Jumat, 11 Oktober 2013

Home » » FIRST IMPRESSION - Super Karimun Wagon R

FIRST IMPRESSION - Super Karimun Wagon R

Mobil ini diklaim memiliki kelegaan yang maksimal, berguna, memiliki sisi praktis yang tinggi, efisien, dan masuk akal
Mafaza-Online.Com | IPTEK - Suzuki menyematkan label ”Super” pada kendaraan roda empat hemat energi dan harga terjangkau (KBH2) mereka, Suzuki Karimun Wagon R. Apakah mobil ini layak disebut ”Super”? Mobil super memang identik dengan mobil bertenaga besar, mampu berlari kencang di atas 200 kilometer per jam, dan harganya supermahal.

Namun, makna tersebut sepertinya hendak diputarbalikkan oleh Suzuki Indomobil Sales (SIS) saat mengajak media melakukan uji kendaraan Suzuki Karimun Wagon R, baru-baru ini. Suzuki justru melabeli istilah super pada mobil KBH2 mereka, Suzuki Karimun Wagon R. Ini tentu kontradiksi dengan istilah mobil super yang dikenal oleh masyarakat saat ini. Jadi, apa istilah super tersebut? Super ternyata merupakan kepanjangan dari spacious, useful, practical, efficient, danre-asonable.


  


Mobil ini diklaim memiliki kelegaan yang maksimal, berguna, memiliki sisi praktis yang tinggi, efisien, dan masuk akal. ”Mobil murah memang sudah banyak dan ketat persaingannya. Karenanya, kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda sehingga tak hanya mengedepankan tampilan yang unik dan lain daripada yang lain, tapi juga secara fungsi sangat berguna. Itulah mobil super menurut Suzuki,” ujar Endro Nugroho, Direktur Penjualan 4W SIS.

Oke, sekarang mari diteliti satu per satu apakah istilah super versi Suzuki ini memang layak disandang oleh Suzuki Karimun Wagon R. Pertama, masalah spacious atau ruangan yang lega. Masalah ini sempat saya permasalahkan pada Davy Tuilan, Direktur Marketing 4W SIS. Penyebabnya, wheelbaseyang hanya mencapai 2.440 mm. Ini jauh lebih pendek dibandingkan Toyota Agya dan Daihatsu Ayla yang mencapai 2.450 mm. ”Kenapa bisa jadi lebih lega?” tanya saya.

Davy mengatakan, inilah mengapa Suzuki memilih Karimun Wagon R sebagai mobil KBH2 mereka. Sebab, dari segi desain yang berupa mini MPV, ruangannya jadi lebih terasa lega ketimbang kompetitor yang berada di segmen mini city car. 


  

”Headroom dan leg room jadi lebih lega karena desainnya adalah sebuah MPV,” kata Davy. 
Memang, saat saya pertama kali duduk di belakang kemudi, saya merasakan ruangan yang cukup lega.

Dengan tinggi 168 sentimeter dan rekan saya yang mencapai 175 sentimeter, ruangan kepala masih tersisa banyak. Bahkan teman jurnalis lain yang tingginya mencapai 185 sentimeter masih bisa duduk nyaman. Untuk duduk di baris kedua, saya hanya mencobanya seorang diri saat mobil berhenti. Memang masih sama nyamannya dengan baris depan. Namun, menurut saya, baris kedua ini sulit untuk mengakomodasi tiga orang penumpang dewasa.

Namun, itu akan berbeda jika tiga anak kecil yang ada di baris kedua. Sekarang masalah useful, alias kemampuan mengangkut barang. Saya cukup senang dengan bagasi mobil ini yang jaraknya 275 mm dari permukaan. Alhasil, setiap kali memasukkan barang saya tidak begitu kesusahan. Ruangannya memang tidak begitu besar, tapi cukup untuk membawa dua tas olahraga berukuran besar. Jika kursi baris kedua dilipat, daya tampungnya jadi lebih besar.


  


Hal yang kurang saya suka adalah pintu bagasi yang terbuka dengan tuas khusus di bagian bawah jok pengemudi. Kurang praktis menurut saya. Beralih ke masalah practicalatau fungsi praktis mobil seperti ruangan penyimpanan dan kompartemen khusus. Saya apresiatif dengan hal ini. Sebab, pengemudi mobil kecil memang sangat membutuhkan ruang khusus yang bisa menyimpan berbagai barang yang mereka butuhkan selama di jalan.

Sebagai mobil KBH2, tentu faktor yang paling penting adalah hemat energi. Saya tidak bisa menghitung konsumsi bahan bakar mobil ini dengan pasti. Hanya, sejak bergerak dari Hotel Grand Zuri, Serpong, Tangerang, lalu berlanjut ke Kampung 99 Pepohonan di kawasan Limo, Depok, kemudian ke Kemang Village, dan berakhir di Grand Central, Bulungan, Jakarta Selatan, informasi tangki bensin yang semula penuh masih tersisa lebih dari setengah dengan dua bar masih terlihat jelas.

Saya coba utak-atik informasi di bagian bawah spedometer, tapi tidak terlihat info konsumsi BBM. Hanya terlihat jarak yang sudah ditempuh mencapai 112 kilometer. Sekilas, dengan jarak tempuh seperti itu, mobil ini masuk dalam kategori efisien. Terakhir masalah reasonableatau masuk akal. SIS membanderol mobil ini untuk tipe GA Rp77 juta, GL Rp89 juta, dan tipe GX paling komplet dilepas dengan banderol Rp99 juta. Harga ini cukup menggoda.

  


Sebab, jujur saja, saya cukup enjoy mengendarai mobil ini. Memang masih sedikit kurang memuaskan di masalah stop n go. Berkali-kali jalur saya terpotong oleh mobil lain setiap kali berada di kemacetan. Namun, untuk kenyaman berkendara, saya rasa ini lebih dari cukup. Memindahkan transmisi tidak begitu sulit dan keras.

Sistem pendinginnya berfungsi maksimal. Posisi berkendara yang commandingjuga membuat saya percaya diri . Jadi, menurut saya, jika variabel ini yang ditetapkan Suzuki sebagai mobil super, sepertinya Suzuki Karimun Wagon R, layak menyandangnya. (wahyu sibarani/koranSindo)

  



Anda Berminat?
Hubungi: Sugi
021.94999780 / 082124245403



Share this article :

Posting Komentar