Selasa, 17 Desember 2013

Home » » Sebut Korban Sitok Sebagai TTM, Wartawan Kompas Mengundurkan Diri

Sebut Korban Sitok Sebagai TTM, Wartawan Kompas Mengundurkan Diri

Judul berita Kompas.com setelah diubah (capture)

Mafaza-Online.Com | FORUM - Kontroversi seputar pemberitaan kasus Sitok Srengenge tampaknya belum berhenti. Kali ini Kompas.com terpeleset, setelah sempat menurunkan judul berita yang dinilai melukai perasaan dan merendahkan korban RW. Berita tersebut berjudul “Besok, “TTM” Sitok Srengenge Akan Jalani Pemeriksaan”. Sesaat setelah berita tersebut tayang, Eko Hendrawan Sofyan sebagai editor berita, mendapat kecaman dan protes keras di berbagai media sosial. Eko pun langsung meminta maaf melalui twitter akun @ekolomoh. Pihak Kompas pun segera menyadari kesalahannya, dan mengganti judul berita, menjadi “Besok, Pelapor Sitok Srengenge Akan Jalani Pemeriksaan”. Ada pun, capture berita sebelum diubah judulnya, dapat dilihat pada http://chirpstory.com/li/176746

Selanjutnya, Eko sendiri sebagai editor berita tersebut, secara jantan mengakui kesalahannya. Dalam kicauannya di Twitter, Eko mengungkapkan:

Tidak ada maksud sy utk melukai siapapun, ini murni kekurangan pemahaman sy dalam menempatkan RW sbg korban.

Atas nama pribadi sy memohon maaf kepada mbak RW dan siapapun yg merasa terzolimi.

Jika tindakan sy dianggap sbg sebuah kejahatan, insya allah sy siap mempertanggungjawabkan atas kesalahan tersebut.

Setelah istikharah dan berdiskusi dng keluarga, sbg bentuk pertanggungjwbn, insya allah sy akan segera mengurus pengunduran diri sy.

Semoga kita, terutama sy, bisa memetik pelajaran berharga dr semua peristiwa yg ada. waalaikum salam.

Kicauan Eko yang tulus mengakui kesalahannya dan dengan segara minta maaf, dinilai tepat dan sangat simpatik. Namun tentang pengunduran diri tersebut, penulis menilai sebagai sesuatu yang tidak perlu. Sebagai sebuah kekeliruan, adalah hal yang wajar, sepanjang bukan sesuatu yang disengaja. Namun di sisi lain, hal itu menunjukkan kesungguhan Eko menyadari kesalahannya dan juga menunjukkan kesungguhan Eko untuk bertanggung jawab secara moral. Ini juga menunjukkan sebuah sudut pandang untuk lebih menghormati posisi korban (pelapor), setelah selama ini lebih didominasi dengan berita-berita dari sudut pandang terlapor.

Selama ini berita-berita dalam sudut pandang terlapor cenderung untuk mengarahkan kasus SS dan RW sebagai sebuah perbuatan “suka sama suka”, sehingga tidak perlu menjadi sebuah kasus hukum. Sementara itu, meskipun RW mendaftarkan laporannya ke polisi dengan tuduhan “perbuatan tidak menyenangkan”, banyak pihak yang bersimpati kepada pelapor, meyakini bahwa kasus yang terjadi adalah sebuah perkosaan atau pelecehan seksual.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Jakarta, Ratna Batara Munti menegaskan bahwa, hubungan antara RW dengan Sitok bukan hubungan suka sama suka. Kesimpulan LBH APIK itu berdasarkan keterangan pendamping korban  dan  informasi yang beredar di media, yang menyatakan komunikasi yang terjadi antara Sitok dengan korban RW pada awalnya disebabkan karena Sitok menjanjikan untuk memberikan bimbingan skripsi kepada korban.

Semoga dengan mundurnya Eko, dapat menjadi pembelajaran bagi media cetak maupun elektronik lainnya, untuk senantiasa mengabarkan berita secara faktual, objektif dan berimbang, tanpa adanya upaya penggiringan opini, yang berupaya mengalihkan isu kasus hukum yang terjadi. (Farid Wadjdi / Kompasiana)

Tas Pinggang Murah dan Fashionable : Rp 30.000,-*
Share this article :

Posting Komentar