Selasa, 15 April 2014

Home » » Burhanuddin Muhtadi: Elit Politik Masih Saling Tunggu

Burhanuddin Muhtadi: Elit Politik Masih Saling Tunggu

Sistem Pemilu yang memisahkan Pileg dan Pilpres menyebabkan Presiden terpilih menjadi tersandera, politik dagang sapi jadi tak tehindarkan. Elit politik masih saling tunggu hingga batas akhir pendaftaran Pilpres


   
Mafaza-Online.Com | WAWANCARA - Pertemuan elit politik belum menunjukkan arah koalisi yang tepat, demikian kata pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Burhanuddin Muhtadi yang diwawncarai usai diskusi bertajuk "Kenapa Efek Jokowi Tidak (Di)maksimal(kan)?" di Cikini, Jakarta, Selasa (15/4/2014).

Ini, masih kata Burhanuddin, masih window shopping. Ibarat belanja masih memikirkan dapat diskon atau cashback berapa. Dia juga membenarkan hal ini semacam Politik dagang sapi, prosesnya memang seperti itu. “Ini karena Pemilu Legislatif  dan Pemilu Presiden dipisah,” begitu pengamatannya.

Dalam hal ini, Muhtadi mengapresiasi Partai Nasional Demokrat  (Nasdem) yang berkoalisi dengan Jokowi tanpa memikirkan siapa Calon Wakil Presidennya.  Meski dia meyakini sepenuhnya, Surya Paloh (Ketua Umum Nasdem) pasti punya agenda. “Biasanya begitu, elit politik dalam berkoalisi memikirkan insentif apa yang dia dapat,” cetusnya.

Demokrat  Kunci

Disisi lain, Partai Demokrat sekarang menjadi kunci, karena PDIP dan Gerindra tidak bisa mengunci kemenangan untuk maju ke Pilpres dengan syarat perolehan suaranya mencapai 25%. Jadi partai pengusung Capres harus membuka pintu koalisi. Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu 2009, sekarang menjadi pemimpin di Partai tengah. Posisi ini cukup bagus untuk dimainkan dan sangat menentukan.

“Kalau gagal mendapat tempat untuk Koalisi dengan Jokowi, maka PD punya 2 opsi, bergabung dengan Prabowo atau membentuk poros baru,” kata Burhanuddin.

Tapi, Burhanuddin yakin, opsi pertama PD itu ke Jokowi —Cuma pintunya masih ditutup rapat-rapat oleh Megawati— karena di PD memang tidak ada figur lain selain SBY dan konvensi sudah ditutup, disisi lain Jokowi punya elektabilitas tinggi.

“Pada dasarnya kalau pintu itu dibuka, PD tidak punya hambatan untuk bergabung dengan PDIP,”  kata Burhanuddin.

Burhanuddin mengungkapkan, dikunci oleh Mega karena faktor SBY-nya. Jadi sekarang SBY-nya mau tidak menurunkan egonya untuk mengontak Mega. “Mungkin kalau  dikontak lebih dulu, ego ibu Mega bisa turun,” katanya.

Tapi, kalau tetap ditutup rapat  ada 2 opsi tadi. Bahkan, ada wibawa politik yang bisa ditegakkan oleh SBY. Bisa ke Gerindra atau bisa saja dengan mengajukan Hatta Rajasa (Ketua Umum PAN) yang besannya sebagai Cawapres Prabowo.

Tapi, kalau demokrat main sendiri, tidak mengajak mitra koalisi justru bisa mengurangi poros baru terbentuk. Sedangkan kalau poros baru terbentuk ada kemungkinan Prabowo atau ARB untuk mendapatkan kawan seiring. “Jadi petanya masih sangat tergantung deal, politik dagang sapi tadi,” tegasnya.

Burhanuddin membenarkan sejarah Demokrat lebih dekat dengan Gerinda karena memang berasal dari Golkar. Tapi, kenapa PD masih menahan-nahan untuk koalisi dengan Gerindra? Menurutnya, karena memang pada dasarnya opsi pertama PD masih menunggu sinyal dari Mega tadi.

Hal yang wajar dalam Pilpres ini SBY ingin ikut koalisi dengan potensi menangnya tinggi. Politik memang begitu, seni untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Alasan lainnya, SBY juga perlu proteksi pasca turun jabatan dari Presiden. “Untuk itu dia (SBY) cenderung ke Jokowi yang peluang menangnya tinggi,” ungkap Burhanuddin.  

Padahal, boleh jadi kalau berlarut-larut  PDIP justru akan ditinggalkan oleh partai lainnya. Inilah Power game, karena kalau wapres ditentukan dari awal, justru potensi Jokowi dijadikan sebagai musuh bersama sangat tinggi. Jadi sebenarnya saling menunggu. Dugaan Burhanuddin, sampai akhir pendaftaran tarik menarik ini akan terus terjadi.

“Karena begitu Jokowi menentukan Cawapresnya maka partai-partai yang berharap untuk menyodorkan Cawapres akan berbalik arah,” analisa Burhanuddin.

   

Partai Islam

Bagaimana dengan Partai Islam?  Menurut Burhanuddin, juga masih menunggu arah apakah ke Jokowi, Prabowo, Abu Rizal atau Poros baru.

Memang Prabowo dulu dikenal sebagai sosok TNI Hijau yang dekat dengan aktivis Islam. Sebenarnya realita itu juga bisa dimanfaatkan oleh Partai Islam, PPP PAN atau PKS. Tapi, partai Islam juga berhitung dengan skema yang pragmatis juga. Dalam pengertian kalau peluang menang Jokowi lebih tinggi, maka Partai Islam akan ke Jokowi. Jadi memang masih saling tunggu.

Termasuk dimunculkannya pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa, sifatnya masih spekulatif. “Masih saling tunggu,” katanya.




Silakan klik: 

   




Share this article :

Posting Komentar