramli sebagai Capres 2014. Rekam jejak pak Rizal baik ketika tidak maupun saat menjadi pejabat, membuktikan bahwa pak Rizal benar-benar bekerja dan hatinya untuk rakyat,” ungkap Danang, ketua Panitia penyelenggara saat memberi sambutan di atas panggung yang disambut tepuk tangan meriah.

Selanjutnya acara mengalir lancar. Ketua Kadin Kabupaten Tegal Fatchuddin Rosyidi menjadikan momentum itu sebagai arena curhat. Menurut dia, Kabupaten Tegal dikenal sebagai sentra produsen suku cadang mesin ke perusahaan alat berat. Sebagain UMKM juga memroduksi aneka perlengkapan logam lain, seperti gerendel pintu, engsel, dan lainnya. Namun  sejak beberapa tahun silam, nasib mereka kian mengenaskan karena terpukul produk Cina yang membanjir bak tsunami.

“Pak Rizal Ramli, warga Tegal setiap hari makan tahu dan tempe. Tapi produsennya harus menghadapi kenyataan mahalnya harga kedelai impor. Nasib tak kurang tragis dialami petani bawang putih Tegal. Saat panen raya, justru tiba-tiba banjir bawang putih impor dari Thailand. Harga jadi anjlok. Kasihan petani Tegal. Mereka bingung. Mau usaha apa lagi? Apa harus menanam ganja?” sergahnya yang disambut teriakan koor ‘betuuul…” panjang berkali-kali.

Curhat senada juga datang dari Wargiono yang sehari-hari adalah petani. Dia merasa prihatin, karena anak-anak muda di Lebaksiu sudah tidak mau lagi bekerja di sawah. Jika dibiarkan terus terjadi, lama-lama tidak ada lagi yang bekerja di sawah. Kondisi ini diperparah lagi dengan harga yang jatuh saat panen raya. Padahal, harga pupuk terus melambung. “Pak Ramli, kira-kira kiat apa yang harus kami lakukan agar anak-anak muda mau ke sawah dan pupuk serta sarana produksi lainnya terjangkau?” tanyanya.

Apa tanggapan ikon perubahan yang juga Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini atas serenceng problem yang dikeluhkan para petani dan pengusaha Tegal? Menurut dia, keberpihakan adalah kata kunci yang menjadi sebab-musabab sekaligus solusinya. Selama ini keberpihakan pemerintah terhadap rakyat, khususnya petani dan UMKM, memang nyaris tidak ada. Pemerintah sibuk menerbitkan berbagai peraturan yang justru meminggirkan bahkan mematikan peran rakyat. Inilah yang disebutnya sebagai pemiskinan struktural.

“Soal beras, misalnya. Pejabat kita lebih suka impor, walaupun hal itu merugikan petani. Motivasinya karena mereka mendapat komisi atas impor yang dilakukan. Begitu juga dengan berbagai komoditas pertanian, seperti gula, kedelai, jagung, daging sapi, semuanya diimpor. Para pejabat itu menerima sogokan dari para importir. Ini jahat sekali dan harus segera dihentikan. Doakan Rizal Ramli jadi presiden, maka semua praktik semacam ini akan dihapuskan. Dengan izin dan kehendak Allah Yang Maha Kuasa serta dukungan bapak-ibu sekalian, kita akan buat Indonesia jadi negara maju yang rakyatnya sejahtera. Aamiin…” papar Menteri Keuangan era Gus Dur yang disambut dengan aamiin panjang hadirin.

Sebagai ekonom senior yang kenyang makan garam perjuangan, Rizal Ramli selalu bisa menempatkan diri dengan baik. Hari itu dia banyak berbicara dengan joke-joke segar. Kendati tidak menguasai bahasa Jawa, tokoh yang telah menjadi yatim piatu sejak usia tujuh tahun itu ternyata bisa akrab dengan para petani. Hal itu dimungkinkan karena komunikasi yang terjadi bersumber dari hati. Tulus. Bukan pura-pura atau malah tipu-menipu.

Dan, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.30. 30 menit lewat dari jadwal semula.

Hujan di luar telah menyebabkan ruangan 15x25 m itu jadi pengap. Maklum, kendati atap gelanggang bulu tangkis cukup tinggi, tapi nyaris tidak ada ventilasi. Di bagian atas memang ada lebih dari 20 kusen berukuran 1x80m. Sayangnya mereka ditutup dengan plastik. Cahaya memang bisa menerobos masuk, tapi ya itu tadi, nyaris tidak ada angin berhembus dari sana. Keruan saja suasana jadi pengap, bahkan panas. Hadirin sibuk mengipas-ngipaskan kardus bekas kotak kudapan untuk mengusir gerah. Rizal Ramli sendiri sudah keringat membasahi wajah, baju, dan tangannya. Meski begitu, antuasias pengunjung tidak kunjung surut. Mereka bahkan berkali-kali menerikkan yel-yel ‘Rizal Ramli Presiden Rakyat, Rizal Ramli Presidenku…”

“Kami bertekad bulat mendukung pak Rizal Ramli jadi presiden 2014. Tapi saya minta, kalau pak Rizal Ramli jadi presiden tidak lupa pada Lebaksiu. Tegal harus jadi prioritas,” teriak Untung Waluyo dari atas panggung ketika mewakili para petani menyampaikan ‘sikap politik’ petani dan pelaku UMKM Kabupaten Tegal. Tepuk tangan pun membahana seperti hendak meruntuhkan langit-langit asbes.

Hujan masih rintik-rintik ketika Menkeu yang pernah mengebut pembahasan RAPBN hanya dalam tempo tiga hari itu meninggalkan lokasi. Di depan pintu, kembali anak-anak muda berpakaian serba hitam memainkan angklung dan alat musik perkusi lainnya. kali ini lagunya adalah ‘Getuk’. Riangnya music sukses menyeret Rizal Ramli bergabung dan memainkan angklung sekenanya. Hmm…



(¯`*•.¸Silakan klik¸.•*`¯)

Kesederhanaan, kesantunan, dan keteguhan dalam memegang prinsip dari para tokoh Partai Masjumi bisa menjadi teladan bagi para aktifis Islam yang berjuang di lapangan politik
 





Share this article :

Poskan Komentar