Sabtu, 04 Januari 2014

Home » » Harga Elpiji 3 kg di Pasaran Melambung Naik

Harga Elpiji 3 kg di Pasaran Melambung Naik

Terjadi migrasi penggunaan tabung 12 kg ke tabung bersubsidi, yakni elpij 3 kg

Mafaza-Online.Com | EKONOMI - Usai sudah keceriaan menyambut tahun baru 2014, kini tawa lebar itu berganti menjadi senyum kecut. Terhitung sejak 1 Januari 2014, PT Pertamina menaikkan harga elpiji kemasan 12 kg sebesar Rp47.508 per tabung di tingkat konsumen.

Sudah bisa ditebak, kondisi ini akan terjadi migrasi penggunaan tabung 12 kg ke tabung bersubsidi, yakni elpiji 3 kg. Alhasil 'si melon' alias tabung elpiji 3 kg ikut-ikutan naik sekitar Rp18.000 sampai Rp20.000 per tabung.

Keputusan menaikkan harga elpiji 12 kg merupakan tindak lanjut atas rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyatakan Pertamina menanggung kerugian atas bisnis elpiji non subsidi Rp7,73 triliun sejak 2001 sampai Oktober 2012. Hal ini menimbulkan kerugian negara.

Banda Aceh

Harga jual gas elpiji isi 12 kilogram di Banda Aceh naik sekitar Rp50.000 per tabung, kata salah seorang pedagang di daerah setempat.

Salah seorang agen gas elpiji di Banda Aceh Bakhtiar, Jumat di Banda Aceh mengatakan kenaikan harga tersebut mencapai hampir 50 persen dari harga sebelumnya setelah adanya kenaikan harga dari Pertamina.

Tinjau Ulang

Anggota Komisi VII dari Frakai PKB Agus Sulistiyono di Yogyakarta, Kamis, mengatakan kenaikan harga elpiji tersebut sebesar Rp3.959 per kilogram dari Rp5.850 menjadi Rp9.809 per kg dinilai sangat memberatkan masyarakat.

"Harga elpiji dari Rp 70.200/tabung isi 12 kg menjadi Rp 117.708/ tabung tentu sangat memberatkan masyarakat. Sebab, kenaikan harga elpiji lebih dari 70 persen," kata Agus.

Menurut Agus, saat ini kondisi ekonomi tidak stabil. Jika masyarakat dan perusahaan tetap dibebani kenaikan harga elpiji ini, akan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi. Bahayanya, jika masyarakat menengah menggunakan elpiji tiga kg, artinya mengurangi subsidi elpji masyarakat kurang mampu.


"Kenaikan elpiji tersebut sangat spektakuler. Dampaknya sangat sistemik jika tidak segera ditinjau ulang," katanya.

Share this article :

Poskan Komentar