Rabu, 26 Juni 2013

Home » » Kontroversi biksu, Myanmar larang TIME

Kontroversi biksu, Myanmar larang TIME

Majalah TIME edisi 1 Juli menampilkan foto biksu Wirathu.
Wirathu sendiri menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang suka damai, meski di laporan TIME ia dikutip mengatakan "saatnya sekarang untuk bergerak dan membangkitkan amarah"


MafazaOnline | MYANMAR - Pemerintah Myanmar melarang majalah TIME edisi pekan ini yang menurunkan berita utama soal pendeta Buddha bernama Wirathu.

Televisi pemerintah mengumumkan bahwa keputusan ini diambil untuk mencegah munculnya kembalinya kerusuhan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) di negara tersebut.

"Kami melarang majalah TIME edisi 1 Juli untuk dicetak dan dijual (di Myanmar) agar tidak terjadi lagi kerusuhan ras dan agama. Kami juga melarang edisi tersebut dalam bentuk foto kopi," kata Ye Htut, juru bicara pemerintah kepada kantor berita AFP.

Komite khusus di Kementerian Dalam Negeri yang dibentuk untuk mengatasi kerusahan SARA bernuansa Agama, mengatakan laporan TIME bisa mengganggu upaya pemerintah mewujudkan rasa saling percaya di antara anggota komunitas Muslim dan Buddha.

Sampul TIME menampilkan foto Wirathu dengan judul berita "The Face of Buddhist Terror" atau Wajah Teror Buddha.

Desakan Boikot Muslim

Wirathu dikenal sebagai pemimpin gerakan biksu radikal yang mengatakan bahwa kelompok minoritas Muslim mengancam kemurnian ras dan keamanan nasional Myanmar.

Ia mendesak pembatasan perkawinan antara warga Muslim dan Buddha dan juga menyerukan boikot bisnis yang dijalankan orang-orang Islam.

Wirathu sendiri menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang suka damai, meski di laporan TIME ia dikutip mengatakan "saatnya sekarang untuk bergerak dan membangkitkan amarah".

Kantor Presiden mengatakan tulisan di majalah TIME mencoreng citra agama Buddha.

Hampir 250 orang tewas dan ribuan lainnya mengungsi, sebagian besar warga Muslim, akibat kerusuhan agama dalam setahun terakhir.

Dalam kerusuhan itu, warga Buddha memasuki desa-desa, membakar rumah dan masjid, menurut kantor berita Associated Press. (BBC)
Share this article :

Posting Komentar