Minggu, 26 Januari 2014

Home » » Tadzkiroh Bukan Buku Inspirasi Terorisme dan Takfiri?

Tadzkiroh Bukan Buku Inspirasi Terorisme dan Takfiri?

Ki-ka: Ustadz Ahmad Michdan (TPM), Ustad Haris Abu Ulya (CIIA)
dan  Ustadz Fuad Al Hazimy (JAT), foto: mafaza-online/rio
“Pernyataan Kapolri  terlalu gegabah dan berani dengan mengatakan buku Tadzkirah menginspirasi tindakan kriminal dan terorisme. Barang bukti yang diambil, termasuk buku-buku  merupakan tindakan memaksakan untuk mengaitkan buku dengan tindakan pelaku terorisme.” (Ustadz Haris Abu Ulya selaku Direktur CIIA - The Community of Ideological Islamic Analyst)


Mafaza-Online.Com | “Dari semua kasus terorisme yang  saya tangani tidak ada satupun yang terispirasi oleh hanya sebuah buku atau buku-buku Islam, apalagi buku Tadzkirah. Buku Tadzkirah ini adalah nasihat dan peringatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai bentuk kasih sayang ulama terhadap bangsa,” terang Ustad Ahmad Michdan, dalam bedah buku “Tadzkirah” karya Ustad Abu Bakar Ba’asyir, di Masjid Al Muhajirin, Grogol, Jakarta Barat, Minggu (26/1/2014).

Bedah buku juga menghadirkan pembicara Ustadz Haris Abu Ulya selaku Direktur CIIA (The Community of Ideological Islamic Analyst), Ustadz Fuad Al Hazimi selaku anggota Majelis Syari’ah Jama’ah Ansharut Tauhid, dan moderator Ustadz Nanang Ainurrofiq.

Dalam kesempatan memberikan paparan pengantar di awal bedah buku, Ustadz Haris Abu Ulya mengungkapkan ada dua (2) pendekatan metodologi dalam terorisme, yaitu pendekatan kultural dan rasional.

Pendekatan kultural, demikian dalam pandangan Ustadz Haris, merupakan sebuah penyederhanaan kesimpulan yang mengaitkan pemahaman atau ideologi  para pelaku dengan buku sebagai sumber ideologi perlawanan. Sementara jika dikaitkan dengan kenyataan yang ada seperti di Afghanistan dan sebagainya, mereka berjuang tidak terinspirasi oleh adanya sebuah buku.

Diterangkan Ustadz Ahmad Michdan di kesempatan yang sama, bahwa kepolisian yang awalnya berencana melarang peredaran buku Tadzkiroh membatalkan rencana terseut karena pelarangan sebuah buku berdasarkan ketetapan mahkamah konstitusi (MK) harus melalui proses peradilan.
Kembali ke teori yang dipaparkan Ustadz Haris, dalam pendekatan rasional untuk kasus terorisme sebagaimana dituduhkan kepada para pelaku yang sudah dieksekusi mati, tidak pernah diungkap, yaitu tentang kondisi terduga, sumber motivasinya dan seterusnya. "Karena para terduga telah dibunuh atau di-eksekusi lebih dahulu tanpa melalui proses pembuktian atau diadili dalam pengadilan," kata Ustad Haris.


Tadzkiroh bukan buku takfiri


”Buku Tadzkirah itu tidak pernah mengkafirkan seseorang secara individu atau yang disebut takfir mu’ayan. Semua yang dibahas mengenai kekufuran di buku tersebut adalah mengenai kekufuran perbuatan atau kekufuran amalan. Kekafiran yang terjadi dikarenakan melakukan perbuatan kekafiran yang ditetapkan dalam Islam atau disebut perbuatan pembatal ke-Islaman, bukan pelaku kekafiran secara individu tertentu tetapi kekafiran secara perbuatan. Jadi bisa siapa saja orangnya atau pelakunya apabila melakukan perbuatan kekafiran tersebut maka orang tersebut masuk dalam kekafiran sampai orang tersebut kembali kepada Islam, dan buku Tadzkirah itu tidak pernah mengatakan nama orangnya,” terang Ustadz Fuad Al Hazimi selaku anggota Majelis Syari’ah Jama’ah Ansharut Tauhid, menjelaskan tentang buku Tadzkiroh yang oleh kepolisian dianggap sebagai mengkafirkan.

Mengenai buku tersebut, melalui pertemuan pada tanggal 16 Januari 2014 pekan lalu antara Ustad Abu Bakar Baasyir dengan Majelis Syariyah Jama’ah Ansharut Tauhid, diterangkan bahwa pernyataan tentang takfir yang ada di buku Tadzkirah edisi revisi (jilid II) ini ialah Takfir indzar (peringatan) dan tafshil (perincian).

"Tidak ada satupun ta’yin dalam buku Tadzkirah 2 tersebut sehingga takfir yang beliau lakukan adalah takfir umum (takfir aam), bukan takfir individu (takfir mu’ayan)," ujar Ustadz Fuad, lanjutnya, "buku Tadzkirah ini adalah nasihat dan peringatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai bentuk kasih sayang ulama terhadap bangsa.” (rio)

Share this article :

Poskan Komentar